Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 6.969,396
LQ45 677,179
Srikehati 334,465
JII 451,232
USD/IDR 17.370

Pertumbuhan Ekonomi Terlalu Tinggi Bahayakan Indonesia

Adhitya Himawan | Suara.com

Rabu, 30 Maret 2016 | 11:10 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Terlalu Tinggi Bahayakan Indonesia
Aktivitas bongkar muat barang eskpor impor melalui kapal kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (6/1). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Kepala Subdivisi Risiko dan Sistem Perbankan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Muhammad Doddy Arifianto menyambut baik penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) serta penurunan suku bunga kredit industri perbankan. Walaupun meyakini langkah ini akan menstimulus pertumbuhan ekonomi, namun ia mengingatkan jangan sampai pertumbuhan ekonomi terlalu tinggi karena akan berdampak negatif bagi Indonesia.

"Kalau pertumbuhan ekonomi nasional kita begitu tinggi, yang ada justru defisit neraca transaksi berjalan kita akan semakin membesar. Ini karena memang selama ini kebutuhan impor kita melebihi jumlah ekspor kita," kata Doddy saat dihubungi Suara.com, Rabu (30/3/2016).

Doddy menilai kondisi ini akibat struktur ekonomi Indonesia yang sangat kurang dalam membangun industri manufaktur dan industri turunan yang memberikan nilai tambah jauh lebih besar. Sebagai contoh, Indonesia terlambat membuat aturan yang mewajibkan industri tambang membangun smelter. “Kenapa? Karena selama ini hanya dengan digali dan ditambang, sudah dapat bahan mineral yang menghasilkan banyak ketika langsung diekspor. Ini yang membuat Indonesia sekian lama tergantung komoditi,” ujar Doddy.

Sementara kondisi harga komoditi di pasar dunia sedang terpuruk. Otomatis ini membuat usaha yang bergerak di sektor kelapa sawit, migas, dan minerba juga ikut terpuruk. “Otomatis ini membuat penerimaan negara dari eskport juga ikut merosot karena memang selama bertahun-tahun, ini yang menjadi andalan Indonesia,” tuturnya.

Pemerintah harus segera membuat masterplan pengembangan sektor ekonomi yang berbasis manufaktur dan menghasilkan nilai tambah. Ini penting agar nilai ekspor kita bisa melebihi nilai impor. “Jika tidak, pulihnya pertumbuhan ekonomi justru akan membuat posisi neraca transaksi berjalan kita dalam kondisi rawan,” tutup Doddy.

Bank Indonesia (BI) telah memperkirakan total defisit transaksi berjalan pada tahun 2015 mencapai 17,5 miliar Dolar Amerika Serikat (AS). Jika mengacu kepada pencapaian total defisit transaksi berjalan hingga akhir kuartal III-2015 sebesar US$ 12,4 miliar maka defisit transaksi berjalan kuartal IV-2015 sebesar 5,06 miliar Dolar AS atau paling tinggi secara kuartalan selama tahun lalu.

Namun, total defisit transaksi berjalan tahun lalu ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2014 yang minus 27,5 miliar Dolar AS atau menciut sekitar 36 persen. Nilai tersebut paling rendah dalam empat tahun terakhir. Transaksi berjalan tercatat positif terakhir kali pada tahun 2011 yaitu sebesar 1,68 miliar miliar Dolar AS. Adapun total defisit transaksi berjalan tahun 2015 sebesar 17,5 miliar Dolar AS itu setara dengan 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) tahun lalu yang diperkirakan Kementerian Keuangan sebesar Rp 11.357 triliun.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

15 Juta Penduduk Usia Produktif Belum Punya Rekening Bank

15 Juta Penduduk Usia Produktif Belum Punya Rekening Bank

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 07:29 WIB

Krisis Global? Tabungan Orang Kaya Semakin Gemuk

Krisis Global? Tabungan Orang Kaya Semakin Gemuk

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 20:35 WIB

Purbaya Pede Pertumbuhan Ekonomi 8% Tercapai 2-3 Tahun Lagi

Purbaya Pede Pertumbuhan Ekonomi 8% Tercapai 2-3 Tahun Lagi

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 14:39 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2026 Diproyeksikan Turun ke 5 Persen

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2026 Diproyeksikan Turun ke 5 Persen

Bisnis | Selasa, 21 April 2026 | 20:43 WIB

BPR Pembangunan Nagari Bangkrut, LPS Mulai Bayarkan Klaim Simpanan Nasabah

BPR Pembangunan Nagari Bangkrut, LPS Mulai Bayarkan Klaim Simpanan Nasabah

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 08:57 WIB

LPS Mulai Cairkan Dana Nasabah BPR Koperindo, Rp14,19 Miliar Dibayarkan Tahap Pertama

LPS Mulai Cairkan Dana Nasabah BPR Koperindo, Rp14,19 Miliar Dibayarkan Tahap Pertama

Bisnis | Kamis, 19 Maret 2026 | 07:48 WIB

LPS Siapkan 2 Skenario Penjamin Polis Asuransi

LPS Siapkan 2 Skenario Penjamin Polis Asuransi

Bisnis | Jum'at, 13 Maret 2026 | 09:09 WIB

Bank BPR Koperindo Dicabut Izinnya, LPS Siapkan Pembayaran Simpanan Nasabah hingga Juli 2026

Bank BPR Koperindo Dicabut Izinnya, LPS Siapkan Pembayaran Simpanan Nasabah hingga Juli 2026

Bisnis | Selasa, 10 Maret 2026 | 07:43 WIB

LPS Mulai Reorganisasi dan Persiapan Penjaminan Polis

LPS Mulai Reorganisasi dan Persiapan Penjaminan Polis

Bisnis | Jum'at, 06 Maret 2026 | 08:30 WIB

LPS Tuntaskan Likuidasi BPR Prima Master Bank, 88 Persen Rekening Nasabah Sudah Dibayarkan

LPS Tuntaskan Likuidasi BPR Prima Master Bank, 88 Persen Rekening Nasabah Sudah Dibayarkan

Bisnis | Rabu, 25 Februari 2026 | 07:36 WIB

Terkini

Suku Bunga Kredit Bank Resmi Turun ke 8,76 Persen, OJK Ungkap Proyeksinya

Suku Bunga Kredit Bank Resmi Turun ke 8,76 Persen, OJK Ungkap Proyeksinya

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 07:55 WIB

Saham Lagi 'Diskon' atau Jebakan? Cek Analisis IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini

Saham Lagi 'Diskon' atau Jebakan? Cek Analisis IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 07:41 WIB

Alasan Server Judi Online Mulai Bergeser dari Kamboja ke Indonesia

Alasan Server Judi Online Mulai Bergeser dari Kamboja ke Indonesia

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 07:25 WIB

Purbaya Terima Aduan 46 Ribu Masalah Ditjen Pajak dan Bea Cukai

Purbaya Terima Aduan 46 Ribu Masalah Ditjen Pajak dan Bea Cukai

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 19:31 WIB

Cerita Purbaya Ditekan Investor Asing Gegara Ragukan Kondisi Ekonomi RI

Cerita Purbaya Ditekan Investor Asing Gegara Ragukan Kondisi Ekonomi RI

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 19:14 WIB

Diproyeksi Masih Tertekan, Intip Ramalan Pergerakan IHSG Pekan Depan

Diproyeksi Masih Tertekan, Intip Ramalan Pergerakan IHSG Pekan Depan

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 18:58 WIB

Progres Pembangunan Pabrik Kimia Milik Chandra Asri Capai 66%

Progres Pembangunan Pabrik Kimia Milik Chandra Asri Capai 66%

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 18:48 WIB

Nilai Tukar Rupiah Bisa Terus Melorot ke Level Rp 17.500 di Pekan Depan

Nilai Tukar Rupiah Bisa Terus Melorot ke Level Rp 17.500 di Pekan Depan

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 18:36 WIB

UMKM Binaan Pertamina Raup Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

UMKM Binaan Pertamina Raup Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 17:31 WIB

Simulasi Pengajuan Cicilan KUR BRI Hingga Rp500 Juta untuk UMKM 2026

Simulasi Pengajuan Cicilan KUR BRI Hingga Rp500 Juta untuk UMKM 2026

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 17:26 WIB