Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.670.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 6.177,139
LQ45 609,402
Srikehati 299,172
JII 368,427
USD/IDR 17.821

Andalkan Peternakan Rakyat, Swasembada Sapi Mustahil Terwujud

Adhitya Himawan

Kamis, 20 April 2017 | 06:46 WIB
Andalkan Peternakan Rakyat, Swasembada Sapi Mustahil Terwujud
Pedagang daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (7/6). [suara.com/Oke Atmaja]

Mandiri secara ekonomi adalah bagian integral dari proyek politik yang hendak diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo.

Pada tataran program, swasembada daging sapi merupakan salah satu yang hendak dijadikan target pemerintahannya, yang realisasinya bisa dipatok dalam satu dekade ke depan.

Setahun silam, ketika melakukan kunjungan kerja ke sebuah perusahaan peternakan sapi di Cibodas, Bogor, Jawa Barat, Presiden Joko Widodo memprediksi Indonesia baru bisa berswasembada daging sapi dalam sepuluh tahun ke depan.

Jokowi tampaknya belajar dari pengalaman pemerintahan sebelumnya, yang terlalu ambisius menargetkan swasembada daging sapi pada 2005, kemudian direvisi menjadi 2010.

Namun, swasembada daging sapi yang dicanangkan itu tak pernah tercapai. Selalu saja laju kebutuan konsumsi daging sapi di dalam negeri lebih kencang dibandingkan laju produksi daging sapi.

Akibatnya impor pun tak terelakkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi itu. Tanpa didukung impor, harga daging sapi bisa melambung tinggi sehingga tak terjangkau bahkan oleh mereka yang berpenghasilan sedang, bukan kelompok warga miskin.

Apalagi di hari-hari besar seperti menjelang Idul Fitri dan Idul Adha, Natal dan Tahun Baru. Tampaknya swasembada daging sapi bukan perkara sepele. Kenapa? Untuk menjadi negara yang sanggup memenuhi kebutuhan dalam negeri dalam konsumsi daging sapi, negara itu perlu membangun sistem perternakan sapi berskala besar dan modern sebagaimana yang dilakukan negara yang maju sebagai pengekspor daging sapi.

Produksi daging sapi di Indonesia selama ini tak berasal dari sistem peternakan sapi berskala besar dan modern seperti Australia, namun dari perusahaan peternakan skala madya dan peternakan rakyat.

Ketika Dahlan Iskan menjabat Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, dia punya ambisi untuk membangun sistem peternakan sapi skala besar dan modern dengan ancang-ancang membuka lahan ribuan hektare di Kalimantan.

baca juga

Namun rencana itu tinggal impian sampai akhirnya periode kedua pememrintahan SBY berakhir dan digantikan oleh Jokowi.

Tampaknya Jokowi ingin merealisasikan impian untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi itu dengan mendayagunakan kemampuan anak bangsa dalam penyediaan bibit sapi potong dari tahapan paling hulu.

Pada tahap itu, diperlukan penyediaan sebanyak dua hingga tiga juta sperma beku dari sapi pejantan pilihan yang ketersediaannya harus dilakukan secara kontinyu.

Jutaan benih itu lalu didistribusikan ke industri peternakan dan peternak rakyat di seluruh nusantara.

Namun mata rantai untuk sampai bisa menghasilkan seekor sapi unggul dari senokta sperma beku masih perlu penanganan sistematis yang melibatkan kemampuan berbagai disiplin keilmuan.

Pakar biologi, ilmu kedokteran hewan, ahli gizi untuk memproduksi pakan yang bernutrisi namun memenuhi kelayakan ekonomis hingga dukungan teknologi canggih untuk pemeliharaan dan perawatan sangat dibutuhkan.

Manajemen dalam menghimpun peternakan rakyat dalam satu usaha kolektif komersial juga perlu diperkenalkan ke para peternak individual yang sesungguhnya tidak pernah memperoleh keuntungan memuaskan dari aktivitas memelihara sapi secara tradisional.

Peternakan sapi yang dilakukan secara tradisional oleh rakyat di berbagai daerah di Tanah Air juga sangat rentan dalam menanggulangi ancaman wabah antraks, penyakit mulut dan kuku yang sering menyerang hewan pemamah biak seperti sapi dan kerbau.

Persoalan klasik yang mengakibatkan sulitnya peternak sapi membesarkan volume usahanya adalah yang menyangkut modal usaha. Beternak sapi pada dasarnya bukan hanya perkara memperbesar jumlah sapi anakan tapi juga sarana pendukung seperti lingkungan dalam arti kandang yang memadai baik secara keluasan lahan maupun secara higienis.

Dengan hanya mengandalkan pola peternakan rakyat secara tradisional, swasembada daging sapi tak akan pernah terwujud. Pemerintah perlu membangun peternakan skala besar dan modern dengan menyediakan lahan yang khusus untuk peternakan sapi.

Sistem peternakan semacam itu sesungguhnya bisa dilakukan dengan berbagai skema pembiayaan, antara lain dengan mengajak negara-negara yang telah berhasil dalam mengembangkan usaha peternakan sapi seperti Australia untuk berinvestasi di Indonesia di bidang usaha peternakan sapi.

Untuk mempercepat target swasembada dalam pemenuhan konsumsi daging sapi, sebetulnya pemerintah perlu memasyarakatkan penganekaragaman dalam berkonsumsi daging dengan tidak hanya berfokus pada daging sapi semata, tapi juga daging kerbau.

Beberapa etnis di Tanah Air punya tradisi untuk mengonsumsi kerbau seperti masyarakat Tana Toraja dan sebagian masyarakat Betawi.

Jika perlu, kelaziman mengonsumsi daging kuda yang jadi budaya beberapa warga di Tanah Air bisa juga disosialisaikan ke komunitas lain yang lebih luas. Dengan demikian, ada keanekaragaman dalam penyediaan daging hewan pemamah biak.

Itu seperti imperatif tentang pentingnya menganekaragamkan bahan pangan yang tak hanya bergantung pada produksi padi tapi juga bahan pangan lain yang mengandung karbohidrat seperti jagung, ubi-ubian.

Problem utama dengan proyek politik yang berkaitan dengan kebijakan swasembada adalah terlalu kuatnya hasrat untuk memaksakan diri dalam mengejar target.

Ketika sebuah komoditas itu sangat bergantung pada faktor-faktor lain seperti kecocokan iklim dan kesuburan tanah, bagi negara yang orientasinya kemakmuran, kebijakan impor bukanlah tabu. Jika impor jauh lebih murah, pilihan paling realistis adalah mendatangkan komoditas itu dari luar negeri. Hong Kong adalah salah satu negara yang hamper semua kebutuhan pangannya diimpor dari negara lain karena memproduksi sendiri akan jauh lebih mahal biayanya.

Namun kelemahan yang dimiliki negara yang selalu bergantung pada impor adalah kemungkinan risiko yang dihadapinya ketika terjadi krisis komoditas impor itu sehingga harganya bisa meroket sewaktu-waktu. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

KPK Periksa Dirut PT Pertani dalam Kasus Dugaan Suap Hakim MK

KPK Periksa Dirut PT Pertani dalam Kasus Dugaan Suap Hakim MK

News | Kamis, 16 Maret 2017 | 02:09 WIB

Ada Indikasi Mafia Impor Daging Dalam UU Peternakan

Ada Indikasi Mafia Impor Daging Dalam UU Peternakan

Bisnis | Senin, 30 Januari 2017 | 08:50 WIB

TNI Dukung Program Jokowi Soal Tol Laut dan Swasembada Pangan

TNI Dukung Program Jokowi Soal Tol Laut dan Swasembada Pangan

Bisnis | Senin, 16 Januari 2017 | 13:12 WIB

DPR: Optimalkan Petani dan Peternak, Impor Daging Bisa Dihentikan

DPR: Optimalkan Petani dan Peternak, Impor Daging Bisa Dihentikan

Bisnis | Selasa, 10 Januari 2017 | 09:13 WIB

Rehabilitasi Irigasi untuk Capai Swassembada Pangan

Rehabilitasi Irigasi untuk Capai Swassembada Pangan

Bisnis | Minggu, 08 Januari 2017 | 07:06 WIB

Jokowi Prediksi Kompetisi antar Negara akan Rebutkan Pangan

Jokowi Prediksi Kompetisi antar Negara akan Rebutkan Pangan

Bisnis | Selasa, 01 November 2016 | 06:26 WIB

Presiden Jokowi: Benih Unggul Kunci Swasembada Pangan

Presiden Jokowi: Benih Unggul Kunci Swasembada Pangan

Bisnis | Selasa, 01 November 2016 | 06:20 WIB

Kementan Genjot Swasembada Pangan di Aceh

Kementan Genjot Swasembada Pangan di Aceh

Bisnis | Minggu, 25 September 2016 | 21:48 WIB

Pemerintah Targetkan Swasembada Sapi Sembilan Tahun Lagi

Pemerintah Targetkan Swasembada Sapi Sembilan Tahun Lagi

Bisnis | Senin, 12 September 2016 | 10:32 WIB

Izinkan Kementan Impor Jeroan, Ini Syarat Dari Kemendag

Izinkan Kementan Impor Jeroan, Ini Syarat Dari Kemendag

Bisnis | Kamis, 14 Juli 2016 | 17:40 WIB

Terkini

Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi

Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:05 WIB

Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa

Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05 WIB

Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli

Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:51 WIB

Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka

Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:20 WIB

Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru

Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:16 WIB

Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan

Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 12:25 WIB

Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit

Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 11:34 WIB

Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil

Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:39 WIB

Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik

Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:23 WIB

Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN

Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:27 WIB