"Provitas jagung di wilayah Sidoarjo bisa mencapai 10-12 ton per ha, sedangkan di wilayah lainnya, dengan sistem tumpangsari berkisar 7-9 ton per ha. Kami protes keras jika provitas jagung di Ponorogo hanya disebut 4-5 ton per ha. Itu nggak mungkin, bisa bangkrut petani," katanya.
Menurut dia, peningkatan produksi dan provitas jagung di Ponorogo tidak lepas dari bantuan Kementan, baik berupa benih, pupuk, alsintan dan bimbingan penyuluhan.
Pada 2018, Kementan telah memberikan bantuan 33 traktor roda dua, 21 unit traktor roda empat, 185 unit pompa air, 10 unit corn planter, 22 unitrice trans, 99 unit hand sprayer, 21 unit cultivator.
Sumarno, salah satu petani jagung di Ponorogo mengucapkan terimakasih kepada Perhutani dan Kementan atas penyediaan lahan serta bantuan sarana produksi pertanian, khususnya jagung, sehingga petani mendapatkan keuntungan yang lebih baik.
"Musim panen ini akan berlanjut sampai Maret. Saya prediksi, bulan depan harga akan turun, jadi Bulog kalau bisa beli jagung kami," ujarnya.