Komoditas Karet Pulau Bintan Kini Diekspor ke 5 Negara

Fabiola Febrinastri | Dian Kusumo Hapsari
Komoditas Karet Pulau Bintan Kini Diekspor ke 5 Negara
Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian menyerahkan Surat Kesehatan Tumbuhan atau Phytosanitary Certificate, PC kepada PT. PBD di Tanjung Pinang, Jumat (8/3/2019) (Dok : Kementan).

Tanaman karet kini dapat tumbuh subur dan berproduksi dengan baik.

Suara.com - Komoditas karet di Pulau Bintan kini jadi harapan. Produk ini menghasilkan devisa bagi pemerintah dan telah diekspor ke lima negara di dunia.

"Ini sejalan dengan instruksi presiden, yaitu untuk mendorong neraca perdagangan kita dengan menggencarkan ekspor non migas,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan), saat menyerahkan Surat Kesehatan Tumbuhan atau Phytosanitary Certificate, PC kepada PT. PBD di Tanjung Pinang, Riau, Jumat (8/3/2019).

Penyerahan PC, yang juga merupakan pelepasan karet ekspor berbentuk lempengan kali ini mencapai 1.048 ton, dengan nilai setara dengan Rp 19 miliar atau 1,3 ribu dolar AS. Ada 5 negara tujuan ekspor, yaitu Amerika Serikat, Korea, Kanada, Cina dan Italia. 

Bintan selama ini dikenal kaya mineral bauksit, yang membuat tanah menjadi kurang subur. Tetapi itu cerita lama. Pasalnya, tanaman karet kini dapat tumbuh subur dan berproduksi dengan baik, bahkan surplus sehingga dapat diekspor ke manca negara. 

"Ini terjadi atas kerja sama yang baik antara pemerintah pusat, daerah danpara petani, serta pelaku agribisnis. Tanaman karet dapat tumbuh dengan baik, hingga dapat bersanding sebagai komoditas unggulan ekspor bersama bauksit," ujar Ali.

Sementara itu, Kepala Karantina Pertanian Tanjung Pinang, Donny Muksydayan, menyampaikan, berdasarkan data Sistem Lalulintas Perkarantinaan di wilayahnya pada 2018, tercatat ekspor karet Hevea brasiliensis sebanyak 14,9 ton, yang setara dengan Rp 268,3 miliar. 

Ekspor ke Singapura
Bersamaan dengan pelepasan ekspor karet, dilakukan juga sertifikasi ekspor untuk komoditas pertanian lain. Komoditas itu adalah babi potong dari hasil peternakan PT. Indo Tirta Suaka di Pulau Bulan dengan tujuan ekspor ke Singapura sebanyak 2.505 ekor, atau setara dengan Rp 8 miliar. 

Donny mengatakan, pada 2018, ekspor babi asal Pulau Bulan tujuan Singapura berjumlah 270.832 ekor, dengan nilai ekonomi setara dengan Rp 866,7 miliar. Komoditas arang dengan tujuan Malaysia dengan nilai Rp 127 juta, dengan bobot 8.5 ton, juga dilakukan sertifikasinya pada hari yang sama. 

"Penguatan sistem karantina menjadi sangat penting. Hasil pemeriksaan melalui laboratorium yang terakreditasi dapat menjadi jaminan produk pertanian kita diterima di pasar global,” jelas Donny.

Sementara itu, Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap upaya pembangunan pertanian dari Kementerian Pertanian khususnya dalam peningkatan ekspor.

Nurdin juga menginstruksikan jajarannya, yakni dinas pertanian dan tanaman pangan dan dinas pariwisata untuk terus lakukan sinergi dengan Karantina Petanian dalam mendorong ekspor, agar petani di Kepulauan Riau semakin sejahtera.

"Pasar sudah tersedia, peluang terbuka lebar. Mari bersama, kita galakkan ekspor komoditas pertanian asal Pulau Bintan. Pemeriksaan, pengawasan dan juga bimbingan teknis memasuki pasar global, siap kami kawal,” kata Nurdin semangat.

Acara yang diselenggarakan di Wilayah Kerja Bandar Udara Haji Fii Sabillilah, Tanjung Pinang ini juga turut dihadiri oleh Bupati Bintan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Pariwisata, petani dan para pelaku usaha di bidang agribisnis. 

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS