Tiket Pesawat Mahal jadi Biang Kerok Inflasi di Ambon

Iwan Supriyatna | Achmad Fauzi
Tiket Pesawat Mahal jadi Biang Kerok Inflasi di Ambon
Ilustrasi tiket pesawat. [Shutterstock]

BPS mencatat inflasi tertinggi pada Maret 2019 terjadi di Kota Ambon sebesar 0,86 persen.

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tertinggi pada Maret 2019 terjadi di Kota Ambon sebesar 0,86 persen. Inflasi tersebut diakibatkan naiknya harga tiket pesawat yang diluar batas kewajaran.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, akibat dari naiknya harga tiket pesawat membuat harga-harga komoditas di Kota Ambon merangkak naik.

"Inflasi di Ambon penyebab utamanya tarif angkutan udara. Sedangkan, di Tual mengalami deflasi tertinggi karena penurunan harga komoditas," kata Suhariyanto, Senin (1/4/2019).

Pria yang akrab disapa Kecuk ini menambahkan, dilihat dari kelompok pengeluaran inflasi bulan Maret, terjadi karena kenaikan harga bawang putih, bawang merah dan tarif tiket pesawat.

"Komoditas ada andil inflasi, harga bawang merah alami peningkatan memberikan andil 0,06 persen, bawang putih memberikan 0,04 persen, cabai merah 0,01 persen. Sementara, tarif angkutan udara kenaikan yang tidak biasa dari Januari-Maret memberikan andil inflasi 0,03 persen," pungkas dia.

Diberitakan sebelumnya, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan, semakin tinggi penguasaan pasar oleh Lion Air Group dan Garuda Indonesia Group di industri transportasi penerbangan, maka kedua maskapai terbesar tersebut pun bisa bebas menentukan penjualan harga tiketnya.

Adapun tingkat penguasaan pasar industri transportasi penerbangan yang dikuasai oleh dua maskapai tersebut mencapai 96 persen.

"Saat menaikan dan menurunkan harga tiket, mereka bisa bersepakat. Diduga ada kartel antara keduanya," katanya di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Nailul menduga, pihak Lion dan Garuda bersepakat untuk bersama-sama menaikan harga tiket hingga mengorbankan masyarakat umum sebagai pengguna.

"Permasalahan utama ya dugaan kartel dua grup besar, Garuda Indonesia dan Lion Grup," tegasnya.

Senada dengan Indef, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga ikut bersuara terkait dengan mahalnya harga tiket pesawat domestik.

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi menuding adanya permainan kartel yang berupaya menaikan harga tiket pesawat. Maskapai dilibatkan untuk melakukan kesepakatan untuk menaikan harga tiket domestik.

Kendati demikian pihaknya masih menunggu penyelidikan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terkait dugaan kartel tarif tiket tersebut.

"Apakah kita tekan terus agar tarif pesawat turun semurah mungkin. Jadi tunggu saja hasil penyelidikan KPPU terkait dugaan kartel tarif," ujarnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS