Dam Parit Girimukti Buktikan Bisa Antisipasi Kemarau

Ade Indra Kusuma, Dian Kusumo Hapsari

Sabtu, 29 Juni 2019 | 18:15 WIB
Dam Parit Girimukti Buktikan Bisa Antisipasi Kemarau
Pelatihan Kapasitas Petugas dan Petani Dalam Adaptasi Perubahan Iklim Tingkat Usaha Tani (API-TUT) 2019 di Desa Girimukti. (Dok : Kementan).

Suara.com - Setelah 3 hari melakukan in class training, peserta Pelatihan Kapasitas Petugas dan Petani Dalam Adaptasi Perubahan Iklim Tingkat Usaha Tani (API-TUT) 2019 diajak kunjungan lapang ke dam parit di Desa Girimukti, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat.

Sebanyak 58 orang peserta yang datang dari 25 Kabupaten di 8 Provinsi terlihat antusias meskipun cuaca terik ketika tiba di Desa Cipongkor. Mereka melihat secara langsung dam parit dengan bantuan pemerintah senilai Rp 120 juta dan dibangun secara swakelola oleh masyarakat.

Ketua Poktan Trio Aren, Asep Heri menerima langsung rombongan dan menjelaskan proses pengajuan dam parit yang disetujui oleh Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) pada tahun 2018 silam.

“Dulu kami harus buat bendungan sementara dari bambu dan jerami. Tapi sering jebol. Sehingga atas desakan masyarakat, Poktan mengajukan proposal untuk memperoleh bantuan embung. Tapi ternyata setelah disurvei, lebih cocok dibuat dam parit," ujar Asep kunjungan lapang peserta Pelatihan Kapasitas Petugas dan Petani Dalam Adaptasi Perubahan Iklim Tingkat Usaha Tani (API-TUT) 2019 di Desa Girimukti, Kamis (27/6/2019). 

Untuk diketahui, dam parit dibangun dengan membendung sungai kecil atau parit alami. Dalam pengembangan dam parit, sungai yang dibendung memiliki debit minimal 5 liter per detik dan dengan luas lahan usaha tani yang dapat diairi minimal 25 ha.

Permasalahan seringkali timbul ketika menghadapi musim kemarau di Desa Girimukti, debit air yang seharusnya mengairi sawah di awal pertanaman justru tidak bisa mengalir karena kecil. 

“Kami sampai harus pakai bambu dan jerami untuk membendung sementara air agar bisa masuk ke jaringan irigasi. Tapi bendungan sementara itu juga jebol kalau hujan turun," cerita Ketua Poktan Trio Aren, Asep Heri. 

Asep menambahkan karena bosan terus menerus harus membuat bendungan sementara, sedangkan padi harus ditanam terus maka Poktan Trio Aren mengajukan untuk memperoleh bantuan infrastruktur air berupa dam parit.

Sejak tahun 2018, dam parit tersebut sudah bisa melayani 50 hektar sawah. Indeks pertanaman pun meningkat dari 2 kali menjadi 2,5 kali.

baca juga

“Sebelumnya, cuma 2 kali. Itu juga yang (musim) kedua, (produksi) susah payah. Kalau sekarang bisa 2,5 kali dan tidak susah payah," jelas Asep.

Dam parit tersebut tersambung dengan jaringan irigasi tersier sejauh 3 km untuk bisa mengairi sawah seluas 50 ha.

Dalam mengajukan infrastruktur air tersebut, Asep menuturkan dirinya mengajukan untuk pembuatan embung awalnya namun setelah survei ternyata lebih cocok untuk menggunakan tipe dam parit dengan memanfaatkan sungai yang melintas.

“Kita dapat bantuan Rp 120 juta dan kita bangun dengan swakelola dan gotong royong dengan masyarakat," ungkapnya. 

Dalam pengelolaan, perawatan dan pengaturan air, masyarakat juga dilakukan bersama-sama. "Kami mengangkat Kepala Sawah yang bertanggung jawab dalam mengatur dan inspeksi air," urainya.

Apalagi jika ada beberapa bagian sawah yang longsor atau rusak sehingga terjadi kebocoran air irigasi. "Kalau bocornya hanya sedikit, ya diperbaiki swadaya. Tapi disini lumayan sering longsor dan itu kita gotong royong," tuturnya.

Panen tengah dilakukan petani Cipongkor di akhir bulan Juni 2019 ini. Meskipun kemarau dan debit air sungai kecil, ternyata petani masih semangat bertanam untuk musim tanam ke 3 berkat adanya dam parit.

“Kurang lebih di Desa Girimukti ini ada sekitar 156 hektar untuk sawah disini. Irigasi teknisnya ada 112 hektar dan 44 hektarnya adalah tadah hujan. Dengan produktivitasnya sekitar 6,9 ton/hektar saat musim rendeng," beber Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Cipongkor, Solihin.

Kasubdit Iklim Konservasi Air dan Lingkungan Hidup, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Andi Halu menuturkan jika dam parit merupakan upaya antisipasi perubahan iklim terutama kemarau.

“Karena memang manfaat infrastruktur air seperti embung, dam parit maupun long storage baru terasa ketika kemarau datang," ujar Andi Halu.

Di Desa Girimukti ini, keberadaan dam parit mampu meningkatkan indeks pertanaman menjadi 2,5 dengan luas sawah yang terlayani adalah 50 hektar karena terhubung dengan jaringan irigasi tersier sepanjang 3 km.

Adanya kunjungan lapang ini diharapkan peserta Pelatihan Kapasitas Petugas dan Petani Dalam Adaptasi Perubahan Iklim Tingkat Usaha Tani (API-TUT) 2019 bisa mengaplikasikan manfaat dam parit maupun bangunan air lainnya sebagai bentuk antisipasi perubahan iklim terutama kemarau. 

Bangunan air seperti dam parit di Desa Girimukti ini memang sebagai bentuk antisipasi ketersediaan air selama musim kemarau. Sehingga meskipun debit air kecil, air masih bisa teralirkan ke sawah-sawah petani.

“Kita bangun untuk antisipasi kekeringan sehingga petani bisa menambah pertanaman dalam setahun, dari 1 kali Andi Halu.

Insfrastruktur air ini juga sangat berguna dalam pengelolaan air lahan kering maupun tadah hujan.

Berbeda dengan embung, dam parit dibangun dengan membendung sungai kecil atau parit alami. Untuk pengembangan dam parit, sungai yang dibendung memiliki debit minimal 5 liter per detik dan dengan luas lahan usaha tani yang dapat diairi minimal 25 ha.

Tak hanya itu, agar dampak dam parit bisa lebih besar maka pembangunannya bisa secara bertingkat dari hulu ke hilir dalam satu aliran Daerah Aliran Sungai (DAS) mikro. Model pengembangan dam parit bertingkat di DAS hulu sangat ideal untuk dikombinasikan dengan pengelolaan air dan sedimen di waduk atau embung besar.

Namun, Andi Halu memperingatkan agar pemeliharaan air sungai dan bangunan air tersebut harus dirawat. "Biar saat musim kemarau debit air tidak kecil tapi musim hujan air meluap, sebaiknya perawatan, pemeliharaan dan konservasi harus dilakukan dari hulu ke hilir," tuturnya.

Misalnya dengan pengerukan sedimen sungai yang sebaiknya dilakukan secara rutin sebelum musim penghujan datang. Kemudian perawatan rutin seperti membersihkan sampah yang menghalangi aliran air. Semuanya bisa dilakukan dengan komitmen bersama di desa setempat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Waspada Perubahan Iklim, Kementan Gelar Training Untuk Petani

Waspada Perubahan Iklim, Kementan Gelar Training Untuk Petani

Bisnis | Jum'at, 28 Juni 2019 | 08:20 WIB

Ditjen PSP Bahas Pengembangan Sumber Daya Pertanian untuk Trans Papua

Ditjen PSP Bahas Pengembangan Sumber Daya Pertanian untuk Trans Papua

Bisnis | Kamis, 27 Juni 2019 | 10:22 WIB

Selandia Baru Apresiasi Indonesia Cetak Generasi Muda Pertanian

Selandia Baru Apresiasi Indonesia Cetak Generasi Muda Pertanian

Bisnis | Rabu, 26 Juni 2019 | 07:59 WIB

Unik, Kementan dan FAO Siapkan 19 Orang untuk Jadi Detektif Penyakit Hewan

Unik, Kementan dan FAO Siapkan 19 Orang untuk Jadi Detektif Penyakit Hewan

Health | Selasa, 25 Juni 2019 | 22:01 WIB

Kementan Gelar Pelatihan Teknis Alsintan di Kudus

Kementan Gelar Pelatihan Teknis Alsintan di Kudus

Bisnis | Rabu, 26 Juni 2019 | 07:56 WIB

Seperti Padi, Kementan Upayakan Cabai dan Bawang Ditanggung Asuransi

Seperti Padi, Kementan Upayakan Cabai dan Bawang Ditanggung Asuransi

Bisnis | Rabu, 19 Juni 2019 | 08:00 WIB

Terkini

Pakar Geopolitik: Konser Andrea Bocelli di Borobudur Harus Jadi Pesan Perdamaian Dunia

Pakar Geopolitik: Konser Andrea Bocelli di Borobudur Harus Jadi Pesan Perdamaian Dunia

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:04 WIB

Kunci Sukses Indonesia di Mata Presiden Prabowo: Pendidikan dan Pemimpin Berhati Bersih

Kunci Sukses Indonesia di Mata Presiden Prabowo: Pendidikan dan Pemimpin Berhati Bersih

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Kronologi WNI Eks Sopir Taksi Jadi Tentara Bayaran Rusia, Baru 10 Hari Latihan Tewas di Ukraina

Kronologi WNI Eks Sopir Taksi Jadi Tentara Bayaran Rusia, Baru 10 Hari Latihan Tewas di Ukraina

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:00 WIB

DPW PPP Sebut Pemberhentian Agus-Yasin Tak Sah: Bakal Ditolak Menkum

DPW PPP Sebut Pemberhentian Agus-Yasin Tak Sah: Bakal Ditolak Menkum

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:58 WIB

3 Shio Ini Diramal Paling Beruntung di Bulan November 2026

3 Shio Ini Diramal Paling Beruntung di Bulan November 2026

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:55 WIB

Gudang Siluman hingga Masuk Gang Sempit: Siasat Licik Penjual Miras di Surabaya Dibongkar Satpol PP

Gudang Siluman hingga Masuk Gang Sempit: Siasat Licik Penjual Miras di Surabaya Dibongkar Satpol PP

Jatim | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:54 WIB

Langit Tangerang Semarak, Puluhan Layang-layang Hiasi Akhir Pekan Keluarga

Langit Tangerang Semarak, Puluhan Layang-layang Hiasi Akhir Pekan Keluarga

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:51 WIB

Madura United Curi Tiga Poin di Parepare, Penalti PSM Makassar Digagalkan Angga Saputro

Madura United Curi Tiga Poin di Parepare, Penalti PSM Makassar Digagalkan Angga Saputro

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:48 WIB

Bali United Bungkam Arema FC 3-1 di Kanjuruhan, Singo Edan Akhiri Laga dengan 9 Pemain

Bali United Bungkam Arema FC 3-1 di Kanjuruhan, Singo Edan Akhiri Laga dengan 9 Pemain

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:45 WIB

Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik

Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:40 WIB

×