Ada Kerusuhan, BPS Papua Tak Gelar Rilis Inflasi Agustus 2019

Iwan Supriyatna | Achmad Fauzi
Ada Kerusuhan, BPS Papua Tak Gelar Rilis Inflasi Agustus 2019
Petugas kepolisian berjaga saat berlangsungnya aksi unjuk rasa di Jayapura, Papua, Kamis (29/8). [ANTARA FOTO/Indrayadi TH]

Jayapura alami deflasi 0,14 persen dan Merauke juga alami deflasi 0,18 persen.

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) ikut terkena dampak terkait kerusuhan di Papua. Bahkan, BPS Papua tak melakukan rilis inflasi akibat kerusuhan tersebut.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, tak dirilisnya inflasi itu untuk berjaga-jaga dari kondisi kisruh di Papua. Kerusuhan tersebut juga membuat kantor BPS di Jayapura mengalami kerusakan.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di Jakarta. [Suara.com/Dian Kusumo Hapsari]
Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di Jakarta. [Suara.com/Dian Kusumo Hapsari]

"Teman-teman kita di BPS Papua tak bisa gabung, tetapi di BPS Papua Barat sudah bisa gabung. Kalau Kantor BPS oke, tapi kantor KPU yang berjejer dengan BPS, kerusakan beberapa kaca jendela pecah, dan mobil pecah," kata Suhariyanto di Kantor BPS Pusat, Jakarta, Senin (2/9/2019).

Meskipun tak rilis, pria yang akrab disapa Kecuk ini menuturkan angka inflasi atau deflasi di tanah Papua tetap masuk ke Pusat.

Dia mengungkapkan, Jayapura alami deflasi 0,14 persen dan Merauke juga alami deflasi 0,18 persen.

"Hal ini karena ada penurunan bahan makanan dan makanan jadi, serta penurunan tarif angkutan udara," tutur dia.

Kecuk pun berharap semua masyarakat bisa menjaga toleransi, sehingga kerusuhan di Papua cepat berhenti dan bisa menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Saya harap tetap waspada dan tidak terpancing dengan isu yang tidak bertanggung jawab dan saya harap tetap hormati keberagaman sesuai semboyan negara kita bhineka tunggal ika," pungkas dia.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS