Pesawatnya Retak, Garuda Indonesia Bakal Minta Kompensasi ke Boeing

Chandra Iswinarno, Achmad Fauzi

Rabu, 16 Oktober 2019 | 20:42 WIB
Pesawatnya Retak, Garuda Indonesia Bakal Minta Kompensasi ke Boeing
Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara dalam konferensi pers di Restoran Penang Bistro, Jakarta, Selasa (15/1/2019). [Suara.com/Achmad Fauzi]

Suara.com - Maskapai Garuda Indonesia tak hanya diam mendapatkan pesawatnya Boeing 737 New Generation (NG) alami retak. Maskapai nasional tersebut bahkan komplain ke Boeing Co sebagai produsen pesawat.

Bahkan, maskapai berpelat merah itu mempertimbangkan untuk meminta kompensasi kepada produsen pesawat asal Amerika Serikat tersebut.

"Itu (kompensasi) sedang kita pertimbangkan," kata Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra saat ditemui di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta pada Rabu (16/10/2019).

Menurutnya, kekinian satu pesawat yang alami retak tersebut sedang dikandangkan dan tak dioperasikan terlebih dahulu.

"Yang crack sudah kita grounded justru menunjukan Garuda manajemennya bagus karena bisa menemukan itu. Kita yakin sesuai dengan ininya," jelas dia.

Meski begitu, VP Corporate Communication Garuda Indonesia Iksan Rosan memastikan dengan pengandangan pesawat tersebut tak membuat operasional maskapai terganggu.

"Enggak (ganggu), kan cuma satu. Pesawat itu untuk domestik regional. NG itu kan versi lama," tambah dia.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan pemeriksaan terhadap pesawat Boeing 737 New Generation (NG). Pemeriksaan itu dilakukan terhadap pesawat jenis tersebut milik maskapai Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, dan Lion Air, serta Batik Air.

Pemeriksaan ini merupakan tindak lanjut implementasi DGCA Indonesia Airworthiness Directives (AD) nomor 19-10-003 dan FAA Airworthiness Directives Nomor 2019-20-02 terhadap pesawat Boeing B737NG (Boeing 737 New Generation) perihal Unsafe Condition dimana AD dipicu laporan retak yang ditemukan pada frame fitting outboard chords and failsafe straps adjacent to the stringer S-18A straps yang dapat mengakibatkan kegagalan Principal Structural Element (PSE) untuk mempertahankan batas beban.

baca juga

Kondisi ini dapat mempengaruhi integritas struktural pesawat dan mengakibatkan hilangnya kontrol pesawat.

Hasilnya, terdapat retak pada salah satu dari 3 pesawat Boeing 737 NG milik Garuda Indonesia yang berumur melebihi 30.000 FCN dan terdapat crack pada dua pesawat Boeing 737 NG milik Sriwijaya Air dari 5 pesawat yang berumur lebih dari 30.000 FCN.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Temuan Baru! 3 Pesawat Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air Retak

Temuan Baru! 3 Pesawat Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air Retak

Bisnis | Selasa, 15 Oktober 2019 | 11:39 WIB

Garuda Indonesia Hadirkan Boarding Pass dengan Benefit Tambahan

Garuda Indonesia Hadirkan Boarding Pass dengan Benefit Tambahan

Your Say | Jum'at, 04 Oktober 2019 | 17:00 WIB

18 Pesawat Sriwijaya Air Tak Laik Terbang

18 Pesawat Sriwijaya Air Tak Laik Terbang

Bisnis | Kamis, 03 Oktober 2019 | 14:21 WIB

Rujuk, Bos Garuda Minta Citilink Cabut Gugatan untuk Sriwijaya Air

Rujuk, Bos Garuda Minta Citilink Cabut Gugatan untuk Sriwijaya Air

Bisnis | Kamis, 03 Oktober 2019 | 14:05 WIB

Terkini

Ketika Tujuh Nyawa Mengubah Arah Indonesia: 5 Fakta Tragedi G30S

Ketika Tujuh Nyawa Mengubah Arah Indonesia: 5 Fakta Tragedi G30S

Jatim | Rabu, 30 September 2026 | 10:11 WIB

Cabai Merah Keriting dan Rawit Merah Kompak Naik, Harganya Masih di Atas Rp100 Ribu/kg

Cabai Merah Keriting dan Rawit Merah Kompak Naik, Harganya Masih di Atas Rp100 Ribu/kg

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 10:06 WIB

Bujet Rp5 Juta? Ini 5 Motor Bekas Paling Worth It untuk Harian

Bujet Rp5 Juta? Ini 5 Motor Bekas Paling Worth It untuk Harian

Otomotif | Rabu, 30 September 2026 | 10:05 WIB

Pembangunan Pabrik CA-EDC Chandra Asri Group Buka Peluang Ekonomi Bagi UMKM Lokal

Pembangunan Pabrik CA-EDC Chandra Asri Group Buka Peluang Ekonomi Bagi UMKM Lokal

Banten | Rabu, 30 September 2026 | 10:05 WIB

Masih Dianggap Tabu, Padahal Marital Rape Diatur dalam Hukum Indonesia

Masih Dianggap Tabu, Padahal Marital Rape Diatur dalam Hukum Indonesia

Your Say | Rabu, 30 September 2026 | 10:05 WIB

7 Cara Ampuh Menghilangkan Bau di Toilet agar Tetap Bersih dan Wangi

7 Cara Ampuh Menghilangkan Bau di Toilet agar Tetap Bersih dan Wangi

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 09:59 WIB

Konflik Keluarga Berujung Kebakaran, Dua Rumah di Cianjur Ludes

Konflik Keluarga Berujung Kebakaran, Dua Rumah di Cianjur Ludes

Jabar | Rabu, 30 September 2026 | 09:57 WIB

Tahan Beli, Harga Emas Antam Mulai Naik Jadi Rp2.595.000/Gram

Tahan Beli, Harga Emas Antam Mulai Naik Jadi Rp2.595.000/Gram

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 09:56 WIB

Diduga Aniaya 8 Siswa, Eks Kepsek SMPN 18 Malang Tidak Dapat Bantuan Hukum dari Pemkot

Diduga Aniaya 8 Siswa, Eks Kepsek SMPN 18 Malang Tidak Dapat Bantuan Hukum dari Pemkot

Malang | Rabu, 30 September 2026 | 09:52 WIB

Pengaturan Bunga Pindar Dinilai Pakar Tak Otomatis Bisa Disebut Kartel

Pengaturan Bunga Pindar Dinilai Pakar Tak Otomatis Bisa Disebut Kartel

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 09:52 WIB

×