Kisah Bukit Peramun, Selamatkan Belitung dari Ancaman Krisis Air

Ririn Indriani, Pebriansyah Ariefana

Minggu, 10 November 2019 | 08:49 WIB
Kisah Bukit Peramun, Selamatkan Belitung dari Ancaman Krisis Air
Destinasi wisata alam Bukit Peramun, Belitung. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Suara.com - Adong masih ingat betul sulitnya mengajak warga Desa Bukit Peramun di Belitung, Bangka Belitung untuk membangun kampung halaman menjadi eco wisata.

Sebagian besar mata pencarian warga Belitung penambang timah, yang dianggap menjanjikan, namun merusak lingkungan.

Sementara Adie Darmawan, nama asli Adong, ingin membangun desanya selepas lulus kuliah dari Jakarta.

Dalam pikirannya, Adong ingin melestarikan hutan Bukit Peramun, dan menjadi ladang mata pencarian untuk warga sekitar.

"Kami konsentrasi ke jasa wisata. Kami hidup di kampung, kami nggak tahu harga itu. Kami dapat emas untuk ganjal pintu," kata Adong di Desa Bukit Peramun, Sabtu (9/11/2019).

"Ada hutan yang harus dilestarikan. Untuk masa depan anak cucu," lanjut dia.

Adie Darmawan alias Adong, pengelola Bukit Peramun, Belitung. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)
Adie Darmawan alias Adong, pengelola Bukit Peramun, Belitung. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Hutan Bukit Peramun ini masuk dalam kawasan hutan konservasi yang harus dilindungi.

Singkat cerita, Adong pun mengajukan pengelolaan hutan itu berbasis kemasyarakatan. Dia mendapatkan izin mengelola 150 hektar kawasan hutan.

"Kami diberikan pilihan. Mengelola jasa air, flora fauna dan jasa wisata, serta penyerapan karbon. Untuk saat ini kami bisa lakukan untuk jasa wisata," kata dia.

baca juga

Mulai dari 2006, Adong mengajak puluhan masyarakat desa, jumlahnya terus menyusut hingga saat ini hanya 26 orang warga desa yang mengurus wisata tersebut. Alasan puluhan orang itu mundur, sederhana.

"Karena daerah ini jasa tambang, maka mindset mereka tambang. Kami berpikir berbeda, di masa datang pulau ini akan kekurangan air bersih jika terus ditambang. Padahal ada 12 sumber mata air," katanya.

Bukit Peramun, Belitung. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)
Bukit Peramun, Belitung. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Januari 2017 hari yang ditunggu Adong dan teman-temannya. Wisata hutan Bukit Peramun dibuka.

Dengan dibantu pihak swasta, wisata Bukit Peramun berkembang. BCA salah satu perusahaan yang membantu Adong yang juga pendiri Komunitas Arsel. Bantuan itu tidak selalu dalam bentuk dana, Komunitas Arsel mendapat pelatihan manajemen pengelolaan usaha wisata.

Bukit Peramun di Belitung, Bangka Belitung menjadi salah satu desa paling modern di Indonesia. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)
Bukit Peramun di Belitung, Bangka Belitung menjadi salah satu desa paling modern di Indonesia. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)

"Kami masih belajar soal komunitas ini. Untuk mengubah pola pikir kami, kami harus berjuang. Kami pikir kalau nggak mengubah diri , maka pulau akan tenggelam. Akhirnya kami mengerti, daerah ini bisa dibangun untuk masa depan," kata dia.

Destinasi wisata Bukit Peramun, Belitung. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)
Destinasi wisata Bukit Peramun, Belitung. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Komunitas Arsel menyediakan 4 paket wisata ecotourism. Pertama, paket wisata jalan susuri hutan dengan jarak 500 meter. Paket ini dibanderol dengan harga Rp 100 ribu per orang.

Paket kedua jelajah hutan dengan waktu tempuh 3 jam. Penjelajah akan menemukan 12 spot titik khas hutan Bukit Peramun. Di antaranya kayu berusia ratusan tahun.

"Pengunjung bisa masuk ke dalam akar pohon itu," kata Adong.

Paket itu dibanderol Rp 160 ribu per orang. Paket ini sudah termasuk makan siang dan coffee break.

Ada pula paket sekolah alam yang membanderol harga Rp 85 ribu. Paket ini untuk anak-anak dengan mendapatkan makan siang.

Destinasi wisata Bukit Peramun, Belitung. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)
Destinasi wisata Bukit Peramun, Belitung. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Terakhir paket menyaksikan hewan langka jenis primata tarsius. Tarsius adalah primata dari genus Tarsius, suatu genus monotipe dari famili Tarsiidae, satu-satunya famili yang bertahan dari ordo Tarsiiformes.

Meskipun grup ini dahulu kala memiliki penyebaran yang luas, akan tetapi semua spesies yang hidup sekarang jumlahnya terbatas dan ditemukan di pulau-pulau di Asia Tenggara.

Tarsius tidak pernah sukses membentuk koloni pembiakan dalam kurungan, dan bila dikurung, tarsius diketahui melukai dan bahkan membunuh dirinya, karena stres. Pada tahun 2008 dideskripsikan tarsius Siau yang dianggap bestatus kritis dan terdaftar dalam 25 primata paling terancam oleh
Conservation International dan IUCN/SCC Primate Specialist Group tahun 2008.

"Pengamatan tarsius di malam hari. Tapi ini kita batasi, hanya 2 orang sampai 5 orang dalam 1 kali pengamatan selama 10 menit," kata Adong.

Tarsius, hewan langka jenis primata yang ada di Bukit Peramun. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)
Tarsius, hewan langka jenis primata yang ada di Bukit Peramun. (Suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Bukit Peramun berasal dari banyaknya tanaman lokal yang sering diramu oleh masyarakat menjadi obat-obatan. Desa ini terletak pada ketinggian 129 mdpl di wilayah Belitung Barat. Kekayaan flora dan fauna, dikembangkan dalam berbagai lokasi spot foto antara lain berupa rumah hobbit, jembatan merah, batu kembar dan mobil terbang.

Sepanjang 2017, Adong dan Komunitas Arsel menyedot 28 ribu pengunjung ke Bukit Peramun. Namun pengelolaan belum maksimal. Dua tahun berikutnya pengunjung terus turin sampai 10 persen.

"Tahun ini diperkirakan jauh berkurang sampai 20 ribu. Ada maintenen, karena kami kurangi paket," kata dia.

Dengan mengurangi paket wisata, sampah di Bukit Peramun berkurang. Kelestarian tarsius pun terjaga. Paket melihat tarsius dikurangi 3 kali dalam sepekan.

"Mengelola wisata tidak seperti telenovela. Wisatawan tidak mau tahu, mereka mau fasilitas harus ada. Kami ingin bukit penyamu ini ingin bisa hidup," kata Adong.

Baru-baru ini Desa Peramun berhasil menghantarkan Desa Bukit Peramun Belitung menorehkan prestasi di ajang ISTA – Indonesian Sustainable Tourism Awards 2019 beberapa waktu lalu. Pada ajang tersebut, Bukit Peramun berhasil meraih penghargaan sebagai pemenang Green Gold kategori Pelestarian
Lingkungan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Inovasi Bukit Peramun Belitung, Desa Digital di Tengah Hutan

Inovasi Bukit Peramun Belitung, Desa Digital di Tengah Hutan

Bisnis | Sabtu, 09 November 2019 | 23:31 WIB

Ini Awal Mula Danau Kaolin Belitung Menampakkan Keindahannya

Ini Awal Mula Danau Kaolin Belitung Menampakkan Keindahannya

Lifestyle | Senin, 03 Desember 2018 | 17:00 WIB

Ini Sebab Tempat Wisata Belitung Tak Punya Angkot

Ini Sebab Tempat Wisata Belitung Tak Punya Angkot

News | Rabu, 03 Mei 2017 | 00:38 WIB

Terkini

Minifootball Asia Bergulir di Jakarta, 10 Negara Bersaing jadi yang Terbaik

Minifootball Asia Bergulir di Jakarta, 10 Negara Bersaing jadi yang Terbaik

Bola | Senin, 14 September 2026 | 00:29 WIB

Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit

Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit

Sumsel | Minggu, 13 September 2026 | 23:10 WIB

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Banten | Minggu, 13 September 2026 | 21:43 WIB

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

News | Minggu, 13 September 2026 | 21:20 WIB

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

Sport | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 21:00 WIB

Cara Pesan Tiket Liga Indonesia Seharga Rp1 Lewat BRImo

Cara Pesan Tiket Liga Indonesia Seharga Rp1 Lewat BRImo

Bri | Minggu, 13 September 2026 | 20:41 WIB

eK Cross EV: Mobil Listrik Murah Mitsubishi yang Harganya Mirip Wuling Air EV, Jarak Tempuh?

eK Cross EV: Mobil Listrik Murah Mitsubishi yang Harganya Mirip Wuling Air EV, Jarak Tempuh?

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 20:39 WIB

×