alexametrics

Peran Kartini di Mata Sri Mulyani

Iwan Supriyatna | Mohammad Fadil Djailani
Peran Kartini di Mata Sri Mulyani
Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meninggalkan Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa (22/10).[ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari]

Setiap 21 April selalu diperingati sebagai Hari Kartini untuk memperingati Raden Adjeng Kartini sebagai pelopor kebangkitan perempuan Pribumi-Nusantara.

Suara.com - Setiap 21 April selalu diperingati sebagai Hari Kartini untuk memperingati Raden Adjeng Kartini sebagai pelopor kebangkitan perempuan Pribumi-Nusantara.

Tanggal tersebut dipilih lantaran hari lahir Kartini di Jepara, Jawa Tengah tepat pada 21 April 1879.

Banyak kaum perempuan tanah air yang mengidolakan sosok Kartini sebagai salah satu tokoh pahlawan yang harus ditiru sikap dan cara berpikirnya.

Salah satunya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dia mengatakan sosok Kartini adalah seseorang yang selalu dia ingat sebagai pejuang keseteraan gender antar kaum laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan hak yang sama.

Baca Juga: Cicit Kartini Hidup Miskin di Bogor, Ditinggal Bunuh Diri Hingga Meninggal

"Beliaulah yang terus memperjuangkan betapa pentingnya memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan," kata Sri Mulyani dalam acara webinar nasional bertajuk' Ekonomi dan Keuangan Syariah' Rabu (21/4/2021).

Menurut dia peranan perempuan menjadi suatu hal yang sangat penting dalam keluarga, sehingga pendidikan menjadi salah satu syarat agar perempuan bisa mendidik keluarga ke arah yang baik.

"Karena peranan perempuan yang begitu nyata dan penting di dalam mendidik keluarganya dan bahkan membangun peradaban yang berkeadilan," katanya.

Di dalam ajaran agama islam, lanjut Sri Mulyani kesetaraan antara laki-laki dan perempuan juga disuarakan lewat amalan di dunia.

"Karena di mata Allah SWT amalan laki-laki dan perempuan adalah sama," katanya.

Baca Juga: Anies Utang Janji Kasih Bantuan ke Cicit Kartini, Tapi Belum Ditepati

Tak hanya itu, kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, istri Nabi Muhammad SAW yakni Siti Khadijah juga sudah menunjukkan peradaban perempuan kala itu dengan memiliki aset dan usaha sendiri dan memperkerjakan banyak pegawai.

"Tentu dengan masa itu sesuatu yang luar biasa, bahwa perempuan bisa memiliki perusahaan, bahkan menyewa dan memperkerjakan banyak orang," pungkasnya.

Komentar