alexametrics

Puluhan Ribu Warteg Tutup Gara-gara Makan Hanya Diberi Waktu 20 Menit

Iwan Supriyatna | Achmad Fauzi
Puluhan Ribu Warteg Tutup Gara-gara Makan Hanya Diberi Waktu 20 Menit
Meme makan di warteg 20 menit

Kondisi usaha warung tegal atau warteg sangat mengkhawatirkan.

Suara.com - Ketua Umum Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara) Mukroni mengungkapkan kondisi usaha warung tegal atau warteg yang sangat mengkhawatirkan. Terlebih, adanya aturan PPKM Level 4 dimana masyarakat yang melakukan makan di tempat hanya diperbolehkan selama 20 menit.

Menurutnya, banyak pemilik dan karyawan warteg yang memilih untuk pulang ke kampung halaman dibanding untuk kembali berjualan.

Untuk diketahui, warung makan seperti warteg pada masa PPKM Darurat masih tetap boleh dibuka, tetapi tidak boleh untuk makan ditempat melainkan makanan dibawa pulang.

"Iya malah pulang kampung sekalian lebaran. Sekarang ini sengaja pulang kampung karena ini kan kantor deket pemda, deket kementerian dan tahu WFO 25 persen dan shift-shift, dan banyak bawa makanan dari rumah, jadi mending pulang kampung sambil refreshing," ujar Mukroni saat dihubungi, Rabu (28/7/2021).

Baca Juga: Aturan Makan di Tempat 20 Menit Tuai Kritik, Meme Piring Dilengkapi Timer Bikin Salfok

Ia menghitung, sekitar 50 persen dari total 50 ribu warteg di Jabodetabek tutup, sehingga hanya 25 ribu warteg yang mampu bertahan di masa PPKM Level 4 ini.

Perhitungan ini, jelas Mukroni, diambilnya dengan melihat perkampungan di Tegal dan Brebes yang mulai kembali ramai, setelah pemiliki dan pekerja ramai-ramai pulang kampung.

"Kemarin saya menghitung sekitar 50 persen, itungannya gini ketika normal sebelum pandemi itu banyak rumah yang kosong karena urbanisasi dari tegal dan brebes. Nah sekarang ini hampir 50 persen penuh rumah-rumah itu, artinya kan banyak pindah dari jakarta ke kampung, kasaran kita 50 ribu di Jabodetabek, 25 ribu yang tutup," ucap dia.

Mukroni menambahkan, kondisi PPKM Darurat ini merupakan kondisi yang paling parah dibandingkan dengan masa PSBB sebelumnya, karena banyak pembatasan yang membuat ruang usaha juga ikut terbatas.

"Terutama kalau siang itu hampir 5 juta orang di Jakarta, tapi ada pembatasan, ini kan jelas, ini lebih buruk dibanding PSBB," pungkas dia.

Baca Juga: Perbolehkan Mahasiswa Makan di Warung Burjo, Satpol PP Jogja Batasi Waktu 20 Menit

Komentar