alexametrics

Sri Mulyani Soroti Gagal Bayarnya Raksasa Properti China Evergrande

Iwan Supriyatna | Mohammad Fadil Djailani
Sri Mulyani Soroti Gagal Bayarnya Raksasa Properti China Evergrande
Menteri Keuangan Sri Mulyani. [ANTARA FOTO/Wahyu Putro]

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ikut menyoroti berita gagal bayarnya perusahaan properti raksasa asal China, Evergrande.

Suara.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ikut menyoroti berita gagal bayarnya perusahaan properti raksasa asal China, Evergrande.

Menurut dia perkembangan potensi default ini mesti diwaspadai kara bisa berdampak terhadap kondisi perekonomian global.

Hal tersebut dikatakan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN Kita secara virtual, Kamis (23/9/2021).

"Isu stabilitas sektor keuangan terutama di China menjadi perhatian, yaitu terjadinya gagal bayar dari satu perusahaan konstruksi real estate yang sangat besar, yaitu Evergrande," kata Sri Mulyani.

Baca Juga: Bisnis Properti Masih Menggeliat, Jogja Bagian Barat Jadi Incaran Pengembang

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan saat ini kondisi ekonomi global belum seutuhnya bangkit dari pandemi virus Covid-19.

"Dari sisi downrisk-nya sebetulnya belum membaik, varian delta mutasi virusnya masih akan terjadi, pemulihan ekonomi tidak merata, inflasi di berbagai negara menimbulkan komplikasi," katanya.

Dia menjabarkan bahwa Evergrande merupakan perusahaan kontruksi kedua terbesar di China. Kini korporasi itu dirundung utang di atas US$300 miliar.

"Dia mengalami situasi yang sangat tidak mudah dan akan memberikan dampak baik terhadap ekonomi domestik maupun global," ujarnya.

Sebagai informasi, saat ini investor dunia sedang dipusingkan dengan gagal bayar atau default Evergrande. Evergrande adalah raksasa perusahaan real estat China yang paling terbebani utang saat ini.

Baca Juga: Kepala Bank Sentral Amerika: Masalah Evergrande Tidak Berdampak Pada Ekonomi Global

Perusahaan memiliki tagihan, pinjaman, dan pembayaran obligasi yang belum dibayar senilai US$300 miliar atau Rp4.290 triliun, dengan kurs Rp14.300/ dolar AS.

Komentar