alexametrics

Teknologi Pracetak untuk Rumah Sederhana Tahan Gempa

Fabiola Febrinastri | Restu Fadilah
Teknologi Pracetak untuk Rumah Sederhana Tahan Gempa
Dok: Kementerian PUPR

Penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,54 juta.

Suara.com - Indonesia memiliki permasalahan yang masih cukup kompleks dan masih terjadi hingga saat ini. Permasalahan kondisi perekonomian nasional, tingkat kejadian bencana gempa bumi yang tinggi, dan pemenuhan kebutuhan rumah yang layak huni masih menjadi tantangan dalam pembangunan infrastruktur nasional.

Persentase penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2021 yakni 10,14% atau 27,54 juta penduduk dan tersebar baik di perkotaan maupun perdesaan (BPS, 2021). Selain itu, nilai defisit APBN 2021 pada kisaran 5,7% PDB dan target pertumbuhan ekonomi nasional 5% (Kemenkeu, 2021).

Indonesia merupakan daerah rawan bencana gempa bumi karena dilalui oleh jalur pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik (BMKG, 2021). Pengalaman bencana gempa yang terjadi didominasi oleh gagalnya bangunan saat menahan beban gempa kuat sehingga kerusakan bukan diakibatkan oleh gempa namun oleh bangunan yang tidak tahan gempa. Pembaruan Peta Bahaya dan Sumber Gempa Bumi Indonesia sudah dilakukan dan terwadahi dalam SNI 1726:2019. Standar ini harus dijadikan dasar dalam perencanaan bangunan tahan gempa untuk gedung dan non gedung.

Rumah merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat dan pada saat ini kebutuhan perumahan di Indonesia masih sangat tinggi. Angka backlog kepemilikan rumah ini mencapai 11,4 juta rumah. Program Sejuta Rumah merupakan salah satu program yang diterapkan oleh Kementerian PUPR dalam pemenuhan kebutuhan rumah untuk mengurangi angka backlog perumahan. Sebagai solusi dalam percepatan pemenuhan kebutuhan perumahan yaitu dengan pengembangan dan penerapan inovasi teknologi pracetak untuk rumah sederhana tahan gempa.

Baca Juga: Demi Tingkatkan Layanan Jalan Tol, Kementerian PUPR Lakukan Penilaian Berkelanjutan 2021

Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PUPR yang sebelumnya merupakan Puslitbang Perumahan dan Permukiman telah menghasilkan beberapa teknologi rumah pracetak untuk rumah sederhana tahan gempa, meliputi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA), Bangunan Rangka Interlock Konstruksi Beton (BRIKON), dan Rumah Sistem Panel Instan (RUSPIN).

Dok: Kementerian PUPR
Dok: Kementerian PUPR

RISHA adalah teknologi rumah layak huni dan terjangkau dengan sistem knock-down, dibangun secara bertahap, terdiri dari tiga panel, disambung secara mekanis, dan terbit pada 2004. BRIKON merupakan sistem struktur pracetak rangka bangunan, terdiri dari dua komponen, disambung secara kering dan basah, dan terbit pada 2013. RUSPIN adalah teknologi rangka rumah pracetak, pengembangan dari teknologi RISHA, terdiri dari dua komponen, disambung secara mekanis, dan terbit pada 2014.

Dok: Kementerian PUPR
Dok: Kementerian PUPR

Keunggulan dari teknologi struktur pracetak tersebut, meliputi cepat bangun, biaya terjangkau, ramah lingkungan, dapat dipindahkan (knock-down), dapat diterapkan pada variasi jenis bangunan, dapat menggunakan bahan bangunan lokal, komponen ringan, variasi modul dalam keleluasaan desain, efisien dalam konsumsi bahan bangunan, kualitas lebih terjamin, penggunaan praktis, dan sudah teruji kehandalannya terhadap gempa.

Teknologi-teknologi tersebut telah banyak diterapkan dalam berbagai program pembangunan perumahan di Indonesia, terutama pada program rumah sederhana layak huni, program percepatan pembangunan perumahan, dan program rehabilitasi dan rekonstruksi pembangunan paska bencana alam (gempa, longsor, dan bencana lainnya). Sehingga diharapkan teknologi tersebut dapat sebagai solusi dalam percepatan pembangunan perumahan khususnya rumah sederhana tahan gempa di Indonesia.

Dany Cahyadi, S.T., M.T.
Harits Salman Ambo, S.T.
(Subdirektorat Teknologi dan Peralatan Infrastruktur Cipta Karya – Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan)

Baca Juga: Pengurangan Emisi Karbon Lewat Infrastruktur Hijau

Komentar