facebook

Harga Minyak Dunia Berangsur Turun Setelah Sempat Menyentuh 90 Dolar AS Per Barel

Iwan Supriyatna | Mohammad Fadil Djailani
Harga Minyak Dunia Berangsur Turun Setelah Sempat Menyentuh 90 Dolar AS Per Barel
Ilustrasi harga minyak dunia. [Shutterstock]

Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Kamis, setelah Brent mencapai level tertinggi tujuh tahun di atas USD90 per barel.

Suara.com - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Kamis, setelah Brent mencapai level tertinggi tujuh tahun di atas USD90 per barel.

Turunnya harga minyak ini karena kekhawatiran pasar tentang ketatnya pasokan di seluruh dunia diimbangi dengan kebijakan Federal Reserve yang akan segera memperketat kebijakan moneter.

Mengutip CNBC, Jumat (28/1/2022) harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup turun 62 sen menjadi USD89,34 per barel.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, menyusut 74 sen menjadi USD86,61 per barel.

Baca Juga: Disperindag Kulon Progo Masih Temukan Harga Minyak Tinggi di Pasaran, Ternyata Ini Sebabnya

Kedua kontrak tersebut diperdagangkan dalam sesi yang bergejolak, bergerak antara wilayah positif dan negatif.

Harga melonjak pada sesi Rabu, dengan Brent melampaui USD90 per barel untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun di tengah ketegangan antara Rusia dan Barat.

Ancaman terhadap Uni Emirat Arab dari gerakan Houthi Yaman menambah kegelisahan pasar minyak.

Rusia, produsen minyak terbesar kedua di dunia, dan Barat berselisih mengenai Ukraina, menginpasi ketakutan bahwa pasokan energi ke Eropa dapat terganggu, meski kekhawatiran terfokus pada pasokan gas dari pada minyak mentah.

Rusia mengatakan jelas sekali bahwa Amerika Serikat tidak bersedia untuk menangani permasalahan keamanan yang diajukan Moskow dalam kebuntuan seputar Ukraina, tetapi tetap membuka pintu untuk dialog.

Baca Juga: Mulai Berlaku 1 Februari, ini Deretan Harga Acuan Baru Minyak Goreng

Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Politik, Victoria Nuland, mengatakan Amerika berharap Rusia akan mempelajari apa yang ditawarkan Washington dan kembali ke meja perundingan.

"Pasar sangat tidak menentu pada berita tentang situasi Rusia-Ukraina," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group. "Ada ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi," tambahnya.

Membebani harga, Federal Reserve, Rabu, mengatakan kemungkinan akan menaikkan suku bunga pada Maret dan berencana untuk mengakhiri pembelian obligasi -pada bulan itu untuk menjinakkan inflasi.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar