facebook

Disentil Presiden Jokowi, Pertamina Menjabarkan Telah Lakukan Penghematan

RR Ukirsari Manggalani | Achmad Fauzi
Disentil Presiden Jokowi, Pertamina Menjabarkan Telah Lakukan Penghematan
Gedung Pertamina. (Dok. Pertamina)

Efisiensi atau penghematan biaya operasional Pertamina mencapai Rp 32 triliun.

Suara.com - PT Pertamina (Persero) menjawab sentilan Presiden Joko Widodo soal efisiensi. Perusahaan minyak dan gas pelat merah itu menyebutkan telah melakukan efisiensi.

Salah satunya, efisiensi atau penghematan biaya operasional Pertamina yang mencapai Rp 32 triliun. Secara rinci, penghematan itu diperoleh dari program penghematan biaya (Cost Saving) sebesar Rp 20 triliun, penghindaran biaya (Cost Avoidance) sebesar Rp 5 triliun serta tambahan pendapatan (Revenue Growth) sekitar Rp 7 triliun.

Penghematan ini juga dilakukan lewat berbagai inovasi, terobosan dan cara tak biasa untuk mensiasati beratnya tantangan bisnis di tengah lonjakkan harga minyak mentah dunia akibat disrupsi rantai pasok dan kondisi pandemi yang masih berlangsung.

Tantangan semakin berat di 2022 dengan adanya dinamika geopolitik yang dipicu konflik Ukraina-Rusia yang mengakibat kenaikan ICP di atas USD 100 per barrel.

Baca Juga: Bisnis Hotel Mulai Menggeliat, FITT Siapkan Rencana Strategis di 2022

"Dengan efisiensi, kami bisa bertahan di tengah dinamika global yang unpredictable dan mempersembahkan laba bersih Rp 29,3 triliun di tahun 2021," ujar Pj Vice President Corporate Communication Pertamina, Heppy Wulansari dalam keterangannya, Rabu (22/6/2022).

Di sektor hulu yang menerima windfall profit dari tingginya harga Indonesia Crude Price (ICP), Pertamina mampu melakukan optimasi biaya produksi dan services melalui serangkaian terobosan mulai dari budget tolerance profile, optimasi intervensi sumur, hingga penghematan konsumsi chemical dan penggunaan bahan bakar. Jurus ini berbuah penghematan Rp 6,2 triliun atau lebih tinggi 10 persen dari target Rp 5,6 triliun.

Lebih lanjut Heppy menuturkan, dalam proses pengadaan minyak mentah dan produk, Pertamina menerapkan optimasi biaya pengadaan Medium Crude melalui aktivitas blending Heavy & Light Crude, Renegosiasi alpha, advance procurement, pembelian distress cargo, co-load delivery, dan extensive delivery date range, dan optimasi portofolio impor LPG (Multisource, Direct Sourcing dan Trading Swap). Meski rumit, tapi hasilnya bisa menekan biaya hingga Rp 2,8 triliun.

Lalu, sektor pengangkutan dan distribusi energi, optimasi biaya juga menuai ganjaran positif sebesar Rp 4,1 triliun dengan trik, antara lain perubahan pola suplai crude dan produk, perubahan rute dan jenis kapal, optimasi bunker, optimasi pola supply logistic serta optimasi biaya distribusi, handling dan storage dan renegosiasi tarif alur pelayaran, renegosiasi tanker charter rate, dan lain-lain.

Gerakan optimalisasi biaya juga masif untuk pengeluaran keuangan, umum dan administrasi. Sektor pendukung ini juga berkreasi dengan penghematan Rp 2,5 triliun, lebih tinggi dari target yang ditetapkan yakni sebesar Rp 2,3 triliun.

"Dengan menghemat energi dan bahan bakar kilang untuk penggunaan sendiri serta optimasi penggunaan listrik, anggaran Rp403 miliar dapat diefisienkan," kata Heppy.

Baca Juga: Jokowi Sentil PLN dan Pertamina Dapat Anggaran Subsidi Tapi Inefisiensi: Kok Enak Banget

Selain, berhemat biaya untuk mencetak efisiensi signifikan, Pertamina juga melakukan penghindaran biaya hingga Rp5,1 triliun atau lebih tinggi 10 persen dari target yang dipatok sebesar Rp4,6 triliun. Untuk mendukung upaya penghematan, Pertamina juga mampu menghasilkan tambahan pendapatan sebesar Rp 7,1 triliun atau mencapai 107 persen dari target 2021 sebesar Rp 6,6 triliun.

Program cost optimization merupakan program berkelanjutan. Realisasi program cost efficiency di 2020 sebesar Rp 12,6 triliun. Sedangkan realisasi cost optimization sampai April 2022 sebesar Rp 2,9 triliun.

Komentar