Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.760.000
Beli Rp2.630.000
IHSG 5.941,066
LQ45 588,991
Srikehati 289,797
JII 354,441
USD/IDR 17.926

Dilema, Harga Komoditas Ekspor RI Meningkat Tapi Anggaran Subsidi Membengkak

Iwan Supriyatna, Mohammad Fadil Djailani

Kamis, 14 Juli 2022 | 15:17 WIB
Dilema, Harga Komoditas Ekspor RI Meningkat Tapi Anggaran Subsidi Membengkak
Ilustrasi komoditas. [Suara.com/Wivy Hikmatullah]

Suara.com - Indonesia terbilang beruntung ketika harga sejumlah harga komoditas global meningkat, pasalnya dengan naiknya harga komoditi ditingkat internasional juga ikut mengkerek harga ekspor komoditas andalan Indonesia.

Namun sayangnya kenaikan harga komoditas ini tidak bisa dirasakan secara utuh bagi negara, karena disisi lain pemerintah juga menanggung beban anggaran dari naiknya sejumlah komoditas energi global, seperti minyak mentah.

"Tapi anggaran kami menanggung beban subsidi yang sangat besar untuk bahan bakar," kata Sri Mulyani dalam acara bertajuk "Sustainable Finance for Climate Transition Roundtable" secara virtual, Kamis (14/7/2022).

Asal tahu saja, untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di Indonesia, pemerintah masih mengandalkannya dari impor, kecuali untuk jenis Solar. Beban pemerintah untuk memberikan subsidi bahan bakar pun akan meningkat seiring dengan naiknya harga minyak dunia.

Untungnya kata Sri Mulyani pemerintah masih terus menggelontorkan tambahan anggaran untuk sektor energi melalui subsidi, sehingga ketika harga minyak global naik harga BBM di dalam negeri masih bisa ditahan.

"Bagi negara lain yang tidak memiliki kemampuan untuk subsidi, maka risikonya adalah dibebankan ke masyarakat," papar Sri Mulyani.

Tak heran kata Sri Mulyani saat ini banyak negara yang mengalami lonjakan inflasi yang cukup tinggi akibat kenaikan harga energi ini.

"Maka tak heran inflasi banyak negara melesat dan mengantarkan mereka ke jurang resesi," katanya.

Informasi saja, Badan Pusat Statistik (BPS) Amerika Serikat (AS) melaporkan laju inflasi negara tersebut pada bulan Juni mencapai 9,1 persen, inflasi merupakan yang tertinggi sejak tahun 1981 atau 41 tahun lalu.

Indeks harga konsumen, barang dan jasa sehari-hari yang terkait dengan biaya hidup, melonjak 9,1 persen dari tahun lalu, di atas perkiraan Dow Jones 8,8 persen. Itu menandai laju inflasi tercepat sejak November 1981.

Sementara itu laju inflasi inti negeri Paman Sam meningkat 5,9 persen dibandingkan dengan perkiraan 5,7 persen. Inflasi inti memuncak pada 6,5 persen pada bulan Maret dan telah turun sejak itu.

Pada basis bulanan, IHK utama naik 1,3 persen dan IHK inti naik 0,7 persen dibandingkan dengan perkiraan masing-masing 1,1 persen dan 0,5 persen.

Laju inflasi ini dorong oleh kenaikan harga energi yang melonjak 7,5 persen pada bulan tersebut dan naik 41,6 persen selama 12 bulan. Indeks makanan meningkat 1 persen, sementara biaya tempat tinggal, yang membentuk sekitar sepertiga dari CPI naik 0,6 persen untuk bulan tersebut dan naik 5,6 persen setiap tahun. 

Ini adalah bulan keenam berturut-turut bahwa makanan di rumah naik setidaknya 1 persen.
Biaya sewa naik 0,8 persen di bulan Juni, kenaikan bulanan terbesar sejak April 1986, menurut BLS.

Sebagian besar kenaikan inflasi berasal dari harga bensin, yang meningkat 11,2 persen pada bulan tersebut dan hanya sedikit dari 60 persen untuk periode 12 bulan. Biaya listrik masing-masing naik 1,7 persen dan 13,7 persen. 

Sementara di Indonesia inflasi pada bulan Juni 2022 sudah sebesar 0,61 persen, sementara untuk tahun kalender sudah mencapai 3,19 persen. Sehingga secara tahunan atau year on year (yoy) laju inflasi sudah mencapai 4,35 persen.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan bahwa laju inflasi tahunan ini merupakan yang tertinggi sejak 5 tahun terakhir.

"Inflasi year on year 4,35 persen ini merupakan inflasi yang tertinggi sejak Juni 2017, di mana inflasi kita 4,37 persen," kata Kepala BPS Margo Yuwono saat konferensi pers di Kantornya, Jakarta, Jumat (1/7/2022).

Margo melanjutkan, penyumbang inflasi Juni berasal dari cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras. Kenaikan harga sejumlah komoditas global kata Margo sudah mulai dirasakan dampaknya terhadap laju inflasi di dalam negeri.

"Dengan melihat kondisi perkembangan global dan cuaca. Maka inflasi pada Juni 2022 mtm 0,61 persen atau terjadi peningkatan Indeks harga konsumen 110,42 Mei 2022 menjadi 111,09 Juni 2022," paparnya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hitung-hitungan Menkeu Sri Mulyani Soal Anggaran Subsidi Energi Tahun Depan

Hitung-hitungan Menkeu Sri Mulyani Soal Anggaran Subsidi Energi Tahun Depan

Bisnis | Rabu, 13 Juli 2022 | 17:30 WIB

Terus Meningkat, Lampung Penyumbang Terbesar Ekspor Lada Hitam Indonesia

Terus Meningkat, Lampung Penyumbang Terbesar Ekspor Lada Hitam Indonesia

Lampung | Rabu, 13 Juli 2022 | 11:39 WIB

Ketua DPR Minta Pemerintah Perbaiki Tata Kelola Komoditas Pangan untuk Atasi Harga yang Terus Naik

Ketua DPR Minta Pemerintah Perbaiki Tata Kelola Komoditas Pangan untuk Atasi Harga yang Terus Naik

DPR | Rabu, 13 Juli 2022 | 10:08 WIB

Terkini

Harga Emas Antam Lagi Murah Dibanderol Rp 2,75 Juta per Gram

Harga Emas Antam Lagi Murah Dibanderol Rp 2,75 Juta per Gram

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:50 WIB

Rupiah Akhirnya Jebol ke Rp18.000, Purbaya Tak Mau Disalahkan

Rupiah Akhirnya Jebol ke Rp18.000, Purbaya Tak Mau Disalahkan

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:43 WIB

Purbaya Klaim Kemenkeu Ikut Laporkan Kasus Korupsi Eks Kepala BGN Dadan Hindayana

Purbaya Klaim Kemenkeu Ikut Laporkan Kasus Korupsi Eks Kepala BGN Dadan Hindayana

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:42 WIB

Bukan Cuma soal Gizi, Prabowo Ungkap Dampak Ekonomi Dahsyat Kalau MBG Berjalan Benar

Bukan Cuma soal Gizi, Prabowo Ungkap Dampak Ekonomi Dahsyat Kalau MBG Berjalan Benar

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:41 WIB

Emiten SMMT dan MGRO Beri Komentar Soal DSI

Emiten SMMT dan MGRO Beri Komentar Soal DSI

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:33 WIB

BI Ikut Urus Sektor Riil dan Ciptakan Lapangan Kerja di RUU P2SK, Purbaya Akui Tiru AS

BI Ikut Urus Sektor Riil dan Ciptakan Lapangan Kerja di RUU P2SK, Purbaya Akui Tiru AS

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:14 WIB

Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD, Begini Cara Melindungi Keuangan Keluarga

Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD, Begini Cara Melindungi Keuangan Keluarga

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:04 WIB

Misi Gagal Total, AS-Israel Memilih Berdamai dengan Iran di Tengah Gempuran

Misi Gagal Total, AS-Israel Memilih Berdamai dengan Iran di Tengah Gempuran

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:01 WIB

LRT Jakarta Fase 1B Masuki Tahap Uji Coba, Waskita Karya Catat Progres Konstruksi 93,07 Persen

LRT Jakarta Fase 1B Masuki Tahap Uji Coba, Waskita Karya Catat Progres Konstruksi 93,07 Persen

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 07:55 WIB

Risiko Besar jika Rupiah Tembus Rp18.000, Siapa yang Dirugikan?

Risiko Besar jika Rupiah Tembus Rp18.000, Siapa yang Dirugikan?

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 07:45 WIB