Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 7.057,106
LQ45 681,583
Srikehati 330,472
JII 466,124
USD/IDR 17.420

Gubernur BI Beri Tanda-tanda Ekonomi Suram Tahun Depan

Iwan Supriyatna | Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Senin, 21 November 2022 | 16:33 WIB
Gubernur BI Beri Tanda-tanda Ekonomi Suram Tahun Depan
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat konferensi pers melalui streaming di Jakarta, Selasa (31/3 - 3030). (Dok. Bank Indonesia)

Suara.com - Tanda-tanda kondisi ekonomi global bakal suram pada tahun depan tampaknya benar-benar bisa terjadi. Hal tersebut dibuktikan dari pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi di 2023 bakal melorot.

Hal tersebut dikatakan oleh Perry saat Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (21/11/2022).

"Dalam tabel itu pertumbuhan dunia semula tahun ini 3 persen kemungkinan akan turun menjadi 2,6 persen bahkan juga ada risiko-risiko menjadi 2 persen terutama di AS dan di Eropa," kata Perry.

Prediksi tersebut kata dia telah dibuktikan oleh makin tingginya probabilitas resesi yang dialami oleh Amerika Serikat (AS) hingga Eropa telah mendekati 60 persen.

Tanda-tanda selanjutnya adalah soal ancaman inflasi yang kian meninggi. Dikatakan Perry inflasi global tahun ini diperkirakan mencapai 9,2 persen.

"Inflasi energi, inflasi pangan yang langsung kemudian berhubungan dengan kesejahteraan rakyat," katanya.

Selanjutnya adalah soal higher interest for longer period of time atau suku bunga yang tinggi yang akan berlangsung cukup lama.

Perry menuturkan kenaikan suku bunga acuan di AS terakhir 75 basis points (bps) menjadi 4 persen. BI memperkirakan kemungkinan Desember akan naik lagi jadi 50 bps sehingga 4,5 persen.

Lebih lanjut, dia melihat Fed Fund Rate ini akan kembali naik menjadi 5 persen.

Alhasil, BI melihat ada kejar-kejaran antara menaikkan suku bunga dan inflasi tinggi. "Ini yang kenapa disebut risiko stagflasi, pertumbuhan yang stagnan menurun bahkan sekarang istilahnya sekarang adalah risiko resflasi, risiko resesi dan tingginya inflasi ini yang ketiga," lanjutnya.

Selanjutnya adalah fenomena strong dolar. Indeks dolar bahkan sempat mencapai 114, rekor tertingginya. Kondisi ini dirasakan oleh semua negara, tidak terkecuali Indonesia.

"Dolar menguat karena Fed Fund Rate naik dan yield US Treasury yang naik," ujar Perry.

Dan yang terakhir adalah risiko cash is the king. Hal ini disebabkan karena para orang tajir lebih memilih menumpuk uangnya di instrumen yang likuid, baik cash dan near cash. Lagi-lagi, kondisi ini terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

"Inilah mengapa terjadi aliran modal keluar," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Puji Ekonomi Indonesia di Antara Anggota G20, Jokowi: Coba Bandingkan dengan Negara Lain

Puji Ekonomi Indonesia di Antara Anggota G20, Jokowi: Coba Bandingkan dengan Negara Lain

Bisnis | Senin, 21 November 2022 | 13:46 WIB

Bank Indonesia Pindah ke Kalimantan Tahun 2023

Bank Indonesia Pindah ke Kalimantan Tahun 2023

Bisnis | Senin, 21 November 2022 | 13:28 WIB

Gubernur BI Ngaku Mati-matian Jaga Nilai Tukar Rupiah

Gubernur BI Ngaku Mati-matian Jaga Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Senin, 21 November 2022 | 11:53 WIB

Terkini

Digitalisasi Sampah di Desa Tamanmartani, 1.400 Warga Bisa Bayar Lewat QRIS BRI Depan Rumah

Digitalisasi Sampah di Desa Tamanmartani, 1.400 Warga Bisa Bayar Lewat QRIS BRI Depan Rumah

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 14:38 WIB

Indonesia Tawarkan Peluang Investasi Hulu Migas: Investor & Penyedia Teknologi Global Kolaborasi

Indonesia Tawarkan Peluang Investasi Hulu Migas: Investor & Penyedia Teknologi Global Kolaborasi

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 14:31 WIB

Setelah Dibeli Danantara, GOTO Jadi Saham Paling Aktif Diperdagangkan Hingga Sesi I

Setelah Dibeli Danantara, GOTO Jadi Saham Paling Aktif Diperdagangkan Hingga Sesi I

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 14:29 WIB

Profil Grace Natalie: Komisaris MIND ID yang Dipolisikan Terkait Video Ceramah JK

Profil Grace Natalie: Komisaris MIND ID yang Dipolisikan Terkait Video Ceramah JK

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:53 WIB

Pelindo Perkuat Sinergi untuk Percepatan Operasional Penuh Terminal Kijing

Pelindo Perkuat Sinergi untuk Percepatan Operasional Penuh Terminal Kijing

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:37 WIB

Emiten Asuransi TUGU Raih Laba Bersih Rp 265,62 Miliar di Kuartal I-2026

Emiten Asuransi TUGU Raih Laba Bersih Rp 265,62 Miliar di Kuartal I-2026

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:31 WIB

Isi Token Listrik Rp50 Ribu Dapat Berapa kWh? Simak Cara Hitungnya di Sini

Isi Token Listrik Rp50 Ribu Dapat Berapa kWh? Simak Cara Hitungnya di Sini

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:30 WIB

BPS: Ibu Hamil di Indonesia Timur Hadapi Risiko Kematian Jauh Lebih Tinggi

BPS: Ibu Hamil di Indonesia Timur Hadapi Risiko Kematian Jauh Lebih Tinggi

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:13 WIB

Masih Didorong Pertumbuhan Ekonomi, IHSG Merangkak Naik ke Level 7.100 di Sesi I

Masih Didorong Pertumbuhan Ekonomi, IHSG Merangkak Naik ke Level 7.100 di Sesi I

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:02 WIB

Netzme Jadi Pelopor QRIS Antarnegara dengan China

Netzme Jadi Pelopor QRIS Antarnegara dengan China

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 12:52 WIB