Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.575.000
Beli Rp2.447.000
IHSG 5.643,194
LQ45 553,105
Srikehati 276,229
JII 331,154
USD/IDR 17.957

Bantah IMF, Menko Luhut Buktikan Hilirisasi Indonesia Dipuji Negara Lain

Achmad Fauzi

Senin, 10 Juli 2023 | 10:25 WIB
Bantah IMF, Menko Luhut Buktikan Hilirisasi Indonesia Dipuji Negara Lain
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. (Suara.com/Ria Rizki).

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membuktikan bahwa kebijakan hilirisasi Indonesia dikagumi negara lain. Salah satunya, Australia yang memuji langkah pemerintah melakukan hilirisasi bahan baku seperti nikel.

Hal ini dinyatakannya seusai melakukan kunjungan kerja ke Australia yang mendampingin Presiden Joko Widodo yang diunggah ke akun Instagram pribadinya @luhut.pandjaitan.

Menurutnya, dengan kebijakan hilirisasi tersebut, Indonesia dengan Australia sepakat untuk mengolah bahan baku di Indonesia.

"Australia mengakui kalau hilirisasi itu bagus, sehingga mereka juga sepakat bahwa bahwa 60 ribu lithium mereka yang mereka ekspor ke Indonesia itu juga diproses di Morowali. Jadi kita punya lithium sekarang. Tapi saya bilang boleh nggak sekarang kita tambah lagi 60 ribu ton lagi, dan mereka ikut equity participation dalam project itu, sehingga kita lakukan joinly dan mereka setuju dengan itu. Saya kira belum pernah kejadian semacam ini," ujar Luhut yang dikutip, Senin (10/7/2023).

"Mereka melihat mengakui, prime ministernya dan menteri perindustrian kemaren kita temuin, Indonesia sudah sangat maju di sini, dan itu yang membuat ekonomi indonesia salah satu yang kuat sekarang ini, itu saya satu hal satu hal," tambah dia.

Mantan Kepala Staf Presiden ini melanjutkan, kebijakan hilirisasi Indonesia juga memberi manfaat negara lain seperti Australia. Karena, negara lain bisa menurunkan biaya memproduksi kendaraan listrik.

"Dan cost Australia kan 4 kali lipat lebih mahal dari kita kalau membuat processing mobil listriknya, kalau di Indonesia costnya lebih turun," imbuh dia.

Di sisi lain, tambah Luhut, buat Indonesia juga memberikan keuntungan, bahwa bisa bekerja sama dengan negara produsen kendaraan listrik seperti Amerika Serikat.

"Buat kita juga ada untungnya, kita juga bisa tadi bekerja sama dengan Amerika Serikat, tetapi teknologinya kita juga nggak bisa hindari. Juga masih ada teknologi tiongkok yang harus kita dapat jadi saya kira kolabirasi ini akan bagus ke depan," jelas dia.

baca juga

Sebelumnya, IMF memberikan pernyataan bahwa pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk menghapus kebijakan larangan ekspor nikel dan tidak memperluas pada komoditas lain. Hal itue tertuang dalam paparan Article IV Consultation.

Menurut IMF, kebijakan hilirisasi juga perlu dipertimbangkan analisa biaya dan manfaatnya.

"Biaya fiskal dalam hal penerimaan (negara) tahunan yang hilang saat ini tampak kecil dan ini harus dipantau sebagai bagian dari penilaian biaya-manfaat ini," tulis IMF dalam laporannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Biar Langit Mau Runtuh, Bahlil Lantang Tolak Saran IMF Soal Stop Ekspor Nikel

Biar Langit Mau Runtuh, Bahlil Lantang Tolak Saran IMF Soal Stop Ekspor Nikel

Bisnis | Selasa, 04 Juli 2023 | 14:30 WIB

IMF Bikin Gaduh RI Soal Stop Hilirisasi, Sri Mulyani Ogah Didikte Lagi

IMF Bikin Gaduh RI Soal Stop Hilirisasi, Sri Mulyani Ogah Didikte Lagi

Bisnis | Selasa, 04 Juli 2023 | 14:11 WIB

Menko Luhut Beberkan Cara Indonesia Jadi Negara Berpendapatan Tinggi

Menko Luhut Beberkan Cara Indonesia Jadi Negara Berpendapatan Tinggi

Bisnis | Selasa, 27 Juni 2023 | 17:37 WIB

Terkini

Prediksi IHSG Hari Ini dan Saham-saham Rekomendasi Analis

Prediksi IHSG Hari Ini dan Saham-saham Rekomendasi Analis

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 08:28 WIB

Perkuat Permodalan dan Perluas Pembiayaan UMKM, OJK Restui Penggabungan Enam BPR Lintas Sumatera

Perkuat Permodalan dan Perluas Pembiayaan UMKM, OJK Restui Penggabungan Enam BPR Lintas Sumatera

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:48 WIB

BEI Bakal Berubah, OJK Godok Aturan Demutualisasi, Danantara, BI Bisa Masuk Jadi Pemegang Saham

BEI Bakal Berubah, OJK Godok Aturan Demutualisasi, Danantara, BI Bisa Masuk Jadi Pemegang Saham

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:15 WIB

Rincian Perubahan Harga BBM Pertamina Per Hari Ini

Rincian Perubahan Harga BBM Pertamina Per Hari Ini

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 06:21 WIB

Harga BBM Turun per 1 Juli 2026: Pertamax Turbo dan Pertamina Dex Lebih Murah

Harga BBM Turun per 1 Juli 2026: Pertamax Turbo dan Pertamina Dex Lebih Murah

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 06:16 WIB

QuickPro Apakah Platform Investasi Resmi Berizin di Indonesia? Ini Penjelasannya

QuickPro Apakah Platform Investasi Resmi Berizin di Indonesia? Ini Penjelasannya

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 06:08 WIB

Berlaku Besok, IESR Ungkap Bahayanya Penerapan B50

Berlaku Besok, IESR Ungkap Bahayanya Penerapan B50

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:43 WIB

J Trust Bank (BCIC) Rombak Jajaran Direksi

J Trust Bank (BCIC) Rombak Jajaran Direksi

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:38 WIB

Insentif Mobil Listrik Tak Kunjung Jelas, Kemenperin Khawatir Penjualan Tertahan

Insentif Mobil Listrik Tak Kunjung Jelas, Kemenperin Khawatir Penjualan Tertahan

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:33 WIB

Target Swasembada Garam 2027 Dinilai Sulit Tercapai Tanpa Reformasi Impor

Target Swasembada Garam 2027 Dinilai Sulit Tercapai Tanpa Reformasi Impor

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:28 WIB

×