Suara.com - Sebagai ibu rumah tangga yang bertugas penuh mengurusi kebutuhan keluarga dan mendampingi suami, Nanik Cahyani (65) tak pernah "lepas tangan" ketika anak-anak membutuhkan biaya pendidikan. Ia tak menampik bahwa gaji bulanan suaminya, yang bekerja di sebuah media nasional, kadang tak cukup ketika "tagihan" biaya pendidikan untuk kedua anaknya datang.
Dua anak yang membutuhkan banyak biaya pendidikan membuat Nanik seringkali memaksanya kreatif untuk bisa mendapatkan dana segar, demi membantu meringankan beban suami. Beruntung, Nanik memiliki hobi mengumpulkan gram demi gram emas dari gaji suami. Barang ini ternyata sangat berharga dan bisa membantu menyediakan uang pendidikan bagi 2 anak perempuannya yang duduk di bangku SMP dan SMA.
Menengok kembali beberapa dekade yang telah berlalu, saat ia pertama kali menjadi nasabah Pegadaian. Berawal dari seorang teman yang mengajaknya, Nanik yang kini tinggal di Yogyakarta ini merasa aman ketika ia harus "menitipkan" satu-dua perhiasannya untuk mendapatkan dana segar.
"Satu hal yang membuat saya mantap jadi nasabah, karena di Pegadaian, perhiasan emas saya tidak hilang. Ini kan bukan dijual, tapi dititipkan," katanya.
Tentu saja, perhiasan-perhiasan yang dititipkan di Pegadaian bukan sembarangan, karena semua itu adalah benda berharga kesayangannya.
"Tapi kalau harus menyediakan uang buat pendidikan anak, saya mengalah, walau kadang untuk kebutuhan sehari-hari juga, sih. Toh dengan menabung lagi, dengan mencicil lagi, emas saya akan kembali. Dan biasanya, itulah yang terjadi," katanya sambil tertawa.
Nanik menyebut, perhiasan yang dimilikinya saat anak-anaknya masih membutuhkan banyak biaya sekolah, beberapa diantaranya masih ada padanya. Bahkan ada cincin pernikahan, yang pernah digadaikannya pula, yang kini sudah kembali dan tetap akan disimpannya. Semua perhiasan itu kelak akan menjadi milik anak-anaknya.
Jadi Andalan Pelaku Usaha
Sementara itu, salah satu pelaku usaha, Indra F (45), telah merasakan banyak keutungan dengan menjadi nasabah Pegadaian. Laki-laki yang memiliki usaha pesan antar galon air minum Kinasih Galon & Kemasan, yang terletak di Kawasan Sutodirjan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini, telah menjadi nasabah Pegadaian sejak 10 tahun lalu.
"Saya sudah menjadi nasabah sejak kurang lebih 10 tahun lalu, sejak usaha saya masih awal mula," ujarnya.
Indra memulai bisnisnya dengan menjadi penyedia air minum dalam galon, dan mengantarnya kepada pelanggan yang yang memesan kepadanya. Usaha ini dijalaninya sendiri, mulai dari menerima pesanan, mengantar galon kepada pelanggan, hingga melakukan tugas-tugas administratif bagi pemesanan selanjutnya kepada pemasok air galon.
Di awal bisnisnya, merek air galon yang disediakan hanya terbatas 1 merek. Berjalannya waktu, ketika keuntungan bisa dikumpulkan sedikit demi sedikit, Indra mulai membeli emas untuk diinvestasikannya. Ia merasa harus rutin membeli emas, karena dianggapnya, hal itu sebagai bentuk tabungan yang bisa dipakainya untuk mengembangkan usaha.
Benar saja. Setahun mengumpulkan emas, ia menggadaikannya ke Pegadaian terdekat. Uang tunai yang didapatnya, dipakainya untuk menambah jumlah air galon, karena pelanggannya kini mulai bertambah.
"Dulu sempat menolak permintaan pelanggan, karena stok galon saya terbatas. Sekarang, lumayan bisa menambah stok, jadi tidak ada pelanggan yang saya tolak," ujarnya tersenyum.
Strategi mengumpulkan emas dan menggadaikannya masih dilakukan beberapa tahun belakangan, sampai kemudian, ia bisa menambah satu tenaga di toko galonnya. Ia kini punya karyawan yang bisa membantunya.
Ia pun kini mampu membeli sepeda motor, walau dalam kondisi second, untuk membantu karyawannya mengantar air galon kepada pelanggan.