Suara.com - Upaya meningkatkan literasi di Maluku Utara menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka buta aksara penduduk usia 10 tahun ke atas berhasil ditekan menjadi 1,05 persen, menurun dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 1,12 persen. Selain itu, masyarakat Maluku Utara juga tercatat memiliki kegemaran membaca yang berada di atas rata-rata nasional.
Namun, capaian tadi belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ideal. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (ILPM) di wilayah ini masih berada di bawah rata-rata nasional. ILPM sendiri menjadi indikator penting dalam mengukur ketersediaan perpustakaan serta sarana belajar sepanjang hayat yang mendukung budaya literasi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa akses terhadap bahan bacaan, terutama bagi anak-anak dan generasi muda, masih menjadi tantangan. Faktor geografis kepulauan serta keterbatasan infrastruktur menjadi hambatan nyata yang perlu diatasi bersama.
Di sinilah pentingnya kolaborasi multipihak, termasuk kontribusi sektor swasta. Salah satu langkah konkret dilakukan Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel yang beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, melalui pembangunan rumah belajar informal.
Hingga saat ini, telah berdiri tiga rumah belajar, yaitu Rumah Belajar Simore di Desa Gambaru, Rumah Belajar Ocimaleo di Desa Ocimaleo, dan yang terbaru Rumah Belajar Nyinga Moi di Desa Fluk yang diresmikan pada 2 Mei 2026.
Rumah belajar ini menjadi ruang alternatif bagi anak-anak untuk mendapatkan tambahan pembelajaran literasi dan numerasi dasar di luar jam sekolah. Kegiatan belajar dirancang menyenangkan melalui pendekatan bermain, sehingga anak-anak dapat belajar tanpa tekanan.
Sebagai bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di bidang pendidikan, fasilitas yang disediakan meliputi buku bacaan, permainan edukatif, guru pendamping, hingga makanan ringan untuk anak. Kegiatan sehari-hari dimulai dengan membaca selama 15 menit, dilanjutkan dengan pendampingan membaca dan menulis, mendongeng, permainan edukatif, hingga menonton film edukasi bersama.
Program ini telah memberikan manfaat kepada 210 siswa, membantu mereka meningkatkan keterampilan membaca sekaligus memperluas wawasan.
Dalam menggelar kegiatan sehari-hari, Rumah Belajar memberikan pengajaran kepada siswa sebagai berikut:
- Dibuka dengan kegiatan membaca 15 menit
- Lalu ada pendampingan bagi mereka yang kurang lancar membaca (mengenal huruf, membaca, menulis, menyusun kata, dan kalimat)
- Mendongeng dan menceritakan kembali
- Permainan edukatif (ketangkasan, kuis ilmu pengetahuan umum)
- Nonton bareng film edukasi
Sedangkan kelengkapan fasilitas di Rumah Belajar berupa:
- Buku-buku bacaan
- Paket permainan edukatif anak
- Guru pendamping rumah belajar
- Snack anak
Dampak positif dari kehadiran Rumah Belajar ini pun dirasakan langsung oleh masyarakat.
Hamsiah Drakel, salah satu orang tua, mengungkapkan, “Setiap sore anak-anak di sini datang dengan hati senang. Mereka tidak hanya membaca, tapi juga bermain setelahnya. Saya bisa melihat kegembiraan mereka setiap sore, rasanya seperti stres mereka di rumah hilang ketika belajar dan bermain di sini.”
Senada pandangan Nadia Abdullah, salah satu orang tua anak. Ia menyoroti perubahan perilaku anak-anak di era digital.
“Anak-anak sekarang banyak main HP, jadi kurang fokus belajar. Dengan adanya rumah belajar ini, kami berharap mereka bisa lebih fokus dan punya kegiatan yang lebih bermanfaat,” paparnya.
Dari sisi psikologis, keberadaan rumah belajar juga membawa dampak yang lebih luas.