Dikenakan Tarif 46 Persen, Vietnam 'Ngalah' ke Presiden AS Trump

Achmad Fauzi

Senin, 07 April 2025 | 09:14 WIB
Dikenakan Tarif 46 Persen, Vietnam 'Ngalah' ke Presiden AS Trump
Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Vietnam (PKV), To Lam beserta Ibu Ngo Phu'o'ng Ly tiba di Indonesia. (Foto: Biro Sekretariat Presiden)

Suara.com - Vietnam telah meluncurkan aksi untuk menghadapi kebijakan tarif resiprokal yang dijalankan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dalam kebijakan itu, Trump memberikan tarif impor sebesar 46 persen untuk produk-produk Vietnam.

Namun, bukannya melawan, Negeri Naga Biru itu justru mau 'mengalah' kepada Amerika Serikat atas kebijakan tersebut.

Seperti dinukil dari The New York Times, Senin (7/4/2025), Pemimpin tertinggi Vietnam, To Lam, secara resmi meminta Presiden Donald Trump untuk menunda pemberlakuan tarif impor sebesar 46 persen. Tarif tersebut merupakan salah satu yang tertinggi dalam sejarah perdagangan AS yang ditujukan kepada Vietnam.

Lam menyampaikan permintaan tersebut melalui surat tertanggal Sabtu, yang salinannya diperoleh The New York Times. Ia meminta Trump menunda tarif selama 45 hari demi membuka ruang negosiasi.

Langkah ini bertujuan tidak hanya menyelamatkan ekonomi Vietnam, tetapi juga melindungi konsumen Amerika dari lonjakan harga barang, mengingat Vietnam adalah pusat utama produksi global untuk merek-merek seperti Nike, Adidas, dan Lululemon.

Tak berhenti di situ, Lam juga menelepon langsung Trump, menjadikannya salah satu pemimpin dunia pertama yang melakukannya pasca pengumuman tarif. Dalam pembicaraan yang disebut Trump sebagai 'sangat produktif'.

Lam menawarkan tarif nol persen untuk produk impor dari AS, serta meminta Trump melakukan hal yang sama.

Dalam suratnya, Lam bahkan mengusulkan pertemuan langsung di Washington pada akhir Mei untuk mencapai “kesepakatan penting demi rakyat kedua negara.” Ia juga mendorong agar perwakilan AS segera bernegosiasi dengan wakil perdana menteri Vietnam, Ho Duc Phoc.

Jika diberlakukan, tarif 46 persen tersebut akan menghantam sekitar 5,5 persen dari Produk Domestik Bruto Vietnam dan mengganggu sekitar 30 persen ekspor mereka yang ditujukan ke pasar AS, pasar ekspor terbesar Vietnam. Menurut para ekonom, dampaknya akan lebih parah ketimbang negara-negara tetangga seperti China, Kamboja, dan Laos.

baca juga

Tarif ini juga berpotensi mengganggu rantai pasokan global. Vietnam, yang selama ini jadi tujuan utama relokasi industri manufaktur dari China sejak tarif Trump pertama kali diberlakukan, bisa kehilangan posisi strategisnya. Beberapa investor global bahkan mulai mempertimbangkan untuk kembali ke China, yang memiliki skala dan kekuatan produksi lebih besar.

Sejak beberapa tahun terakhir, AS terus mempererat hubungan dengan Vietnam, bahkan menjadikan negara tersebut sebagai benteng utama untuk membendung pengaruh China di kawasan Asia-Pasifik. Namun, tarif mendadak dari Trump kini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi dan keandalan Washington di mata Hanoi. "Trump tidak melihat nilai strategis atau aliansi. Ia hanya melihat angka dan tarif," kata Huong Le Thu dari International Crisis Group.

Sementara itu, To Lam tengah berpacu dengan waktu untuk menjaga pertumbuhan ekonomi menjelang kongres Partai Komunis Vietnam tahun depan, momen penting yang akan menentukan kepemimpinan negara itu.

Dalam langkah-langkah pendekatan ke AS, Vietnam telah menyepakati impor gas alam cair dari AS, menurunkan beberapa tarif, dan bahkan membuka pintu bagi perusahaan Elon Musk, SpaceX, untuk menyediakan layanan internet satelit Starlink. Menariknya, Organisasi Trump juga sedang mengembangkan proyek lapangan golf dan hotel senilai USD1,5 miliar di provinsi asal To Lam.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump menerapkan 'tarif timbal balik' AS yang akan dihadapi lebih dari 180 negara dan wilayah. Termasuk anggota Uni Eropa, hingga Indonesia berdasarkan kebijakan perdagangan barunya yang menyeluruh.  Trump dan Gedung Putih membagikan serangkaian bagan di media sosial yang merinci tarif yang menurut mereka dikenakan negara lain terhadap AS.

Tarif yang dimaksud termasuk 'Manipulasi Mata Uang dan Hambatan Perdagangan' negara-negara tersebut. Kolom yang berdekatan menunjukkan tarif baru AS terhadap setiap negara, serta Uni Eropa.  Tarif tersebut, dalam banyak kasus, kira-kira setengah dari tarif yang diklaim oleh pemerintahan Trump telah 'dibebankan' kepada AS oleh setiap negara.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pengusaha Makanan dan Minuman RI Was-was Tarif Impor Trump

Pengusaha Makanan dan Minuman RI Was-was Tarif Impor Trump

Bisnis | Minggu, 06 April 2025 | 16:22 WIB

Usai Kebijakan Trump, Elon Musk Berharap Eropa Segera Atur Regulasi Bebas Tarif

Usai Kebijakan Trump, Elon Musk Berharap Eropa Segera Atur Regulasi Bebas Tarif

Bisnis | Minggu, 06 April 2025 | 14:30 WIB

Gara-gara Trump, Konglomerat Kehilangan Harta Rp 501 Triliun

Gara-gara Trump, Konglomerat Kehilangan Harta Rp 501 Triliun

Bisnis | Minggu, 06 April 2025 | 14:14 WIB

Terkini

Grow Wild, My Child: Saat Alam Menjadi Ruang Kelas Terbaik Anak

Grow Wild, My Child: Saat Alam Menjadi Ruang Kelas Terbaik Anak

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 13:30 WIB

Gus Ipul Tempuh Jalur Hukum, Tiga Orang Disiapkan untuk Disomasi soal Muktamar NU

Gus Ipul Tempuh Jalur Hukum, Tiga Orang Disiapkan untuk Disomasi soal Muktamar NU

Jakarta | Rabu, 23 September 2026 | 13:28 WIB

Revisi RKAB Disetujui, UNTR Optimistis Kinerja Meningkat di Semester II 2026

Revisi RKAB Disetujui, UNTR Optimistis Kinerja Meningkat di Semester II 2026

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 13:27 WIB

Dubbing Tak Lagi Bikin Aneh, AI Kini Bisa Sinkronkan Gerak Mulut Aktor

Dubbing Tak Lagi Bikin Aneh, AI Kini Bisa Sinkronkan Gerak Mulut Aktor

Tekno | Rabu, 23 September 2026 | 13:26 WIB

5 Shio Paling Susah Diatur dan Diperintah, Punya Pendirian yang Keras

5 Shio Paling Susah Diatur dan Diperintah, Punya Pendirian yang Keras

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 13:25 WIB

Kumpulkan Para Menteri, Prabowo Matangkan Rencana Gratiskan Sekolah hingga PTN

Kumpulkan Para Menteri, Prabowo Matangkan Rencana Gratiskan Sekolah hingga PTN

News | Rabu, 23 September 2026 | 13:22 WIB

KASUM Sebut Tak Ada Kabar Terbaru dari Komnas HAM soal Kasus Munir sejak 2025

KASUM Sebut Tak Ada Kabar Terbaru dari Komnas HAM soal Kasus Munir sejak 2025

News | Rabu, 23 September 2026 | 13:19 WIB

Baru Bertindak Usai Viral di Medsos, DLH Kota Bogor Kandangkan Truk Sampah Penambal Triplek

Baru Bertindak Usai Viral di Medsos, DLH Kota Bogor Kandangkan Truk Sampah Penambal Triplek

Bogor | Rabu, 23 September 2026 | 13:18 WIB

Garansi Ketok Palu 15 Desember, Komisi III DPR Jadikan RUU Perampasan Aset Super Prioritas

Garansi Ketok Palu 15 Desember, Komisi III DPR Jadikan RUU Perampasan Aset Super Prioritas

News | Rabu, 23 September 2026 | 13:16 WIB

Bedak Viva Plastik Sudah BPOM atau Belum? Begini Cara Mengeceknya

Bedak Viva Plastik Sudah BPOM atau Belum? Begini Cara Mengeceknya

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 13:15 WIB

×