Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.785.000
Beli Rp2.645.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.491

Kenyalnya Laporan Keuangan Emiten Permen YUPI: Penjualan Menyusut, Laba Justru Melesat

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Rabu, 14 Mei 2025 | 17:25 WIB
Kenyalnya Laporan Keuangan Emiten Permen YUPI: Penjualan Menyusut, Laba Justru Melesat
Ilustrasi Investasi Saham/Stockbit

Suara.com - Ada yang unik di balik manisnya bisnis permen jelly PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI). Sang emiten permen ini baru saja merilis laporan keuangan kuartal I-2025 yang menyajikan paradoks menarik.

Di tengah penurunan pendapatan sebesar 9,4% menjadi Rp699,65 miliar (dari sebelumnya Rp772,05 miliar di periode yang sama tahun lalu), YUPI justru berhasil mencatatkan kenaikan laba yang signifikan.

Bagaimana bisa penjualan merosot, namun pundi-pundi keuntungan justru mengembang? Rupanya, strategi efisiensi biaya menjadi kunci utama. YUPI berhasil menekan beban pokok penjualan dari Rp515,17 miliar menjadi Rp462,84 miliar. Langkah cerdik ini bak sulap, mendorong laba usaha YUPI melonjak menjadi Rp204,92 miliar, melampaui capaian sebelumnya yang sebesar Rp196,83 miliar.

Lebih manis lagi, YUPI mampu membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp167,22 miliar hingga akhir Maret 2025. Angka ini melompat 8,4% dibandingkan laba periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp154,20 miliar. Fenomena ini membuktikan ketahanan profitabilitas YUPI di tengah gempuran dinamika pasar ritel.

Sebelum pajak pun, kinerja YUPI terlihat memukau. Laba sebelum pajak di kuartal I-2025 tercatat sebesar Rp212,37 miliar, meningkat dari Rp202,47 miliar pada kuartal I 2024.

Dari sisi neraca, YUPI menunjukkan agresivitas ekspansi. Total aset perusahaan melonjak signifikan menjadi Rp3,48 triliun per 31 April 2025, dibandingkan dengan Rp2,67 triliun pada akhir Desember 2024.

Sementara itu, total liabilitas juga mengalami kenaikan menjadi Rp469,57 miliar dari Rp428,40 miliar, namun kenaikan ini tampak terukur dan dalam batas pengelolaan keuangan yang sehat, mengindikasikan adanya investasi dan pengembangan bisnis yang terencana.

Asal tahu saja YUPI baru saja mencatatkan saham perdananya di Bursa efek Indonesia (BEI) dengan skema Initial Public Offering (IPO). YUPI menjadi emiten ke-11 yang melantai bursa pada tahun 2025. Perseroan bergerak pada sektor konsumer non-siklikal atau bergerak di bidang industri kembang gula.

Berdasarkan prospektus ringkasnya, Selasa (25/3), YUPI menetapkan harga saham perdana Rp 2.390 per saham dan menawarkan sebanyak 854.448.900 atau sebesar 10 persen kepemilikan.

Jumlah saham baru itu sesuai dengan rencana awal perseroan, sehingga nilai seluruh IPO mencapai Rp 2,04 triliun, dan kapitalisasi pasar mencapai Rp 20,4 triliun.
Saham-saham terdiri dari 256.334.700 atau 3 persen saham baru, dan 598.114.200 atau 7 persen saham divestasi PT Sweets Indonesia.

Ada pun, seluruh dana yang diperoleh Perseroan dari hasil Penawaran Umum Perdana Saham terkait Saham Baru, setelah dikurangi dengan Biaya Emisi, 77 persen akan digunakan oleh Perseroan untuk keperluan pembiayaan belanja modal, yaitu pembangunan pabrik baru di daerah Nganjuk Jawa Timur, dengan total biaya yang diestimasi sebesar Rp 437,5 miliar dan diestimasi akan beroperasi paling cepat pada tahun 2026.

Kemudian 23 persen akan digunakan sebagai modal kerja Perseroan untuk melakukan ekspansi bisnis baik ke pasar internasional maupun pasar dalam negeri, yang termasuk tapi tidak terbatas untuk keperluan Term of Payment, persediaan dan penambahan jumlah karyawan.

Dana yang dialokasikan untuk Term of Payment dimaksudkan untuk mendukung kebijakan Perseroan untuk memperpanjang Term of Payment kepada distributor. Hal ini dilakukan oleh Perseroan untuk mendukung peningkatan penjualan.

Dana yang digunakan untuk persediaan mencakup pembelian bahan baku dan proses produksi hingga menjadi barang jadi (finished good) guna memastikan kelancaran operasional produksi. Pengalokasian ini dilakukan untuk mengantisipasi permintaan pasar dan menjaga ketersediaan stok yang memadai.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Penghasilan YouTube Aisar Khaled, Blak-blakan Ngaku Lebih Suka Ngonten di Indonesia

Penghasilan YouTube Aisar Khaled, Blak-blakan Ngaku Lebih Suka Ngonten di Indonesia

Lifestyle | Rabu, 14 Mei 2025 | 10:12 WIB

Emiten Ritel Hypermart Masih Rugi Rp22,3 Miliar

Emiten Ritel Hypermart Masih Rugi Rp22,3 Miliar

Bisnis | Rabu, 14 Mei 2025 | 10:06 WIB

Aroma Pahit Industri Jamu, Laba Produsen "Tolak Angin' Ambles 40 Persen di Kuartal I 2025

Aroma Pahit Industri Jamu, Laba Produsen "Tolak Angin' Ambles 40 Persen di Kuartal I 2025

Bisnis | Selasa, 13 Mei 2025 | 13:27 WIB

Terkini

Dorong Transisi Energi Global, Pertamina NRE Kaji Pengembangan Energi Terbarukan di Bangladesh

Dorong Transisi Energi Global, Pertamina NRE Kaji Pengembangan Energi Terbarukan di Bangladesh

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 20:38 WIB

Harga Minyak Bakal Naik Pekan Depan? Ini Prediksinya

Harga Minyak Bakal Naik Pekan Depan? Ini Prediksinya

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 16:53 WIB

BRI Terapkan Aturan Baru Rekening 2026: Ini Beda Status Aktif, Tidak Aktif, dan Dormant

BRI Terapkan Aturan Baru Rekening 2026: Ini Beda Status Aktif, Tidak Aktif, dan Dormant

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 15:27 WIB

Cara Cek NIK Penerima Bansos Kemensos Usai Update dari DTKS Jadi DTSEN

Cara Cek NIK Penerima Bansos Kemensos Usai Update dari DTKS Jadi DTSEN

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 13:53 WIB

Rupiah Bisa Tembus Rp17.900, Ini Alasan Mata Uang RI Diproyeksi Makin Anjlok!

Rupiah Bisa Tembus Rp17.900, Ini Alasan Mata Uang RI Diproyeksi Makin Anjlok!

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 13:17 WIB

Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit dan Daging Ayam Naik, Beras Premium Tetap Tinggi

Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit dan Daging Ayam Naik, Beras Premium Tetap Tinggi

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 13:03 WIB

3 Pilihan Aset Aman untuk Investasi saat Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS

3 Pilihan Aset Aman untuk Investasi saat Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 11:15 WIB

IKN Disebut 'Gegabah Terstruktur', Prabowo Diminta Evaluasi Proyek Era Jokowi

IKN Disebut 'Gegabah Terstruktur', Prabowo Diminta Evaluasi Proyek Era Jokowi

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 10:19 WIB

Nilai Tukar Rupiah dari Masa ke Masa, Era Prabowo Subianto di Posisi Berapa?

Nilai Tukar Rupiah dari Masa ke Masa, Era Prabowo Subianto di Posisi Berapa?

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 09:41 WIB

Kesepakatan China-AS Jadi 'Omong Kosong', Perang Masih Ancam Ekonomi Dunia

Kesepakatan China-AS Jadi 'Omong Kosong', Perang Masih Ancam Ekonomi Dunia

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 09:34 WIB