Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.799.000
Beli Rp2.670.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.491

Meski Diserang, Indonesia Buktikan Hilirisasi Bisa Jalan dengan Bertanggung Jawab

M Nurhadi | Suara.com

Rabu, 04 Juni 2025 | 09:32 WIB
Meski Diserang, Indonesia Buktikan Hilirisasi Bisa Jalan dengan Bertanggung Jawab
Sebagai ilustrasi. ANTARA/HO

Suara.com - Presiden Prabowo Subianto menegaskan sikap kerasnya terhadap pihak asingyang dinilai mencoba merongrong kekuatan ekonomi Indonesia.

Hal tersebut disampaikannya dalam peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Pejambon, Jakarta pada Selasa 2 Juni 2025.

Presiden Prabowo menyuarakan pesan penting, yakni Indonesia jangan mudah dipecah-belaholeh kekuatan luar, apalagi karena kekayaannya sendiri.

"Saya mengajak sekali lagi seluruh rakyat Indonesia bersatu. Perbedaan jangan menjadisumber gontok-gontokan. Ini selalu yang diharapkan oleh kekuatan asing yang tidak sukaIndonesia kuat, tidak suka Indonesia kaya,” katanya.

Prabowo juga menegaskan bahwa usaha memecah belah Bangsa Indonesia tersebut dilakukanasing dengan membiayai kelompok-kelompok tertentu dengan alasan penegakan demokrasi.

"Ratusan tahun mereka adu domba kita sampai sekarang, dengan uang, mereka membiayaiLSM-LSM untuk mengadu domba kita. Mereka katanya penegak demokrasi HAM kebebasanpers, padahal itu adalah versi mereka sendiri," ujarnya.

Pernyataan Prabowo tersebut seolah menjawab serangan bertubi-tubi dari negara asingterhadap kebijakan hilirisasi yang dilakukan Indonesia.

Namun Prabowo menekankan bahwa sikap tegas ini bukan berarti anti-asing. Iamengingatkan pentingnya sikap waspada dan mandiri.

"Saya tidak mengajak Bangsa Indonesia untuk curiga sama bangsa asing, kita tidak bolehdipermainkan oleh bangsa manapun," ujarnya.

"Bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki kita sendiri,” lanjutnya.

Pernyataan Presiden Prabowo ini sejalan dengan pandangan Guru Besar Hukum InternasionalUniversitas Indonesia, Prof Hikmahanto Juwana, yang menyebut bahwa tekananinternasional, khususnya dari negara-negara maju seperti AS, sering kali bersifat tidakkonsisten dan mengutamakan kepentingan sendiri.

"Jika kepentingan nasional kita terganggu dengan perjanjian-perjanjian yang dibuat secarainternasional, tentu sebaiknya kita tidak akan ikut dalam perjanjian tersebut," kata Hikmahanto kepada Suara.com, Senin 2 Juni 2025.

Ia menegaskan bahwa Indonesia harus tetap teguh pada prinsipnya dan tidak perlu tundukpada tekanan global, jika itu tidak sejalan dengan kepentingan nasional.

"Indonesia seharusnya konsisten dengan kepentingan nasional," tegasnya.

Sebagai gambaran umum, Indonesia saat ini sedang berfokus pada hilirasasi komoditas tambang seperti bauksit dan timah. Dalam industri aluminium, hilirisasi dimulai dari penambangan bauksit yang tersebar di Kalimantan Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.

Pemerintah mendorong pembangunan smelter untuk mengolah bauksit menjadi alumina, seperti yang dilakukan PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) dan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI). Hilirisasi berlanjut di PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), produsen aluminium dalam negeri yang menjadi ujung hilir dari rantai pengolahan tersebut.

Meski pengolahan bauksit menjadi aluminium masih menghadapi tantangan seperti kebutuhan energi besar dan ketergantungan teknologi asing, arah kebijakan hilirisasi sudah menunjukkan kemajuan dengan semakin berkurangnya ekspor bijih mentah.

Sementara itu, untuk industri timah Indonesia yang berbasis di Bangka Belitung telah lebihdahulu mencapai tahap pengolahan dan ekspor logam timah olahan (tin ingot). PT Timah Tbkmenjadi pemain utama dalam industri ini, mengelola tambang, smelter, hingga distribusi kepasar global.

Namun, hilirisasi timah masih terbatas pada produk dasar, belum berkembang ke produkturunan bernilai tambah seperti solder atau bahan kimia timah. Tantangan yang dihadapiantara lain maraknya tambang ilegal, kerusakan lingkungan, serta fluktuasi harga global.

Pemerintah terus mendorong industrialisasi lebih lanjut agar potensi ekonomi dari timah dapat dimaksimalkan dan tidak berhenti hanya pada ekspor logam mentah.

Selain dua komoditas tersebut, Indonesia saat ini juga melakukan hilirisasi nikel yang telahdilakukan di sejumlah wilayah. Namun sayangnya, kebijakan hilirisasi nikel Indonesia kerapmendapat serangan dari dunia internasional.

Bahkan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menuding LSM asing menyerang Indonesia menargetkan program hilirisasi.

"Ini yang sedang ditakuti oleh beberapa negara lain. Makanya sekarang banyak LSM yang serang-serang Indonesia menyangkut hilirisasi, serang menyangkut nikel, serang menyangkutbauksit, serang menyangkut timah, karena mereka tahu ini," kata Bahlil, Selasa 3 Juni 2025.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menanggapi perubahan kepemilikan Shell Indonesia. [Suara.com/Fauzi]
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. [Suara.com/Fauzi]

Bahlil menegaskan bahwa hilirisasi terus dilakukan meski banyak pihak yang tidak menyukai.

"Saya sebagai Menteri ESDM sejengkal pun saya tidak akan mundur dari tekanan asing untuk melanjutkan apa yang menjadi hilirisasi," katanya.

Serangan terhadap kebijakan hilirisasi nikel Indonesia bukan tanpa motif. Menurut pengamat hukum energi dari Universitas Tarumanegara, Ahmad Redi, kampanye tersebut merupakan bagian dari perang dagang global.

Negara-negara yang selama ini menikmati ekspor nikel mentah dari Indonesia jelas terganggu dengan keputusan Indonesia menghentikan ekspor sejak 2020.

"Ini adalah bagian dari upaya perang dagang yang secara langsung merugikan negara-negara yang selama ini menikmati bijih nikel Indonesia," ujar Ahmad Redi.

Kebijakan itu memang telah mengubah peta perdagangan dunia, dari ekspor 30 juta ton bijih nikel pada 2019 menjadi nihil pada 2020, karena semuanya difokuskan untuk hilirisasi dalamnegeri.

Dampak kebijakan hilirisasi itu yang kemudian memicu gugatan dari Uni Eropa ke WTO. Bahkan, industri nikel Indonesia terus menerus menghadapi gelombang tekanan asing yang multidimensional.

Sejak tahun 2020, sektor ini telah dihadapkan pada gugatan Uni Eropa di WTO, disusuldengan penerapan tarif tambahan oleh Amerika Serikat terhadap produk nikel.

Tak berhenti di situ, serangan juga datang dalam bentuk kampanye ‘dirty nickel’, menyudutkan Indonesia atas dugaan pencemaran lingkungan.

Namun Sekjen Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, menilaibahwa kampanye itu tidak adil dan terlalu fokus pada Indonesia yang kini menguasai lebihdari 60 persen pasar global produksi nikel.

"Nikel ini terlalu over success. Beberapa negara mungkin khawatir karena kita menguasaibahan baku untuk energi masa depan, seperti baterai mobil listrik,” tegas Meidy.

Indonesia Tak Gentar, Justru Makin Siap Jadi Pemain Utama

Meski dihantam tekanan dari berbagai arah, Indonesia justru memperkuat komitmennya terhadap hilirisasi.

Hal tersebut kemudian dibuktikan dengan kontribusi sektor nikel yang kian signifikanterhadap penerimaan negara, terutama dari royalti dan PNBP.

Industri nikel juga menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan. Transisi ke green industry dilakukan lewat penggunaan alat berat bertenaga listrik dan perbaikan ekosistemsekitar tambang.

Pun perusahaan seperti Harita Nickel dan Vale Indonesia menjalani audit ketat dari Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) yang menggunakan standar keberlanjutan tertinggi di industri pertambangan dunia.

Dibandingkan dengan standar keberlanjutan lain, IRMA termasuk yang paling sulit ditempuh, paling ketat, serta melalui tahapan panjang dan rigid.

Fakta bahwa anggota Dewan di IRMA termasuk lembaga-lembaga masyarakat sipil yang paling kritis di dunia semakin menunjukkan kredibilitas dan ketatnya standar yang diterapkan.

Komitmen terhadap audit IRMA ini merupakan bukti nyata dari keseriusan perusahaan-perusahaan nikel di Indonesia dalam menjaga tanggung jawab mereka kepada masyarakat, LSM, sektor keuangan, pembeli, dan perusahaan pertambangan.

Meskipun menghadapi tantangan hukum dan tekanan diplomatik, Indonesia tetap teguh pada pendiriannya untuk melanjutkan hilirisasi, menyadari bahwa ini adalah jalan menuju kemandirian ekonomi dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Takut Tekanan Asing, Bahlil Sebut Negara Lain Mulai Pakai LSM Hantam Program Hilirisasi Nikel

Tak Takut Tekanan Asing, Bahlil Sebut Negara Lain Mulai Pakai LSM Hantam Program Hilirisasi Nikel

Bisnis | Rabu, 04 Juni 2025 | 08:02 WIB

Prabowo-Megawati Mesra di Hari Pancasila: Jokowi dan Gibran Jadi Ganjalan PDIP?

Prabowo-Megawati Mesra di Hari Pancasila: Jokowi dan Gibran Jadi Ganjalan PDIP?

Liks | Selasa, 03 Juni 2025 | 21:42 WIB

'Menepuk Air di Dulang': Kala Prabowo Tuduh LSM Dibiayai Asing

'Menepuk Air di Dulang': Kala Prabowo Tuduh LSM Dibiayai Asing

Liks | Selasa, 03 Juni 2025 | 19:17 WIB

"Surga Terakhir di Bumi" Terancam, Aktivis Ditangkap saat Protes Tambang Nikel di Raja Ampat

"Surga Terakhir di Bumi" Terancam, Aktivis Ditangkap saat Protes Tambang Nikel di Raja Ampat

News | Selasa, 03 Juni 2025 | 19:13 WIB

Geger! Aktivis Greenpeace Terobos Konferensi Mineral, Wamenlu Sampai...

Geger! Aktivis Greenpeace Terobos Konferensi Mineral, Wamenlu Sampai...

Video | Selasa, 03 Juni 2025 | 18:29 WIB

Prabowo Nilai Kelebihan dan Kekurangan Menteri, Siapa yang Masih Bisa Dipertahankan

Prabowo Nilai Kelebihan dan Kekurangan Menteri, Siapa yang Masih Bisa Dipertahankan

News | Selasa, 03 Juni 2025 | 16:31 WIB

Terkini

Purbaya Klaim Program MBG hingga Kopdes Merah Putih Mulai Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Purbaya Klaim Program MBG hingga Kopdes Merah Putih Mulai Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 21:08 WIB

Bukan Cuma di Indonesia, MSCI Juga Bersih-bersih Indeks yang Berdampak ke Bursa Negara Lain

Bukan Cuma di Indonesia, MSCI Juga Bersih-bersih Indeks yang Berdampak ke Bursa Negara Lain

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 19:48 WIB

LPDB Koperasi Hadir di Pontianak, Dorong UMKM dan Koperasi Naik Kelas

LPDB Koperasi Hadir di Pontianak, Dorong UMKM dan Koperasi Naik Kelas

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 19:10 WIB

BI Jamin Uang Palsu Kini Lebih Mudah Dideteksi, Ini Ciri-cirinya

BI Jamin Uang Palsu Kini Lebih Mudah Dideteksi, Ini Ciri-cirinya

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 19:04 WIB

Solar yang Tersedia di SPBU Shell Berasal dari Pertamina

Solar yang Tersedia di SPBU Shell Berasal dari Pertamina

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:59 WIB

Pelemahan Rupiah Belum Beri Dampak pada Harga Pangan

Pelemahan Rupiah Belum Beri Dampak pada Harga Pangan

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:54 WIB

Perhatian! CNG Bukan Pengganti LPG 3 KG

Perhatian! CNG Bukan Pengganti LPG 3 KG

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:49 WIB

Ancaman Phishing Makin Brutal, Investor Mulai Pilih Sekuritas dengan Proteksi

Ancaman Phishing Makin Brutal, Investor Mulai Pilih Sekuritas dengan Proteksi

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:45 WIB

OJK Optimistis Banyak Emiten Indonesia Akan Masuk Index MSCI

OJK Optimistis Banyak Emiten Indonesia Akan Masuk Index MSCI

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:43 WIB

Pemerintah Gaspol Naikkan Kelas UMKM, Sertifikasi hingga HAKI Dipermudah

Pemerintah Gaspol Naikkan Kelas UMKM, Sertifikasi hingga HAKI Dipermudah

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:39 WIB