Kerugian Miliaran Rupiah akibat Demo di Yamaha Music, Investor Bisa Kabur ke Vietnam & Thailand

Mohammad Fadil Djailani

Jum'at, 20 Juni 2025 | 07:24 WIB
Kerugian Miliaran Rupiah akibat Demo di Yamaha Music, Investor Bisa Kabur ke Vietnam & Thailand
Ilustrasi. Aksi unjuk rasa yang berulang dinilai dapat merusak citra Indonesia sebagai negara tujuan investasi yang stabil dan kompetitif, bahkan memicu potensi relokasi fasilitas produksi asing ke negara tetangga.

Suara.com - Beredarnya selebaran rencana aksi lanjutan oleh Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di kawasan PT Yamaha Music Manufacturing Asia (YMMA), Bekasi, Jawa Barat, menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan dunia usaha. 

Aksi unjuk rasa yang berulang dinilai dapat merusak citra Indonesia sebagai negara tujuan investasi yang stabil dan kompetitif, bahkan memicu potensi relokasi fasilitas produksi asing ke negara tetangga.

Pakar investasi dan hubungan internasional, Zenzia Sianica Ihza, menilai bahwa demonstrasi yang terus-menerus di kawasan industri strategis seperti MM2100 adalah ancaman serius bagi daya saing nasional. Menurutnya, kawasan industri merupakan objek vital nasional yang seharusnya steril dari aksi massa karena berkaitan langsung dengan operasional perusahaan yang terhubung dengan rantai pasok global.

"MM2100 adalah kawasan industri strategis yang seharusnya bebas dari gangguan aksi demonstrasi. Jika kawasan ini terus dijadikan lokasi demo, investor akan ragu menanamkan modal di Indonesia," ujar Zenzia kepada wartawan, Jumat (20/6/2025).

Catatan menunjukkan bahwa PT YMMA telah menderita kerugian lebih dari Rp 53 miliar akibat terhentinya produksi selama enam hari kerja dalam tiga gelombang unjuk rasa sebelumnya. Kerugian ini mencakup hilangnya output produksi, keterlambatan ekspor ke berbagai negara, serta potensi hilangnya kepercayaan dari mitra dagang di Jepang dan Eropa.

Situasi ini telah menyebabkan keresahan di kalangan pelaku usaha. Beberapa investor asing dilaporkan mulai mempertimbangkan untuk merelokasi fasilitas produksi mereka dari Indonesia ke negara pesaing seperti Vietnam dan Thailand, yang dinilai lebih stabil secara politik dan hukum.

"Kerugian ini bukan sekadar soal angka. Dampak yang lebih besar adalah penurunan persepsi global terhadap Indonesia sebagai basis manufaktur," tambah Zenzia.

Melihat kondisi ini, Zenzia mendesak pemerintah, khususnya Presiden Prabowo dan Menteri Ketenagakerjaan, untuk segera mengambil langkah tegas guna menjaga stabilitas kawasan industri. Ia menyarankan pemberlakuan regulasi yang melarang aktivitas demonstrasi di kawasan objek vital nasional, serta memperkuat sistem mediasi hubungan industrial yang adil dan transparan.

"Perlindungan hak pekerja memang penting, namun tidak boleh mengorbankan kepastian hukum dan iklim investasi," tegasnya.

baca juga

Ia juga meminta pihak kepolisian untuk lebih proaktif dan mengambil langkah-langkah preventif agar aksi demo tidak terus berulang di lokasi strategis yang sama. "Ini menyangkut stabilitas nasional. Polisi harus hadir sebagai kekuatan pencegah," ujar Zenzia.

Secara hukum, pelaksanaan aksi unjuk rasa diatur dalam Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Namun, undang-undang tersebut juga menetapkan bahwa ada beberapa tempat yang dilarang menjadi lokasi penyampaian pendapat di muka umum, termasuk instalasi militer, bandara, pelabuhan, dan objek vital nasional. Aksi unjuk rasa juga wajib memperoleh izin dari pihak kepolisian, dan jika dilakukan di lokasi atau waktu yang tidak diperbolehkan atau tanpa izin, maka aksi tersebut dinyatakan ilegal.

Aksi unjuk rasa di PT YMMA ini bermula dari pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap dua pengurus serikat pekerja. Pihak serikat menuduh tindakan ini sebagai bentuk union busting—upaya sistematis untuk melemahkan kekuatan serikat pekerja. Tuduhan ini langsung memicu gelombang aksi solidaritas.

Namun, manajemen PT YMMA membantah tuduhan tersebut. Kuasa Hukum PT YMMA, La Ode Haris, menyatakan bahwa PHK dilakukan berdasarkan pelanggaran disiplin kerja dan telah melalui prosedur hukum yang berlaku, sesuai dengan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) perusahaan. Ia menegaskan bahwa manajemen menghormati keberadaan serikat pekerja dan tetap membuka ruang dialog konstruktif. Sengketa PHK ini sendiri telah masuk dalam proses penyelesaian secara hukum di Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PHI) sejak 11 Juni 2025.

Hingga berita ini dibuat, pihak PT YMMA belum merespons rencana aksi terbaru. Namun, sumber internal menyebut perusahaan sedang menyiapkan opsi hukum dan operasional darurat jika aksi kembali mengganggu proses produksi.

Konflik yang berkepanjangan ini menyoroti perlunya perhatian serius dari pemerintah pusat dan aparat penegak hukum untuk menjaga keseimbangan antara hak-hak pekerja dan kepentingan investasi nasional.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Badai PHK Industri Pers, Komdigi Mau Bikin Regulasi Baru Atur Media Digital dan Konvensional

Badai PHK Industri Pers, Komdigi Mau Bikin Regulasi Baru Atur Media Digital dan Konvensional

Tekno | Kamis, 19 Juni 2025 | 22:17 WIB

Intip Aksi Bela Palestina di Depan Kedubes AS

Intip Aksi Bela Palestina di Depan Kedubes AS

Foto | Kamis, 19 Juni 2025 | 17:31 WIB

Optimisme di Tengah Ketidakpastian, Apindo Jabar Ungkap Strategi Jaga Kondusivitas Usaha

Optimisme di Tengah Ketidakpastian, Apindo Jabar Ungkap Strategi Jaga Kondusivitas Usaha

wawancara | Selasa, 17 Juni 2025 | 12:22 WIB

Terkini

Isuzu Andalkan Kualitas dan Layanan Purnajual untuk Hadapi Gempuran Merek China

Isuzu Andalkan Kualitas dan Layanan Purnajual untuk Hadapi Gempuran Merek China

Otomotif | Sabtu, 26 September 2026 | 20:54 WIB

Sinopsis 100 Days of Deception: Misi Rahasia di Era Penjajahan Jepang

Sinopsis 100 Days of Deception: Misi Rahasia di Era Penjajahan Jepang

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:40 WIB

Buntut Temuan Sel Mewah, Kalapas Cibinong dan 4 Pejabat Resmi Dicopot

Buntut Temuan Sel Mewah, Kalapas Cibinong dan 4 Pejabat Resmi Dicopot

Bogor | Sabtu, 26 September 2026 | 20:18 WIB

Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai

Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:15 WIB

Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi

Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:10 WIB

Resmi di Indonesia! Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai Jumbo 10.000 mAh

Resmi di Indonesia! Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai Jumbo 10.000 mAh

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:00 WIB

4 Pore Tightening Toner Atasi Tekstur Kasar dan Bruntusan Kulit Berminyak

4 Pore Tightening Toner Atasi Tekstur Kasar dan Bruntusan Kulit Berminyak

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 19:35 WIB

Demi Penuhi Standar, Kendal Tornado FC Bantu Lampu Stadion Sriwedari Rp 1 Miliar

Demi Penuhi Standar, Kendal Tornado FC Bantu Lampu Stadion Sriwedari Rp 1 Miliar

Surakarta | Sabtu, 26 September 2026 | 19:34 WIB

Dari Kuliner hingga Hiburan, Travel Agent Bandung Mulai Lirik Kawasan Wisata Ini di Ibu Kota

Dari Kuliner hingga Hiburan, Travel Agent Bandung Mulai Lirik Kawasan Wisata Ini di Ibu Kota

Lifestyle | Sabtu, 26 September 2026 | 19:13 WIB

Akademisi Diajak Kontribusikan Gagasan untuk Jakarta Vision

Akademisi Diajak Kontribusikan Gagasan untuk Jakarta Vision

Bisnis | Sabtu, 26 September 2026 | 19:06 WIB

×