Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.301,765
LQ45 627,165
Srikehati 306,330
JII 376,355
USD/IDR 17.877

Pemerintah Masih Bingung Gunakan Teknologi China atau Rusia untuk Kembangkan PLTN

Achmad Fauzi

Sabtu, 21 Juni 2025 | 10:54 WIB
Pemerintah Masih Bingung Gunakan Teknologi China atau Rusia untuk Kembangkan PLTN
BRIN mengatakan perlu komitmen pemerintah untuk kembangkan PLTN di Indonesia. Foto: Inti nuklir di dalam kolam reaktor riset nuklir di reaktor serba guna G.A. Siwabessy milik Batan, Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten. [Antara]

Suara.com - Pemerintah Indonesia membuka peluang untuk menggunakan teknologi nuklir asal China atau Rusia dalam rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Tanah Air.

Teknologi yang tengah dikaji adalah model small modular reactor (SMR), yang dianggap lebih cocok untuk kebutuhan nasional dibandingkan reaktor berkapasitas besar.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menjelaskan, pemerintah saat ini masih dalam tahap penjajakan teknologi. Sejumlah negara telah dikunjungi untuk meninjau kesiapan mereka dalam penerapan teknologi SMR, termasuk Kanada, Korea Selatan, China, dan Rusia.

"Jadi di Kanada ini apakah mereka memiliki SMR atau tidak? Ternyata tidak. Kemudian Korea Selatan juga kita jajaki, ternyata mereka memiliki kapasitas large scale. Jadi untuk teknologi yang ditawarkan katanya itu ada dari China atau dari Rusia," ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jakarta, yang dikutip Sabtu (21/6/2025).

Sebuah fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir di Jerman. [Shutterstock]
Sebuah fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir di Jerman. [Shutterstock]

Dengan fakta bahwa hanya China dan Rusia yang sudah memiliki teknologi SMR yang siap pakai, keduanya menjadi kandidat utama untuk kerja sama pengembangan PLTN di Indonesia. Selain soal kecocokan teknologi, pemerintah juga mempertimbangkan aspek tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dalam proyek ini.

"Ini kan kami mempertimbangkan teknologi terlebih dulu, dan juga persyaratan TKDN, kami mempersyaratkan untuk TKDN-nya sekitar 40 persen," kata Yuliot.

Dalam konteks tersebut, pemerintah menekankan bahwa teknologi yang diadopsi harus mampu diintegrasikan dengan kemampuan industri nasional agar memberikan dampak ekonomi lebih luas. Karena itu, TKDN menjadi salah satu syarat utama dalam proses seleksi mitra teknologi PLTN.

Lebih lanjut, Yuliot meminta agar publik bersabar menunggu hasil kunjungan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke Rusia yang turut mendampingi Presiden Prabowo Subianto. Ia mengisyaratkan bahwa pembahasan soal PLTN, termasuk kerja sama teknologi, bisa saja menjadi salah satu agenda dalam pertemuan bilateral tersebut.

"Ini mungkin dari kunjungan Pak Menteri kemarin, mungkin ada pembahasan. Kita tunggu penjelasan dari Pak Menteri," ucapnya.

baca juga

Sementara itu, Kementerian ESDM juga sedang mempersiapkan regulasi penting berupa Peraturan Pemerintah (PP) yang akan mengatur tata kelola pengolahan uranium menjadi bahan bakar nuklir untuk PLTN. Hal ini dilakukan sebagai langkah awal menuju pembangunan ekosistem energi nuklir yang terintegrasi.

Yuliot menyebut bahwa Indonesia memiliki potensi uranium yang cukup signifikan, terutama di wilayah Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, yang diperkirakan menyimpan cadangan hingga 24.112 ton.

"Ini kami lagi siapkan PP-nya, mudah-mudahan dari PP-nya itu bisa diimplementasikan untuk pemurnian pengolahan bahan radioaktif itu bisa dimanfaatkan untuk energi," kata dia.

Untuk diketahui, Pengembangan energi nuklir ini merupakan bagian dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2025–2034. Dalam rencana tersebut, pemerintah menetapkan target pembangunan dua unit PLTN berkapasitas masing-masing 250 megawatt (MW) yang berlokasi di Sumatera dan Kalimantan. Dengan demikian, total kapasitas listrik dari PLTN yang direncanakan mencapai 500 MW.

Pemerintah menargetkan pasokan listrik dari PLTN akan mulai masuk ke jaringan PLN pada periode 2032–2033.

Dari total target penambahan pembangkit tersebut, 42,6 GW dialokasikan untuk pembangkit berbasis EBT dan 16,6 GW berasal dari sumber energi fosil. Komposisi ini mencerminkan strategi jangka panjang pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis karbon dan mempercepat transisi menuju bauran energi yang lebih ramah lingkungan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bahlil Rayu Putin Berikan Teknologi Rusia Optimalkan Ladang Minyak Tua

Bahlil Rayu Putin Berikan Teknologi Rusia Optimalkan Ladang Minyak Tua

Bisnis | Sabtu, 21 Juni 2025 | 10:07 WIB

Punya Bahan Baku Uranium Melimpah, ESDM Bersiap Kembangkan Nuklir Jadi Listrik

Punya Bahan Baku Uranium Melimpah, ESDM Bersiap Kembangkan Nuklir Jadi Listrik

Bisnis | Jum'at, 20 Juni 2025 | 19:17 WIB

ESDM Beri Isyarat PT Gag Nikel Bisa Kembali Eskplorasi di Raja Ampat

ESDM Beri Isyarat PT Gag Nikel Bisa Kembali Eskplorasi di Raja Ampat

Bisnis | Jum'at, 20 Juni 2025 | 18:18 WIB

Terkini

Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang

Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang

Jabar | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 23:20 WIB

Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun

Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun

Bogor | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 23:15 WIB

Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel

Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel

Sumsel | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 23:11 WIB

Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan

Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan

Banten | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 23:06 WIB

Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan

Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan

Sumsel | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 22:55 WIB

Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week

Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 22:42 WIB

Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?

Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 22:10 WIB

Filosofi Baru Oscar Bruzon Mulai Menggila, Pemain Bhayangkara FC Dipaksa Beradaptasi

Filosofi Baru Oscar Bruzon Mulai Menggila, Pemain Bhayangkara FC Dipaksa Beradaptasi

Bola | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 21:35 WIB

Polda DIY Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul

Polda DIY Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 21:04 WIB

Puji Target Defisit Turun di RAPBN 2027, Habib Idrus Tetap Minta Keberpihakan pada Usaha Kecil

Puji Target Defisit Turun di RAPBN 2027, Habib Idrus Tetap Minta Keberpihakan pada Usaha Kecil

Banten | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 21:04 WIB

×