BI Guyur Likuiditas Rp 404 Triliun ke Bank-bank, Siapa Saja yang Dapat?

Kamis, 20 November 2025 | 09:56 WIB
BI Guyur Likuiditas Rp 404 Triliun ke Bank-bank, Siapa Saja yang Dapat?
Bank Indonesia. [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia mencairkan total insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp404,6 triliun hingga November 2025 guna dorong pertumbuhan kredit.
  • Insentif KLM tersebut disalurkan ke berbagai kelompok bank, termasuk BUMN, BUSN, BPD, dan KCBA, serta sektor prioritas tertentu.
  • Penguatan KLM efektif per Desember 2025 bertujuan mendorong penurunan suku bunga perbankan melalui komitmen penyaluran kredit dan suku bunga sejalan kebijakan BI.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mendorong kebijakan moneter juga didukung oleh kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM). Hal ini seiring dengan akselerasi digitalisasi sistem pembayaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan telah mencairan KLM untuk industri perbankan di Indonesia. Hingga minggu pertama November 2025, total insentif KLM mencapai Rp 404,6 triliuntelah dicairkan. 

"KLM diarahkan untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan. Hingga minggu pertama November 2025, total insentif KLM mencapai Rp404,6 triliun," ujarnya dalam dalam rapat Rapat Dewan Gubernur secara virtual, Rabu (19/11/2025).

Perry merinci, masing-masing disalurkan kepada kelompok bank BUMN sebesar Rp 179,4 triliun, disusul BUSN sebesar Rp 179,9 triliun, diikuti BPD sebesar Rp 39,3 triliun, dan KCBA sebesar Rp 6 triliun. 

Gubernur BI, Perry Warjiyo [Antara]
Gubernur BI, Perry Warjiyo [Antara]

"Secara sektoral, insentif KLM disalurkan kepada sektor-sektor prioritas yakni sektor Pertanian, Perdagangan dan Manufaktur, sektor Real Estate, Perumahan Rakyat, dan Konstruksi, sektor Transportasi, Pergudangan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta UMKM, Ultra Mikro, dan Hijau," bebernya.

Selain itu, Bank Indonesia telah memperkuat implementasi KLM yang berbasis kinerja dan berorientasi ke depan yang berlaku efektif mulai 1 Desember 2025.

Dalam penguatan ini, insentif likuiditas diberikan kepada bank yang berkomitmen menyalurkan kredit/pembiayaan kepada sektor tertentu (lending channel) dan menetapkan suku bunga kredit/pembiayaan yang sejalan dengan arah suku bunga kebijakan Bank Indonesia (interest rate channel).

Lalu, implementasi penguatan KLM tersebut diprakirakan dapat memberikan tambahan insentif likuiditas sekitar Rp 18,5 triliun dari insentif KLM saat ini.

Bank Indonesia memandang penguatan efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter terhadap penurunan suku bunga perbankan perlu terus ditempuh. 

Baca Juga: Bank Indonesia : Tahun Depan Beli Dimsum di China Bisa Bayar Pakai QRIS

Pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh Bank Indonesia dan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) Pemerintah di perbankan perlu diikuti dengan penurunan suku bunga perbankan lebih cepat. 

Seiring dengan penurunan BI-Rate sebesar 125 bps selama tahun 2025 dan ekspansi likuiditas moneter Bank Indonesia, suku bunga INDONIA turun sebesar 203 bps dari 6,03 persen pada awal 2025 menjadi 4,00 persen pada 18 November 2025. 

Lalu juga, penetapan suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan juga menurun masing-masing sebesar 254 bps, 256 bps, dan 257 bps sejak awal 2025 menjadi 24,62 persen, 4,65 persen dan 4,69 persen pada 14 November 2025. 

Sementara itu, hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat, ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga.

Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan bersama KSSK dalam memitigasi berbagai risiko ekonomi global dan domestik yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan.

Apa Itu KLM?

Kebijakan KLM ini memberikan ruang lebih bagi perbankan untuk menyalurkan pembiayaan, terutama ke sektor yang dinilai strategis bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

KLM merupakan insentif yang diberikan BI kepada bank dengan mekanisme pengurangan Giro Wajib Minimum (GWM) rata-rata. Dengan porsi GWM yang lebih rendah, bank memiliki cadangan likuiditas yang lebih longgar untuk mendukung ekspansi kredit.

Insentif tersebut menyasar bank-bank yang aktif menyalurkan kredit ke sektor prioritas yang telah ditetapkan pemerintah. Di antaranya sektor pertanian, industri, UMKM, perumahan, perdagangan, hingga pariwisata.

Dengan tambahan likuiditas tersebut, bank memiliki fleksibilitas lebih besar untuk memperluas pembiayaan. Efeknya tidak hanya mendorong pertumbuhan kredit, tetapi juga memperkuat aktivitas ekonomi dan memperbesar potensi penciptaan lapangan kerja.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI