Suara.com - Harga saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mengalami lonjakan signifikan di Bursa Efek Indonesia, mencatatkan kenaikan fantastis hampir sepuluh kali lipar sejak awal tahun 2025 (Year-to-Date).
Pada penutupan perdagangan Senin, 25 Agustus, saham emiten teknologi ini ditutup di harga Rp650 per saham. Kenaikan tajam ini menarik perhatian investor untuk melihat lebih dekat struktur kepemilikan dan rencana bisnis perseroan.
Didirikan sejak tahun 2016, INET beroperasi di segmen Business-to-Business (B2B), yang berarti seluruh layanan utamanya ditujukan kepada konsumen perusahaan dan korporasi. Layanan INET mencakup infrastruktur dan solusi digital penting, antara lain:
Data Center Interconnect (DCI): Jasa penghubung antar pusat data.
Local Loop & Local Access: Penyediaan jalur dan akses internet lokal.
Collocation: Penempatan server di pusat data milik klien.
Managed Service: Jasa pengelolaan perangkat keras seperti router, switch, dan tautan jaringan milik klien.
Saat ini, cakupan jaringan INET tersedia di delapan kota besar dan telah melayani lebih dari 100 klien serta lebih dari 600 gedung perkantoran.
Profil Pemilik Saham INET
Baca Juga: Waskita Karya Rampungkan Transaksi Divestasi Saham Jalan Tol Cimanggis - Cibitung Rp3,28 Triliun
Berdasarkan laporan registrasi pemegang saham per 31 Juli 2025, pemegang saham mayoritas sekaligus pengendali utama INET adalah:
PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara: Menguasai 5,36 miliar saham, setara dengan 63,75% dari total saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Masyarakat: Memegang sebanyak 3,04 miliar saham, atau setara dengan 36,24%.
Menariknya, di balik PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara, penerima manfaat akhir (Ultimate Beneficiary Owner) atau pemilik sesungguhnya dari saham INET adalah Adhie M. Massardi.
Profil Adhie M. Massardi: Dari Jurnalis ke Juru Bicara Presiden
Adhie M. Massardi (kelahiran Subang, 1956) dikenal sebagai sosok multidimensi yang berlatar belakang kuat di bidang penulisan, jurnalisme, hingga politik.
Mengawali kariernya sebagai jurnalis di Yogyakarta—tempat ia bergaul dengan tokoh seni seperti Emha Ainun Najib—Adhie pindah ke Jakarta dan menjadi redaktur di berbagai media terkemuka pada era 1970-an, termasuk Majalah Le Laki, Majalah Anita, hingga Majalah Kartini.
Pada masa puncaknya, Adhie bergabung dengan Grup Bakrie dan menjabat sebagai produser hingga Corporate Communications ANTeve.
Puncak karier politiknya adalah ketika ia dipercaya menjadi salah seorang Juru Bicara Presiden RI pada era kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (tahun 2000).
Lonjakan harga saham INET juga dipicu oleh sentimen positif dari rencana korporasi besar.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 20 Agustus silam, perseroan telah mengantongi izin untuk melakukan aksi korporasi rights issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), disertai penerbitan Waran Seri II.
Manajemen INET berencana menerbitkan 12,8 miliar saham baru dengan nominal Rp10 dan menerbitkan 3,2 miliar Waran Seri II.
Dana segar yang didapatkan dari aksi rights issue dan waran ini rencananya akan dialokasikan untuk pengembangan bisnis, baik untuk belanja modal maupun modal kerja.
INET kini tengah menggali prospek pengembangan usaha di dua proyek strategis, yaitu:
Proyek Submarine Cable (Kabel Bawah Laut).
Proyek pembangunan Fiber to the Home (FTTH).
Strategi ekspansi ini menunjukkan keseriusan INET untuk memperkuat posisinya di pasar infrastruktur digital Indonesia, didukung oleh modal segar yang menjanjikan.
Kontributor : Rizqi Amalia