Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Krisis BBM SPBU Swasta, Akankah Terulang Tahun Depan?

Tim Liputan Bisnis | Suara.com

Kamis, 11 Desember 2025 | 10:09 WIB
Krisis BBM SPBU Swasta, Akankah Terulang Tahun Depan?
Kelangkaan BBM SPBU Swasta pada 2025 dikhawatirkan akan terulang pada 2026. [Suara.com/Rohmat]
  • Kelangkaan BBM terjadi pada SPBU swasta (Shell, BP-AKR, Vivo) sejak Agustus 2025, selesai sementara dengan pembelian dari Pertamina November ini.
  • Penyebab utama kelangkaan adalah regulasi ESDM baru yang membatasi periode impor BBM swasta menjadi enam bulan.
  • Konsumen beralih ke SPBU swasta karena sentimen positif publik, mendorong lonjakan permintaan di luar kuota impor yang tersedia.

Suara.com - Salah satu fenomena menarik di 2025 ini adalah kelangkaan BBM Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU swasta. Setidaknya sejak Agustus lalu, SPBU-SPBU swasta mengeluh stok bensin mereka habis - situasi yang sebelumnya belum pernah terjadi di Tanah Air.

Masalah akhirnya bisa selesai ketika SPBU swasta seperti Shell, BP-AKR dan Vivo sepakat untuk membeli BBM dari Pertamina pada November ini. Tapi pertanyaanya, apakah kelangkaan BBM swasta ini akan terjadi lagi tahun depan? Apa penyebab kelangkaan BBM di SPBU swasta?

Konteks

Sejak akhir Agustus 2025, Shell, BP-AKR dan Vivo mengaku mulai mengalami kekurangan BBM, terutama jenis bensin dengan RON 92 dan RON 95. Sejumlah besar fasilitas SPBU mereka mulai berhenti berjualan bensin, tutup lebih cepat dan bahkan berhenti beroperasi sama sekali.

Para SPBU swasta tadinya ingin mengimpor langsung BBM untuk mengatasi kelangkaan. Tapi pemerintah melalui Kementerian ESDM pada September menawarkan untuk membeli base fuel atau BBM murni dari Pertamina. Tapi rencana itu tersendat, setelah ternyata BBM yang diimpor Pertamina sudah mengandung etanol dengan kadar 3,5 persen.

Setelah melalui negosiasi alot, tiga SPBU swasta yakni Vivo, BP-AKR dan Shell pada November dan Desember sepakat untuk membeli BBM base fuel dari Pertamina masing-masing 100.000 barel.

Mengapa BBM SPBU Swasta Cepat Habis?

Setidaknya ada tiga penyebab BBM SPBU swasta cepat habis pada tahun ini. Pertama adalah penerapan regulasi baru dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, yang memberikan izin impor BBM ke swasta per 6 bulan dari sebelumnya 1 tahun. Selai itu, izin juga akan dievaluasi setiap 3 bulan.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi, kepada Suara.com mengatakan regulasi baru ini adalah penyebab utama langkanya BBM di SPBU swasta.

Kelangkaan BBM SPBU Swasta pada 2025 dikhawatirkan akan terulang pada 2026. [Suara.com/Aldi]
Kelangkaan BBM SPBU Swasta pada 2025 dikhawatirkan akan terulang pada 2026. [Suara.com/Aldi]

"Saya rasa kelangkaan BBM di SPBU Swasta itu bukan semata-mata karena kekurangan kuota. Sebenarnya kuota lebih dari cukup, bahkan kan itu dilebihkan berapa persen itu ya. Tapi kelangkaan tadi itu lebih disebabkan oleh perubahan aturan Kementerian ESDM yang mengubah periode impor dari satu tahun jadi enam bulan," kata Fahmi.

Dengan aturan itu, waktu yang dibutuhkan SPBU swasta untuk impor BBM semakin sempit. Hal ini, lanjut dia, sama saja dengan memangkas kuota impor BBM hingga 50 persen.

Ini diperparah dengan regulasi baru Kementerian ESDM yang membatasi kuota impor BBM SPBU swasta sebesar 10 persen dari realisasi impor BBM tahun 2024.

Situasi ini semakin kritis karena konsumen kehilangan kepercayaan pada Pertamina, yang tahun ini berkali-kali dilanda masalah dengan kualitas BBM sampai pada isu bensin oplosan dalam kasus korupsi yang menyeret para petinggi perusahaan minyak negara tersebut.

"Ini intinya soal trust. Masyarakat merasa dikhianati," kata Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada Suara.com.

Penilaian Yannes ini dikonfirmasi oleh temuan dalam riset Indef pada September 2025. Dalam studi analisis sentimen di media sosial, Indef menemukan bahwa SPBU swasta mendapatkan sentimen positif di publik. Shell mendapatkan sentimen positif 71 persen, Vivo 80,5 persen, dan BP-AKR mencapai 78,9 persen.

Sementara Pertamina hanya mendapatkan sentimen positif sekitar 6 persen.

Di saat yang sama, Indef menemukan bahwa pangsa pasar SPBU swasta - khusus untuk BBM nonsubsidi - melonjak meski jumlah SPBU mereka sangat minim. Market share SPBU swasta naik menjadi 15 persen di periode Januari - Juli 2025, dari hanya 11 persen di 7 bulan pertama 2024. Di saat yang sama, market share Pertamina turun dari 89 persen ke 85 persen.

"Pertumbuhan ini menunjukkan pergeseran konsumen dari Pertamina ke swasta dalam segmen non-subsidi," terang Indef dalam studinya.

"Tingginya kepercayaan publik ini mendorong brand switching, sehingga permintaan BBM non-subsidi di SPBU swasta melonjak lebih cepat daripada kapasitas kuota impor yang tersedia," lanjut Indef.

Solusi 2026?

Kondisi kelangkaan BBM yang terjadi tahun ini diprediksi akan terulang di 2026. Yannes mengatakan jika ingin kondisi di 2026 berbeda, maka kuota untuk SPBU swasta tidak boleh dibatasi ketat.

"Kalau mau adil, harusnya kuota (SPBU swasta) harus ditambah," kata Yannes.

Tapi yang tak kalah penting menuru Yannes adalah Pertamina harus bisa kembali merebut kepercayaan konsumen.

"Kalau mau bicara fair trade harusnya Pertamina juga fight di kualitas dong. Bukan main monopoli, main kunci, main kunci kuota dan sebagainya," lanjut dia.

Sementara Fahmy menekankan perlunya perubahan peraturan yang membatasi impor BBM SPBU swasta.

"Menurut saya yang pertama peraturan yang menyusahkan untuk impor kembalikan kembali satu tahun, sehingga cukup waktu melakukan impor dari sumber mana pun," tegas dia.

Kementerian ESDM sendiri, pada Rabu (10/12/2025) mengaku tengah membahas volume kuota impor BBM SPBU swasta. Tercatat, Shell, Vivo hingga BP-AKR telah mengajukan kebutuhan kuota kebutuhan BBM untuk tahun 2026.

Dirjen Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengaku tengah menelaah volume yang diajukan, sebelumnya nantinya dipaparkan di hadapan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia.

"Tadi pagi, saya sedang rapat sama tim untuk paparan dulu di depan Pak Menteri, opsi-opsinya seperti apa," kata Laode.

Laode belum merinci berapa volume impor yang akan diberikan kepada badan usaha swasta. Angka pastinya, bakal diumumkan pada pekan depan.

"Insya Allah bisa dapatkan informasi opsinya seperti apa," kata Laode.

Lebih lanjut, Laode menyatakan tidak menutup kemungkinan pemerintah akan memberikan kuota tambahan sebesar 10 persen untuk tahun depan. Namun ditegaskannya penambahan kuota itu masih sekedar opsi.

Sebelumnya juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan untuk kuota impor BBM akan menyesuaikan neraca pasar masing-masing badan usaha swasta. Penjualan mereka pada tahun 2025 menjadi catatan.

"Volumenya tergantung pengajuan mereka masing-masing. Kita enggak bisa menduga-duga. Mereka ada kebutuhan tambahan atau enggak? Dilihat dari situ nantinya. Yang pasti menyesuaikan-lah dengan demand yang mereka di tahun berjalan 2025,” kata Anggia pada 26 November lalu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Singgung SPBU Swasta Ogah Beli Base Fuel dari Pertamina, Bahlil: Jadi Aja Tukang Pijit!

Singgung SPBU Swasta Ogah Beli Base Fuel dari Pertamina, Bahlil: Jadi Aja Tukang Pijit!

Bisnis | Senin, 08 Desember 2025 | 20:09 WIB

Bencana Sumatera Jadi Pertimbangan ESDM Terapkan Mandatori B50 di 2026

Bencana Sumatera Jadi Pertimbangan ESDM Terapkan Mandatori B50 di 2026

Bisnis | Sabtu, 06 Desember 2025 | 14:42 WIB

Purbaya Mau Ubah Skema Distribusi Subsidi, Ini kata ESDM

Purbaya Mau Ubah Skema Distribusi Subsidi, Ini kata ESDM

Bisnis | Jum'at, 05 Desember 2025 | 18:28 WIB

Krisis BBM Meluas di Tapanuli Akibat Bencana Banjir Sumatera

Krisis BBM Meluas di Tapanuli Akibat Bencana Banjir Sumatera

Foto | Rabu, 03 Desember 2025 | 10:00 WIB

Bahlil Relaksasi Aturan Beli BBM Pakai Barcode di Sumatra-Aceh

Bahlil Relaksasi Aturan Beli BBM Pakai Barcode di Sumatra-Aceh

Bisnis | Selasa, 02 Desember 2025 | 18:58 WIB

Terkini

Purbaya Klaim Program MBG hingga Kopdes Merah Putih Mulai Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Purbaya Klaim Program MBG hingga Kopdes Merah Putih Mulai Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 21:08 WIB

Bukan Cuma di Indonesia, MSCI Juga Bersih-bersih Indeks yang Berdampak ke Bursa Negara Lain

Bukan Cuma di Indonesia, MSCI Juga Bersih-bersih Indeks yang Berdampak ke Bursa Negara Lain

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 19:48 WIB

LPDB Koperasi Hadir di Pontianak, Dorong UMKM dan Koperasi Naik Kelas

LPDB Koperasi Hadir di Pontianak, Dorong UMKM dan Koperasi Naik Kelas

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 19:10 WIB

BI Jamin Uang Palsu Kini Lebih Mudah Dideteksi, Ini Ciri-cirinya

BI Jamin Uang Palsu Kini Lebih Mudah Dideteksi, Ini Ciri-cirinya

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 19:04 WIB

Solar yang Tersedia di SPBU Shell Berasal dari Pertamina

Solar yang Tersedia di SPBU Shell Berasal dari Pertamina

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:59 WIB

Pelemahan Rupiah Belum Beri Dampak pada Harga Pangan

Pelemahan Rupiah Belum Beri Dampak pada Harga Pangan

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:54 WIB

Perhatian! CNG Bukan Pengganti LPG 3 KG

Perhatian! CNG Bukan Pengganti LPG 3 KG

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:49 WIB

Ancaman Phishing Makin Brutal, Investor Mulai Pilih Sekuritas dengan Proteksi

Ancaman Phishing Makin Brutal, Investor Mulai Pilih Sekuritas dengan Proteksi

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:45 WIB

OJK Optimistis Banyak Emiten Indonesia Akan Masuk Index MSCI

OJK Optimistis Banyak Emiten Indonesia Akan Masuk Index MSCI

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:43 WIB

Pemerintah Gaspol Naikkan Kelas UMKM, Sertifikasi hingga HAKI Dipermudah

Pemerintah Gaspol Naikkan Kelas UMKM, Sertifikasi hingga HAKI Dipermudah

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:39 WIB