Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Harga Minyak Dunia Justru Melorot di Tengah Panasnya Penangkapan Presiden Maduro

Achmad Fauzi | Yaumal Asri Adi Hutasuhut | Suara.com

Selasa, 06 Januari 2026 | 11:25 WIB
Harga Minyak Dunia Justru Melorot di Tengah Panasnya Penangkapan Presiden Maduro
Ilustrasi Kilang Minyak Offshore
  • Harga minyak dunia pada Selasa, 6 Januari 2025, turun akibat potensi peningkatan suplai minyak mentah Venezuela pasca penangkapan Presiden Maduro oleh AS.
  • Penangkapan Maduro membuka peluang pencabutan embargo AS dan pemulihan produksi minyak Venezuela, memperkuat proyeksi surplus pasokan global 2026.
  • Jika suplai Venezuela naik, Arab Saudi mungkin memotong produksi untuk menjaga harga Brent tetap antara USD 55 hingga USD 60 per barel.

Suara.com - Harga minyak dunia tercatat mengalami penurunan pada perdagangan Selasa, 6 Januari 2025.  Harga terkoreksi karena pasar bereaksi terhadap potensi meningkatnya suplai minyak mentah dari Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh pihak AS. 

Situasi tersebut memperkuat proyeksi surplus pasokan global sepanjang tahun 2026 di tengah lesuhnya permintaan global. 

Mengutip dari Investing.com, harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,2 persen menjadi USD 61,62 per barel pada pukul 01.03 GMT. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 0,3 persen menjadi USD 58,15 per barel. 

Analis Marex, Ed Meir berpendapat penerapan strategi Presiden AS Donald Trump di Venezuela berpotensi mendorong kenaikan produksi minyak mentah di negara tersebut. 

Ilustrasi produksi minyak dan gas. [Antara/ndri Saputra/nym]
Ilustrasi produksi minyak dan gas. [Antara/ndri Saputra/nym]

"Saya pikir jika strategi Trump sebagian saja terwujud, produksi minyak mentah Venezuela seharusnya meningkat. Jika meningkat, akan ada lebih banyak tekanan pada pasar yang sudah kelebihan pasokan," kata Meir. 

Sementara itu berdasarkan survei yang dilakukan Reuters terhadap pada pedagang pada Desember 2025, telah memperkirakan harga minyak berada di bawah tekanan pada 2026 karena meningkatnya pasokan dan lemahnya permintaan. 

Tekanan harga minyak mentah dunia diperkirakan akan meningkat menyusul penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat pada Sabtu lalu. Peristiwa ini membuka jalan bagi pencabutan embargo minyak dan pemulihan output produksi negara tersebut. 

Menindaklanjuti hal itu, pemerintahan Donald Trump dilaporkan akan segera bertemu dengan jajaran eksekutif perusahaan minyak AS untuk membahas strategi percepatan produksi minyak di Venezuela.

Meskipun harga minyak sempat menguat lebih dari 1 persen  pada sesi sebelumnya karena pasar bereaksi terhadap ketidakpastian pengambilalihan kekuasaan oleh AS, masa depan pasar tetap dibayangi oleh potensi melimpahnya pasokan. 

Di sisi hukum, Maduro sendiri telah menyatakan tidak bersalah atas dakwaan penyelundupan narkotika dalam persidangan hari Senin.

Sebagai negara pendiri OPEC dengan cadangan minyak terbesar dunia mencapai 303 miliar barel, Venezuela sebenarnya memiliki peran sentral.

Namun, akibat sanksi AS yang berkepanjangan serta minimnya investasi, infrastruktur perminyakan mereka mengalami penurunan produksi yang  serius dalam beberapa tahun terakhir. Tercatat rata-rata produksi tahunan Venezuela sebanyak 1,1 juta barel per hari. 

Sejumlah analis memprediksi bahwa output minyak Venezuela berpotensi tumbuh sebesar 500 ribu barel per hari dalam dua tahun mendatang, dengan catatan kondisi politik stabil dan masuknya modal dari Amerika Serikat. 

"Dalam jangka panjang, keinginan yang dinyatakan oleh pemerintahan AS untuk meningkatkan pasokan minyak Venezuela kemungkinan akan memberikan dorongan negatif bersih bagi pasar," menurut analis Citi dalam catatan kepada kliennya.

Jika lonjakan pasokan dari Venezuela menyebabkan penumpukan stok global yang berlebihan, Arab Saudi dan sekutunya diperkirakan akan mengambil tindakan tegas dengan memotong kuota produksi. Langkah ini bertujuan untuk menjaga agar harga minyak mentah jenis Brent tetap berada di kisaran USD 55 hingga USD 60 per barel. 

Sementara itu, dalam pertemuan terbaru pada hari Minggu, aliansi OPEC+ telah memutuskan untuk tidak mengubah tingkat produksi mereka saat ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Minyak di Balik Serangan AS ke Venezuela, Mengapa China Paling Rugi?

Minyak di Balik Serangan AS ke Venezuela, Mengapa China Paling Rugi?

Bisnis | Selasa, 06 Januari 2026 | 06:56 WIB

Klaim Belum Berdampak, ESDM: Sumber Minyak RI Bukan dari Venezuela

Klaim Belum Berdampak, ESDM: Sumber Minyak RI Bukan dari Venezuela

Bisnis | Senin, 05 Januari 2026 | 20:36 WIB

Penangkapan Presiden Venezuela Bisa Guncang Pasar Kripto, Ini Alasannya

Penangkapan Presiden Venezuela Bisa Guncang Pasar Kripto, Ini Alasannya

Bisnis | Senin, 05 Januari 2026 | 17:57 WIB

Terkini

Misbakhun: APBN Mustahil Bangkrut

Misbakhun: APBN Mustahil Bangkrut

Bisnis | Sabtu, 23 Mei 2026 | 22:57 WIB

Ini Strategi BTN Salurkan Kredit Perumahan Bagi Masyarakat

Ini Strategi BTN Salurkan Kredit Perumahan Bagi Masyarakat

Bisnis | Sabtu, 23 Mei 2026 | 22:16 WIB

Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

Bisnis | Sabtu, 23 Mei 2026 | 20:21 WIB

Misbakhun Nilai Pelemahan Rupiah Sekarang Tak Seburuk 1998

Misbakhun Nilai Pelemahan Rupiah Sekarang Tak Seburuk 1998

Bisnis | Sabtu, 23 Mei 2026 | 17:23 WIB

IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi

IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi

Bisnis | Sabtu, 23 Mei 2026 | 16:27 WIB

Isu Sejumlah Merek Kendaraan Dilarang Beli Pertalite, Pertamina: Hoaks!

Isu Sejumlah Merek Kendaraan Dilarang Beli Pertalite, Pertamina: Hoaks!

Bisnis | Sabtu, 23 Mei 2026 | 14:48 WIB

Pasca-Blackout Sumatra, Pasokan Listrik 8,3 Juta Pelanggan Diklaim PLN Mulai Pulih

Pasca-Blackout Sumatra, Pasokan Listrik 8,3 Juta Pelanggan Diklaim PLN Mulai Pulih

Bisnis | Sabtu, 23 Mei 2026 | 14:01 WIB

Indikasi Awal, PLN Sebut Gangguan Cuaca jadi Penyebab Blackout di Sumatera

Indikasi Awal, PLN Sebut Gangguan Cuaca jadi Penyebab Blackout di Sumatera

Bisnis | Sabtu, 23 Mei 2026 | 12:26 WIB

LPS Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi dan Mitigasi Risiko Keuangan

LPS Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi dan Mitigasi Risiko Keuangan

Bisnis | Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:04 WIB

Aceh hingga Jambi Mati Blackout, Dirut PLN Minta Maaf!

Aceh hingga Jambi Mati Blackout, Dirut PLN Minta Maaf!

Bisnis | Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:41 WIB