- Pada Kamis, 8 Januari 2026, IHSG terkoreksi 0,22% menjadi 8.925 setelah sempat menembus 9.000.
- Pelemahan rupiah menjadi Rp 16.785 per dolar dipicu ketidakpastian geopolitik dan defisit APBN 2025.
- Defisit APBN 2025 mencapai 2,92 persen dari PDB, meski cadangan devisa naik menjadi USD 156,5 miliar.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya terkoreksi pada perdagangan Kamis, 8 Januari 2026, setelah tiga hari melesat secara berturut-turut p. Padahal IHSG, berhasil sempat menembus level tertinggi 9.000.
Namun, tekanan ambil untung tak bisa menahan laju arus positif IHSG, sehingga melemah 0,22 persen ke level 8.925.
Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya, tekanan jual terutama datang dari sektor basic material yang mencatatkan koreksi terbesar, setelah reli kuat dalam beberapa hari terakhir. Sebaliknya, sektor transportasi justru berhasil rebound dan menjadi sektor dengan penguatan tertinggi pada perdagangan hari ini.
Dari sisi eksternal, nilai tukar rupiah kembali melemah di pasar spot ke level Rp 16.785 per dolar AS. Pelemahan rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik global serta defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang tercatat lebih besar dari target pemerintah.
![Para investor diperingatakan untuk mewaspadai dinamika di bursa dengan IHSG yang terus menguat tapi tak sejalan dengan nilai tukar rupiah dan kondisi riil perusahaan. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/07/71919-ihsg.jpg)
Secara teknikal, pergerakan IHSG mulai menunjukkan sinyal kehati-hatian. Indikator Stochastic RSI berada di area overbought dan berpotensi membentuk death cross. Selain itu, pola shooting star yang terbentuk mengindikasikan peluang pembalikan arah setelah IHSG mencetak level tertinggi baru dalam beberapa hari terakhir.
Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan masih berpotensi melanjutkan koreksi dengan menguji area support di kisaran 8.850 hingga 8.900. Adapun level resistance berada di 8.970, dengan pivot di 8.900 dan support kuat di level 8.800.
Dari sisi fundamental, tekanan pasar juga datang dari data fiskal. Defisit APBN per Desember 2025 tercatat mencapai Rp 695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka ini lebih tinggi dibandingkan defisit tahun 2024 sebesar 2,3 persen dari PDB, serta melampaui target defisit APBN 2025 yang ditetapkan sebesar 2,53 persen dari PDB. Keseimbangan primer APBN juga mencatatkan defisit Rp180,7 triliun.
Sementara itu, realisasi penerimaan negara mencapai Rp 2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target, sedangkan belanja negara terealisasi Rp 2.602,3 triliun atau 96,3 persen dari pagu anggaran.
Baca Juga: Saham Garuda Indonesia (GIAA) Meroket Awal 2026, Ini Penyebabnya
Di tengah tekanan tersebut, kabar positif datang dari posisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi USD 156,5 miliar pada Desember 2025, naik dari US$150,1 miliar pada November 2025.
Kenaikan ini ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global pemerintah, serta penarikan pinjaman luar negeri. Posisi cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.
Trafik Perdagangan
Pada perdagangan hari ini, sebanyak 51,66 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 28,83 triliun, serta frekuensi sebanyak 3,71 juta kali.
Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 328 saham bergerak naik, sedangkan 380 saham mengalami penurunan, dan 250 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada Hari ini diantaranya, SMLE, KOCI, IFSH, RLCO, KIJA, MKAP, PBSA, NSSS, BSIM, BAIK, CRSN.