Saham Garuda Indonesia (GIAA) Meroket Awal 2026, Ini Penyebabnya

M Nurhadi Suara.Com
Kamis, 08 Januari 2026 | 16:28 WIB
Saham Garuda Indonesia (GIAA) Meroket Awal 2026, Ini Penyebabnya
Pesawat Garuda Indonesia dengan Livery Khusus Pikachu dan Aksen Batik/(Dok GIAA).
Baca 10 detik
  • Saham GIAA melonjak 9,76% pada 8 Januari 2026 dipicu pengalihan saham 3,74 miliar lembar dari Danantara AM kepada BP BUMN.
  • Transaksi jumbo pengalihan saham tersebut bernilai total Rp1,71 triliun dengan harga pelaksanaan Rp459 per saham.
  • Secara fundamental, Garuda Indonesia (GIAA) masih mencatatkan ekuitas negatif USD1,54 miliar hingga kuartal ketiga 2025.

Suara.com - Saham maskapai nasional, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), kembali menjadi pusat perhatian pelaku pasar modal di awal tahun 2026.

Hingga penutupan sesi I perdagangan Kamis (8/1), harga saham GIAA terpantau melonjak tajam sebesar 9,76 persen ke posisi Rp90 per lembar.

Lonjakan ini terjadi tak lama setelah adanya perubahan struktur kepemilikan saham yang melibatkan entitas pengelola aset negara.

Danantara Asset Management (Danantara AM) dilaporkan telah memindahkan sebagian porsi kepemilikannya kepada Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN).

Transaksi Jumbo Rp1,71 Triliun di Balik Layar

Berdasarkan keterbukaan informasi, Danantara AM melepas sebanyak 3,74 miliar lembar saham GIAA pada Rabu (7/1).

Menariknya, harga pelaksanaan dalam pengalihan kepada BP BUMN tersebut dipatok pada angka Rp459 per saham. Melalui skema ini, Danantara AM berhasil mengantongi dana taktis senilai Rp1,71 triliun.

Dampak dari transaksi tersebut, kepemilikan langsung Danantara AM di GIAA menyusut sekitar 0,92 persen menjadi 91,11 persen, dari posisi sebelumnya yang mencapai 92,031 persen.

Di sisi lain, Negara Republik Indonesia melalui BP BUMN kini resmi mendekap 0,92 persen saham atau setara dengan jumlah saham yang dilepas Danantara.

Baca Juga: Fakta-fakta Ekspansi NINE: Benarkah Akuisisi Tambang Mongolia Senilai Rp1,6 Triliun

Sepanjang perdagangan sesi I hari ini, antusiasme pasar terhadap GIAA tercermin dari volume transaksi yang mencapai 679,73 juta lembar dengan frekuensi sebanyak 1.600 kali, serta nilai transaksi total sebesar Rp5,97 miliar.

Meski demikian, perjalanan harga saham GIAA sepanjang setahun terakhir penuh dengan dinamika. Membuka tahun 2025 di level Rp54, emiten penerbangan ini sempat tertekan hingga menyentuh titik terendah di Rp31 pada Maret 2025.

Namun, GIAA sempat menunjukkan taringnya dengan reli panjang yang membawa harga saham mencapai level tertinggi Rp126 pada Oktober 2025. Menutup tahun 2025 dengan koreksi di level Rp98, secara akumulatif saham ini telah meroket 78,18 persen sepanjang tahun lalu.

Memasuki minggu pertama 2026, tren penurunan sebenarnya sempat membayangi hingga menyentuh Rp82 pada Rabu kemarin (turun 16,33 persen dari posisi akhir tahun).

Penguatan hari ini pun menjadi angin segar bagi investor yang berharap pada pemulihan tren harga jangka pendek.

Rapor Keuangan: Ekuitas Masih Negatif di Tengah Penurunan Pendapatan

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI