Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.790.000
Beli Rp2.670.000
IHSG 6.206,349
LQ45 631,211
Srikehati 317,836
JII 386,032
USD/IDR 17.738

Pengidap Autoimun Ini Ubah Tanaman Herbal Jadi Ladang Cuan, Omzet Tembus Ratusan Juta

Achmad Fauzi | Suara.com

Rabu, 11 Februari 2026 | 18:59 WIB
Pengidap Autoimun Ini Ubah Tanaman Herbal Jadi Ladang Cuan, Omzet Tembus Ratusan Juta
Junita Rany, pengidap Autoimun yang berhasil racik herbal jadi ladang cuan. [ist].
  • Juanita Rany mendirikan brand herbal Glaranadi tahun 2020 karena masalah autoimun, fokus pada minuman kesehatan.
  • Glaranadi sukses besar saat pandemi, kini menjual ribuan produk sebulan dan ekspor ke Singapura dan Malaysia.
  • Produk Glaranadi melayani keluhan mayoritas perempuan muda, dengan rencana sertifikasi BPOM dan Halal ke depan.

Suara.com - Pandemi Covid-19 menjadi titik balik dalam hidup Junita Rany. Berangkat dari persoalan kesehatan pribadi yang ia alami sebagai pengidap autoimun, perempuan ini justru meracik tanaman herbal menjadi produk kesehatan bernilai ekonomi.

Juanita adalah pendiri Glaranadi, brand herbal yang kini dikenal luas di platform e-commerce. Nama Glaranadi sendiri memiliki makna filosofis yang dalam.

Usaha Glaranadi bermula pada 2020. Saat itu, Juanita awalnya tertarik membuat produk skincare alami seperti sabun dan tinktur herbal. Namun kondisi kesehatannya yang menurun memaksanya untuk lebih fokus mencari solusi bagi tubuhnya sendiri.

"Saya kemudian meracik minuman kesehatan setelah banyak membaca buku dan konsultasi. Bahannya sebenarnya sama dengan yang biasa dipakai untuk skincare," imbuhnya saat dikutip, Rabu (11/2/2026).

Hasilnya di luar dugaan. Racikan herbal tersebut membantu Juanita tidur lebih nyenyak, meredakan inflamasi, sekaligus menenangkan pikiran dan emosi. Ketika dicoba dijual, respons pasar justru jauh lebih besar dibandingkan produk skincare.

Ilustrasi Tanaman Herbal. (Google AI Studio)
Ilustrasi Tanaman Herbal. (Google AI Studio)

"Ternyata minuman kesehatannya yang lebih laku. Dari situ saya putuskan fokus ke herbal," katanya.

Di awal usaha, penjualan Glaranadi terbilang sangat kecil. Juanita mengaku hanya mampu menjual dua pak produk dalam seminggu. Semua ia kerjakan sendiri, mulai dari produksi hingga pengemasan.

Lonjakan terjadi ketika ia mulai memanfaatkan fitur iklan di Shopee. Di masa pandemi, kebutuhan masyarakat terhadap produk peningkat imunitas melonjak tajam.

"Sekarang sebulan bisa terjual sekitar 7.000 sampai 8.000 pieces. Omzet kotor sudah menyentuh ratusan juta rupiah," ungkapnya.

Dari yang awalnya hanya memiliki 3-5 jenis produk, kini Glaranadi telah berkembang menjadi lebih dari 100 produk, mulai dari minuman herbal, teh celup, hingga makanan sehat seperti almond butter dan peanut butter.

Mayoritas konsumen Glaranadi adalah perempuan usia 17 hingga 35 tahun, dengan keluhan mulai dari jerawat hormonal, PCOS, gangguan tidur, hingga kecemasan. Menariknya, Juanita memilih terjun langsung melayani konsultasi konsumen melalui fitur chat.

"Saya banyak membalas chat sendiri. Dari situ saya tahu keluhan mereka dan itu jadi bahan untuk pengembangan produk baru," bebernya.

Bahan baku Glaranadi diperoleh langsung dari petani di Cirebon dan Jawa Tengah. Tantangan terbesar datang dari bahan musiman seperti rosella yang harganya bisa melonjak dua kali lipat di luar musim.

Meski begitu, jangkauan pasarnya terus meluas. Selain melayani pengiriman ke seluruh Indonesia, produk Glaranadi juga telah menembus pasar Singapura dan Malaysia melalui program ekspor Shopee.

"Kalau performa toko bagus, Shopee yang menawarkan program ekspor," jelas Juanita.

Ke depan, Juanita menargetkan sertifikasi Halal dan BPOM agar produknya bisa masuk ke jaringan ritel modern seperti Aeon dan Ranch Market. "Biaya BPOM memang tidak kecil, jadi kami mulai dari produk paling laku dulu," katanya.

Dari modal awal hanya Rp3–5 juta, Juanita membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkarya. Dengan memanfaatkan tanaman herbal dan teknologi digital, ia berhasil mengubah perjuangan melawan autoimun menjadi peluang usaha berkelanjutan.

"Kuncinya adalah memberi solusi nyata. Kalau produk kita bermanfaat, orang pasti kembali," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari 45.000 Sumur Rakyat, Baru 1 UMKM yang Berhasil Produksi Minyak

Dari 45.000 Sumur Rakyat, Baru 1 UMKM yang Berhasil Produksi Minyak

Bisnis | Rabu, 11 Februari 2026 | 18:38 WIB

Jurus BCA Gaet Para Pelaku Usaha Kakap Hingga UMKM Lewat Super App

Jurus BCA Gaet Para Pelaku Usaha Kakap Hingga UMKM Lewat Super App

Bisnis | Rabu, 11 Februari 2026 | 17:44 WIB

PNM Raih Sertifikat Label Taat Zakat sebagai Perusahaan Taat Zakat dari Baznas

PNM Raih Sertifikat Label Taat Zakat sebagai Perusahaan Taat Zakat dari Baznas

Bisnis | Rabu, 11 Februari 2026 | 17:14 WIB

Terkini

Di Tengah Lemahnya Rupiah, Kepercayaan Industri Naik ke Level 53,56

Di Tengah Lemahnya Rupiah, Kepercayaan Industri Naik ke Level 53,56

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:20 WIB

Infrastruktur Kompleks di Balik Layar: Mengapa Gangguan Platform Trading Sering Bikin Trader Panik?

Infrastruktur Kompleks di Balik Layar: Mengapa Gangguan Platform Trading Sering Bikin Trader Panik?

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:53 WIB

Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?

Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:48 WIB

Begini Cara Ubah Data Karyawan Jadi Mesin Pertumbuhan Bisnis

Begini Cara Ubah Data Karyawan Jadi Mesin Pertumbuhan Bisnis

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:42 WIB

Peruri Tegaskan Keberlanjutan Bukan Sekadar Kepatuhan, Tapi Strategi Ciptakan Nilai Bersama

Peruri Tegaskan Keberlanjutan Bukan Sekadar Kepatuhan, Tapi Strategi Ciptakan Nilai Bersama

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:35 WIB

Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital

Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:27 WIB

Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok

Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:16 WIB

Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah

Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:28 WIB

Ini Cara Miliki Rumah Lelang BTN, Harga Bisa 40% di Bawah Pasar

Ini Cara Miliki Rumah Lelang BTN, Harga Bisa 40% di Bawah Pasar

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 19:05 WIB

ESDM Bersiap Implementasi B50 pada 1 Juni, Jamin Tak Ganggu Stabilitas Industri Sawit

ESDM Bersiap Implementasi B50 pada 1 Juni, Jamin Tak Ganggu Stabilitas Industri Sawit

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 19:04 WIB