Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.790.000
Beli Rp2.670.000
IHSG 6.206,349
LQ45 631,211
Srikehati 317,836
JII 386,032
USD/IDR 17.738

Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Selasa, 26 Mei 2026 | 22:48 WIB
Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?
ilustrasi investasi (pexel/Leeloo The First)
  • Dominasi digital Cina di RI berisiko ancam kedaulatan digital bangsa.
  • Pemerintah diminta diversifikasi vendor demi amankan infrastruktur vital.
  • Regulasi ketat dan penegakan UU PDP mendesak guna cegah kebocoran data.

Suara.com - Arus digitalisasi yang makin kuat menuntut peningkatan akses digital bagi masyarakat Indonesia melalui infrastruktur dan perangkat terjangkau, seperti telepon pintar (smartphone) dan komputer. Masuknya investasi asing, khususnya dari Cina ke dalam ranah digital, dinilai menjadi potensi besar untuk mempercepat transformasi tersebut. Namun, pemerintah diimbau untuk tetap waspada terhadap risiko kerawanan akibat dominasi tersebut.

Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI), Johanes Herlijanto menegaskan, meningkatnya dominasi Cina dalam dunia digital di Indonesia berisiko menimbulkan ancaman bagi kedaulatan bangsa dalam aspek digital. Oleh karena itu, pemerintah diimbau untuk segera melakukan langkah mitigasi strategis.

"Pemerintah diimbau untuk meningkatkan diversifikasi rantai pasok, menghindari penguasaan infrastruktur vital oleh satu vendor atau satu negara, serta memanfaatkan diplomasi dengan beragam negara lain, seperti Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa, untuk memastikan rantai pasok teknologi kita bersih dan kompetitif," ujar Johanes dalam seminar publik berjudul “Diplomasi Digital China di Asia Tenggara: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia” di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Johanes, yang juga Dosen Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan, menambahkan bahwa pemerintah harus menggunakan otoritasnya untuk memaksa vendor asing tunduk pada yurisdiksi hukum Indonesia. Hal ini mencakup kepatuhan pada UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), kewajiban lokalisasi data untuk sektor strategis, serta audit keamanan yang transparan.

Dalam seminar yang dimoderatori oleh Sekretaris Umum FSI Muhammad Farid tersebut, Peneliti dari Australian Strategic Policy Institute (ASPI) Canberra, Gatra Priyandita, Ph.D, membeberkan kecanggihan program siber ofensif Cina. Menurut Gatra, Cina memiliki program siber ofensif paling canggih di dunia dengan fusi sipil-militer yang menghapus batas antara negara dan swasta.

Melalui program "Jalur Sutra Digital", Cina gencar menawarkan infrastruktur digital, konektivitas, dan pembangunan kapasitas ke negara berkembang, termasuk Asia Tenggara. Gatra menyebut siber ofensif ini bertujuan mengumpulkan intelijen strategis, akuisisi ekonomi, serta teknologi secara berkelanjutan di masa damai.

"Jalur Sutra Digital memunculkan kekhawatiran terkait ketergantungan teknologi, keamanan siber, dan pengaruh strategis China di Asia Tenggara. Infrastruktur yang dibangun bisa digunakan untuk memata-matai, menekan, dan dalam krisis, melumpuhkan sistem kritis kita," ungkap pakar lulusan Australian National University (ANU) tersebut.

Senada dengan Gatra, Guru Besar Ilmu Komputer Universitas Nusa Putra, Profesor Teddy Mantoro, M.Sc., Ph.D, menekankan bahwa posisi strategis Indonesia dengan populasi digital dan pasar e-commerce serta fintech terbesar di ASEAN menjadikan RI target utama ekspansi digital Cina. Cina memang menawarkan peluang ekonomi, namun Indonesia harus cerdas mengelolanya.

"Peluang ekonomi hanya menjadi aset strategis bila Indonesia mengubah investasi asing menjadi kapasitas domestik, dan bukan menjadi ketergantungan infrastruktur," tegas Profesor Teddy. Ia mengingatkan adanya risiko pemindahan data strategis tanpa kontrol dan fragmentasi kawasan akibat persaingan teknologi antara Cina dan Amerika Serikat yang merambah ke domain kecerdasan buatan (AI) hingga arsitektur keamanan.

Sementara itu, pemerhati keamanan regional Brigadir Jenderal TNI (Purn) Victor P. Tobing, M.Si (Han), mengaitkan ekspansi digital ini dengan strategi perang klasik Sun Tzu, yakni memenangkan pertempuran tanpa bertarung. Ia mengingatkan pentingnya Indonesia bersikap tangkas (agile) dan bijaksana dalam menghitung kesenjangan kekuatan teknologi demi menjaga kepentingan nasional. Victor juga mengajak publik mencermati ASEAN Digital Masterplan (ADM) 2030 yang kini berfokus pada prediksi rivalitas dan kegunaan ganda (dual-use) sipil-militer dari seluruh aktivitas digital di kawasan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp 5.500 Triliun, Tapi UMKM Masih Kurang Dana

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp 5.500 Triliun, Tapi UMKM Masih Kurang Dana

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:51 WIB

Sukuk ST016 Jadi Pilihan Investasi Syariah Minim Risiko dengan Imbal Hasil Menarik

Sukuk ST016 Jadi Pilihan Investasi Syariah Minim Risiko dengan Imbal Hasil Menarik

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 11:25 WIB

SeaBank Raup Laba Bersih Rp 375,6 Miliar di Q1 2026, Melonjak 288%

SeaBank Raup Laba Bersih Rp 375,6 Miliar di Q1 2026, Melonjak 288%

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 09:20 WIB

Terkini

Begini Cara Ubah Data Karyawan Jadi Mesin Pertumbuhan Bisnis

Begini Cara Ubah Data Karyawan Jadi Mesin Pertumbuhan Bisnis

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:42 WIB

Peruri Tegaskan Keberlanjutan Bukan Sekadar Kepatuhan, Tapi Strategi Ciptakan Nilai Bersama

Peruri Tegaskan Keberlanjutan Bukan Sekadar Kepatuhan, Tapi Strategi Ciptakan Nilai Bersama

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:35 WIB

Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital

Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:27 WIB

Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok

Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:16 WIB

Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah

Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:28 WIB

Ini Cara Miliki Rumah Lelang BTN, Harga Bisa 40% di Bawah Pasar

Ini Cara Miliki Rumah Lelang BTN, Harga Bisa 40% di Bawah Pasar

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 19:05 WIB

ESDM Bersiap Implementasi B50 pada 1 Juni, Jamin Tak Ganggu Stabilitas Industri Sawit

ESDM Bersiap Implementasi B50 pada 1 Juni, Jamin Tak Ganggu Stabilitas Industri Sawit

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 19:04 WIB

ESDM Segel Perusahaan Pengolahan BBM di Banten, Gali Unsur Pidana

ESDM Segel Perusahaan Pengolahan BBM di Banten, Gali Unsur Pidana

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:57 WIB

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp 5.500 Triliun, Tapi UMKM Masih Kurang Dana

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp 5.500 Triliun, Tapi UMKM Masih Kurang Dana

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:51 WIB

Saham Konglomerasi Jadi Incaran Investor Asing Lakukan Aksi Jual Rp 1,88 Triliun Hari Ini

Saham Konglomerasi Jadi Incaran Investor Asing Lakukan Aksi Jual Rp 1,88 Triliun Hari Ini

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:31 WIB