- Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan pemangkasan kuota batu bara 2026 bertujuan menjaga nilai keekonomian komoditas.
- Keputusan pemotongan produksi batu bara didorong karena harga komoditas tersebut dikendalikan oleh pihak asing.
- Kuota produksi batu bara 2026 diperkirakan turun menjadi 600 juta ton dari realisasi 790 juta ton tahun 2025.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkap alasan di balik rencana pemangkasan kuota produksi batu bara pada 2026.
Menurutnya, langkah ini bertujuan untuk menjaga nilai keekonomian komoditas tersebut. Sebab, kata Bahlil harga batu bara di kendali pihak asing.
"Sekarang kan RKAB kan kita lagi potong nih. Kenapa RKAB itu kita potong? Karena supply and demand. Harga batu bara kita dikendalikan oleh asing," ujar Bahlil dalam Kuliah Umum Media Indonesia di Jakarta pada Kamis (12/2/2025).
Meski belum diputuskan, secara resmi kuota produksi batubara pada 2026 diperkirakan menjadi sekitar 600 juta ton dari realisasi sebelumnya 790 juta ton pada 2025.
![Sejumlah alat berat dioperasikan untuk mengumpulkan batu bara di salah satu tempat penampungan (stockpile) batu bara kawasan pantai Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Jumat (9/1/2026). [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/02/83725-batu-bara.jpg)
Sementara, nikel menjadi di kisaran 250-260 juta ton dari sebelumnya dalam RKAB 2025 sebesar 379 juta ton.
Bahlil menyebut, bahwa total konsumsi batu bara global mencapai 8,9 miliar ton, dan yang diperdagangkan sebesar 1,3 miliar ton. Sementara Indonesia menyuplai ke luar negeri sebesar 560 juta ton.
"Itu 43 sampai 44 persen. Tapi harganya bukan kita yang mengendalikan. Ini kan abu leke , ini namanya. Saya naikkan HBA, mereka ikut. Tapi itu hanya bayar pajaknya," kata Bahlil.
Atas dasar itu, Bahlil menegaskan guna mengendalikan harga tersebut pemerintah akan memangkas produksi batu bara.
"Maka saya bilang kalau begitu kita pakai hukum ekonomi. Supply and demand. Jadi kalau kita produksinya banyak, peminatnya sedikit, harganya murah. Kita buat aja keseimbangan. Berapa konsumsi, itu yang diproduksi," bebernya Bahlil.
Baca Juga: Bahlil Sindir Purbaya Lagi, Kali Ini Soal Lifting Minyak