Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.394,125
LQ45 627,469
Srikehati 306,090
JII 380,924
USD/IDR 17.839

Punya Cadangan Uranium dan Thorium, Pakar Dorong Pemerintah Segera Bangun PLTN

Achmad Fauzi

Minggu, 15 Februari 2026 | 20:42 WIB
Punya Cadangan Uranium dan Thorium, Pakar Dorong Pemerintah Segera Bangun PLTN
Ilustrasi fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir. [Shutterstock]
baca 10 detik
  • Pakar energi Indonesia mendorong realisasi PLTN karena Indonesia memiliki modal SDM dan sumber daya alam seperti uranium dan thorium.
  • Pakar menilai Small Modular Reactor (SMR) lebih cocok untuk Indonesia dibandingkan PLTN konvensional karena fleksibilitas kapasitasnya.
  • PLTN dinilai unggul dalam densitas energi, menghasilkan listrik besar stabil, serta merupakan sumber energi bersih tanpa emisi karbon.

Suara.com - Sejumlah pakar energi dari berbagai universitas di Indonesia mendorong pemerintah segera merealisasikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Mereka menilai Indonesia memiliki modal kuat, mulai dari sumber daya alam hingga kapasitas sumber daya manusia, untuk mengembangkan energi nuklir dalam negeri.

Pakar energi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Muhammad Bachtiar Nappu, menyebut Indonesia memiliki sumber daya uranium dan thorium yang menjadi bahan baku dasar nuklir. Cadangan tersebut tersebar di sejumlah wilayah seperti Bangka Belitung, Kalimantan, hingga Mamuju.

"Maka PLTN modular dalam bentuk SMR (Small Modular Reactor) itu truly energy security for the future adalah PLTN, tapi dalam bentuk yang small," ujar Bachtiar dalam keterangannya, Minggu (15/02/2026).

Menurut dia, sebagai negara kepulauan, Indonesia lebih cocok mengembangkan reaktor modular skala kecil atau SMR dibanding PLTN konvensional berkapasitas besar. Selain fleksibel, pembangunannya dapat dilakukan bertahap sesuai kebutuhan daerah.

Profil PLTN Zaporizhzhia Ukrain (Azernews.az)
Profil PLTN Zaporizhzhia Ukrain (Azernews.az)

"Lebih baik dibangun yang small ini daripada PLTN konvensional. Karena PLTN konvensional minimal kapasitasnya 1.000 MW. Tapi kalau small, misalnya 50 MW," jelas Bachtiar.

Dukungan serupa datang dari pakar energi Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi Balikpapan (STT Migas) Balikpapan, Andi Jumardi. Ia menilai nuklir merupakan energi masa depan yang bernilai ekonomis, terutama bagi negara berpenduduk besar seperti Indonesia.

"Apalagi untuk negara dengan populasi besar seperti Indonesia, karena harganya relatif lebih murah dibanding energi fosil," bebernya.

Andi juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kompeten untuk mengembangkan energi nuklir. Selain itu, Indonesia juga memiliki cadangan uranium di Kalimantan Barat.

"Kalau dari riset yang pernah saya lakukan, dari sisi sumber daya manusia kita sangat kompeten untuk pengembangan energi nuklir. Kita juga punya cadangan uranium di Kalimantan Barat. Kasus Fukushima itu force majeure karena bencana alam yang luar biasa. Dari situ, teknologi terus berkembang untuk mengantisipasi risiko serupa di masa depan," tegasnya.

baca juga

Sementara itu, Peneliti dari Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra, menilai keunggulan PLTN juga terletak pada aspek teknis dan efisiensi energi.

“PLTN itu unggul dari sisi densitas energi. Dengan bahan bakar yang sangat kecil, kita bisa menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan stabil,” kata Ary dalam keterangannya.

Ia menambahkan, dari sisi emisi, PLTN termasuk sumber energi bersih karena tidak menghasilkan karbon dioksida dalam proses pembangkitannya. Hal ini dinilai relevan dengan target penurunan emisi nasional.

"Secara proses, nuklir itu bersih. Tidak ada emisi karbon, yang ada hanya panas untuk memutar turbin," imbuhnya.

Ary juga menekankan bahwa tantangan utama pengembangan PLTN di Indonesia bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur, serta integrasi dengan kawasan industri.

"Teknologi sekarang jauh lebih aman dibanding masa lalu. Sistemnya makin otomatis, kontrolnya ketat, dan ketergantungan pada faktor manusia semakin kecil. Dengan teknologi terbaru, risiko itu bisa ditekan sangat rendah. Nuklir sering diserang lewat isu lingkungan, padahal kalau dibandingkan, pembangkit fosil justru jauh lebih mencemari," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

RI Bakal Punya Pembangkit Nuklir, Hashim Djojohadikusumo: 70 Gigawatt Akan Dibangun

RI Bakal Punya Pembangkit Nuklir, Hashim Djojohadikusumo: 70 Gigawatt Akan Dibangun

Bisnis | Rabu, 04 Februari 2026 | 13:48 WIB

Nuklir Jadi Prioritas Pemerintah, Bahlil Lahadalia Pimpin Dewan Energi Nasional

Nuklir Jadi Prioritas Pemerintah, Bahlil Lahadalia Pimpin Dewan Energi Nasional

Bisnis | Rabu, 28 Januari 2026 | 17:50 WIB

Indonesia Semakin Dekat Garap Proyek Nuklir Bareng Rusia

Indonesia Semakin Dekat Garap Proyek Nuklir Bareng Rusia

Bisnis | Minggu, 25 Januari 2026 | 10:30 WIB

Terkini

TPNPB-OPM Klaim Tembaki Aparat di Tolikara, Warga Diancam Jadi Target

TPNPB-OPM Klaim Tembaki Aparat di Tolikara, Warga Diancam Jadi Target

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:02 WIB

Hamsad Rangkuti dan Kisah Perjuangan Melawan Tentara NICA dalam BukuKereta Pagi Jam 5

Hamsad Rangkuti dan Kisah Perjuangan Melawan Tentara NICA dalam BukuKereta Pagi Jam 5

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:00 WIB

Bukan Pengangkatan Otomatis, Begini Skema Guru PPPK Jadi PNS pada 2027

Bukan Pengangkatan Otomatis, Begini Skema Guru PPPK Jadi PNS pada 2027

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:56 WIB

Riset CORE Ungkap Trik Pemerintah Sembunyikan Utang, Dari Whoosh hingga Burden Sharing BI

Riset CORE Ungkap Trik Pemerintah Sembunyikan Utang, Dari Whoosh hingga Burden Sharing BI

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:55 WIB

Kalau Belum Siap Bertanggung Jawab, Pertimbangkan Lagi Punya Anak

Kalau Belum Siap Bertanggung Jawab, Pertimbangkan Lagi Punya Anak

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:50 WIB

Sengketa Batas Tanah di Tasikmalaya Berujung Maut, Satu Orang Tewas

Sengketa Batas Tanah di Tasikmalaya Berujung Maut, Satu Orang Tewas

Jabar | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:36 WIB

Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan

Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan

Entertainment | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:33 WIB

Bukan Pertumbuhan Ekonomi, Riset CORE Bongkar RAPBN 2027 Justru Bikin Anggaran Makin Ketat

Bukan Pertumbuhan Ekonomi, Riset CORE Bongkar RAPBN 2027 Justru Bikin Anggaran Makin Ketat

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:32 WIB

Diperiksa KPK 7 Jam, Bupati Kuansing Bungkam Soal Selisih Amplop di Meja Raja Juli

Diperiksa KPK 7 Jam, Bupati Kuansing Bungkam Soal Selisih Amplop di Meja Raja Juli

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:32 WIB

Dari Dapur Rumah ke Restoran, Bisnis Alumni SisBerdaya Ini Catat Kenaikan Omzet 70%

Dari Dapur Rumah ke Restoran, Bisnis Alumni SisBerdaya Ini Catat Kenaikan Omzet 70%

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:30 WIB

×