- IHSG melemah 21 poin (0,25 persen) menjadi 8.374 pada perdagangan Selasa, 24 Februari 2026 akibat sentimen kurang kondusif.
- Tekanan eksternal berasal dari ancaman kenaikan tarif global oleh Presiden AS serta kebijakan suku bunga Tiongkok yang bertahan.
- Data domestik menunjukkan defisit APBN Januari 2026 mencapai Rp 54,6 triliun, mencerminkan akselerasi belanja awal tahun pemerintah.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meloyo pada sesi pertama perdagangan, Selasa, 24 Februari 2026. IHSG melemah 21 poin atau turun 0,25 persen ke level 8.374.
Berdasarkan riset Day Break Review Pilarmas Investindo Sekuritas, tekanan terhadap indeks datang dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang kurang kondusif.
Dari eksternal, bursa Asia bergerak variatif di tengah meningkatnya ketidakpastian perdagangan Amerika Serikat (AS). Pernyataan Presiden AS Donald Trump kembali memicu volatilitas pasar setelah mengancam akan menaikkan tarif global dari 10 persen menjadi 15 persen.
Langkah tersebut disebut sebagai respons atas putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif darurat sebelumnya. Trump juga memperingatkan bahwa negara-negara yang mencoba keluar dari kesepakatan perdagangan baru dengan AS bisa menghadapi bea masuk yang lebih tinggi dari sebelumnya.
![IHSG ditutup melemah 94,42 poin atau 1,21 persen ke posisi 7.736,07 pada penutupan perdagangan Senin (1/9/2025). [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/09/01/53454-ihsg-ditutup-melemah-9442-poin.jpg)
Di sisi lain, dari Tiongkok, People's Bank of China (PBOC) memutuskan mempertahankan suku bunga Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun di 3,0 persen dan lima tahun di 3,5 persen. Kebijakan ini dinilai mencerminkan sikap hati-hati otoritas dalam menyeimbangkan dukungan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.
Sementara dari dalam negeri, pasar merespons data defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Januari 2026. Menteri Keuangan melaporkan APBN mengalami defisit Rp 54,6 triliun atau sekitar 0,21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per 31 Januari 2026.
Belanja negara tercatat sebesar Rp 227,3 triliun atau 5,9 persen dari pagu APBN, sedangkan pendapatan negara mencapai Rp 172,7 triliun. Dalam jangka pendek, defisit ini dipandang sebagai strategi akselerasi belanja pemerintah di awal tahun guna mendorong konsumsi dan investasi publik demi menopang pertumbuhan ekonomi kuartal I.
Namun, dalam jangka panjang, pasar tetap mencermati potensi risiko fiskal apabila tekanan terhadap APBN tidak dikelola dengan optimal. Pelebaran defisit di atas target berpotensi meningkatkan risiko terhadap stabilitas fiskal nasional.
Trafik Perdagangan
Baca Juga: IHSG Lanjutkan Tren Positif pada Selasa Pagi, Melesat ke Level 8.400
Pada perdagangan pada hari ini, sebanyak 27,25 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 12,66 triliun, serta frekuensi sebanyak 1,83 juta kali.
Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 251 saham bergerak naik, sedangkan 438 saham mengalami penurunan, dan 269 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada Hari ini diantaranya, AIMS, SKBM, MEGA, TFAS, XPSG, YELO, PPRE, DIVA, KIOS, LPKR, SOFA, MGLV.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, INDS, XISC, APLI, HILL, CANI, XIFE, RMKO, ASLI, KOCI, XIPB, KSIX, PART.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi. Investor disarankan untuk melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan.