- Serangan drone Iran menghentikan produksi LNG Qatar dan memaksa penutupan kilang minyak Arab Saudi, memicu kenaikan harga gas Eropa 45%.
- Hari ketiga perang, korban militer AS bertambah, dan Inggris menembak jatuh drone Iran yang menuju pangkalan mereka di Siprus.
- Militer AS mengkhawatirkan penipisan stok rudal dan pencegat jika konflik berkepanjangan, sementara Inggris merencanakan evakuasi warga negara.
Suara.com - Memasuki hari ketiga perang besar antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran, dampak ekonomi global mulai mencapai titik kritis.
Daily Mail elaporkan harga gas di pasar Eropa melonjak drastis hingga 45 persen pada Senin (2/3/2026).
Kenaikan ekstrem ini dipicu oleh terhentinya produksi gas alam cair (LNG) dari Qatar, salah satu eksportir terbesar di dunia, pasca-serangan pesawat nirawak (drone) Iran.
Perusahaan energi negara Qatar mengumumkan penghentian total operasional produksi LNG menyusul dua serangan yang menghantam wilayah Ras Laffan dan Mesaieed.
Langkah ini diambil bersamaan dengan keputusan Qatar untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Teheran.
Situasi serupa terjadi di sektor minyak. Arab Saudi secara dramatis menghentikan seluruh operasional di Ras Tanura, salah satu kilang minyak terbesar di dunia, setelah dihantam serangan drone Iran lainnya.
Kementerian Pertahanan Saudi mengonfirmasi bahwa mereka berhasil mencegat dan menghancurkan dua rudal yang mengarah ke fasilitas yang memproduksi sekitar 550.000 barel per hari tersebut.
Meskipun berhasil dicegat, ancaman keamanan yang tinggi memaksa otoritas mengunci total (shutdown) fasilitas yang merupakan tulang punggung energi kerajaan tersebut.
Pengamat Timur Tengah menilai serangan ini merupakan "eskalasi signifikan" yang hampir dipastikan bakal menyeret Arab Saudi lebih dalam ke dalam koalisi militer AS-Israel.
Baca Juga: Terpopuler: Mantan Presiden Iran Ungkap Ampuhnya Mossad, Bisakah Gadai TV dan Smartwatch?
Update Perang AS-Israel vs Iran: Hari Ketiga
Hingga Senin malam, situasi di medan tempur terus memanas setelah Iran secara resmi menolak ultimatum Presiden Donald Trump untuk meletakkan senjata. Berikut adalah poin-poin krusial yang perlu diketahui:
- Korban Militer AS Bertambah: Gedung Putih mengonfirmasi prajurit keempat Amerika Serikat tewas sejak pertempuran dimulai hari Sabtu lalu.
- Insiden 'Friendly Fire': Tiga jet tempur F-15 milik AS dilaporkan jatuh di dekat Kedutaan Besar di Kuwait dalam insiden salah tembak oleh kawan sendiri (friendly fire), meski seluruh kru dikabarkan selamat.
- Keterlibatan Inggris: Angkatan Udara Inggris (RAF) menembak jatuh dua drone tempur Iran yang mengarah ke pangkalan militer mereka di Siprus. Sementara itu, PM Inggris Sir Keir Starmer sempat dikritik Trump karena awalnya membatasi penggunaan pangkalan Inggris untuk menyerang Iran.
- Stok Persenjataan AS: Pejabat militer Amerika memperingatkan bahwa stok rudal dan pencegat (interceptor) milik AS terancam habis jika perang dengan Iran ini terus berlanjut dalam jangka waktu lama.
- Operasi Evakuasi Massal: Pemerintah Inggris tengah menyusun rencana penyelamatan darurat bagi sekitar 300.000 warga negaranya yang terjebak di zona konflik yang menjadi target serangan Iran.
Lonjakan harga gas Eropa sebesar 45% dan harga minyak dunia yang terus mendaki menjadi alarm keras bagi kebijakan fiskal dalam negeri.
Indonesia, yang bergantung pada impor energi, berisiko menghadapi tekanan inflasi dari sektor logistik dan transportasi jika kenaikan harga energi global ini tidak segera melandai.