- Perang AS dan Israel terhadap Iran mengganggu lalu lintas tanker di Selat Hormuz, menyebabkan harga minyak dunia naik signifikan pada 2 Maret 2026.
- Gangguan di Selat Hormuz memicu kenaikan harga minyak Brent dan WTI, serta berpotensi menaikkan harga BBM domestik Indonesia akibat pelemahan rupiah.
- Pemerintah Indonesia berupaya mencari sumber minyak alternatif dan mempertimbangkan penambahan subsidi BBM dengan mengalihkan anggaran lain.
Suara.com - Perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran mengancam pasokan minyak dunia dan membuat harga naik. Perang di Teluk membuat lalu lintas kapal-kapal tanker di Selat Hormuz terganggu.
Hingga Senin (2/3/2026), sebagian besar tanker yang beroperasi di Selat Hormuz menghentikan operasi mereka. Mersk, salah satu operator tanker terbesar dunia sejak Minggu (1/3/2026) melarang kapal-kapalnya untuk masuk atau keluar dari Selat Hormuz karena khawatir jadi sasaran pihak-pihak yang bertempur.
Alhasil harga minyak dunia pun naik drastis. Tercatat pada awal perdagangan hari ini harga minyak Brent sempat melesat ke angka USD 82,37 per barel, rekor tertinggi sejak Januari 2025. Belakangan menjadi USD 78,24 per barel, naik signifikan sebesar 7,37 persen.
Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate AS naik USD 4,66, atau 6,95 persen menjadi USD 71,68 per barel setelah sebelumnya menyentuh USD 75,33, level.
Mengapa hal itu bisa terjadi dan apa dampaknya di Indonesia yang masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari? Masih mungkinkah Pertamina menjual Pertalite di harga Rp 10.000 per liter?
Di mana Selat Hormuz?
Selat Hormuz adalah jalur ekspor minyak paling penting di dunia. Ia menyambungkan para produsen minyak terbesar di Teluk seperti Arab Saudi, Iran, Irak dan Uni Emirat Arab dengan negara-negara lain yang menjadi pembeli minyak dunia.
Iran berada di utara Selat Hormuz, sementara di bagian selatannya ada Oman dan Uni Emirat Arab. Lebarnya di pintu masuknya sekitar 50 km, sementara di titik paling sempit hanya sekitar 33 km.
Berapa banyak minyak dan gas yang melewati Selat Hormuz per hari?
Menurut badan informasi energi Amerika Serikat (EIA), sekitar 20 juta barel minyak melewati Selat Hormuz setiap hari pada 2024 lalu. Itu setara dengan 500 miliar dolar AS nilai perdagangan energi dunia.
Selain minyak, selat Hormuz juga jalur ekspor gas alam atau LNG. Pada 2024, sekitar 20 persen LNG diangkut melewat jalur tersebut. Produsen utama gas yang menggunakan jalur itu adalah Qatar.
![Harga minyak dunia, termasuk di Indonesia terancam naik akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel vs Iran di Teluk, yang membuat jalur perdangan minyak dunia di Selat Hormuz tak bisa dilewati. [Suara.com/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/03/02/34287-perang-iran-selat-hormuz-dan-harga-minyak-dunia.jpg)
Dari dan ke mana minyak itu dibawa?
Pada 2024, menurut EIA, 84 persen minyak mentah yang melewati Selat Hormuz diangkut ke negara-negara Asia. Demikian juga LNG yang melewati jalur itu sekitar 83 persen tujuannya ke Asia.
Negara apa saja yang membelinya? China, Jepang dan Korea Selatan - tiga negara industri terbesar di Asia - adalah pembeli terbesar minyak yang berasal dari Teluk. Sebanyak 60 persen minyak dan gas yang melewat Selat Hormuz bermuara di tiga negara itu.
Ia mengingatkan sekitar 70 persen kapasitas produksi OPEC+ - organisasi negara-negara penghasil minyak terbesar dunia - berada di Teluk.
Menurut data EIA, Arab Saudi adalah negara yang paling bergantung pada Selat Hormuz untuk urusan ekspor minyak. Sebanyak 5,5 juta barel minyak Saudi diangkut via Selat Hormuz setiap hari. Jumlah ini tak ada tandingannya di Teluk.
Iran mengekspor sekitar 1,7 juta barel minyak lewat Selat Hormuz per hari pada 2025. Sekitar 90 persen di antaranya dijual ke China.
Apa dampaknya ke ekonomi dunia?
Blokade Selat Hormuz atau bahkan penutupan sebagian jalur strategis itu akan membuat harga minyak dunia melonjak dalam jangka pendek.
"Tidak ada sumber lain yang bisa menggantikan minyak yang datang dari Teluk," kata Colby Connelly, analis wilayah Timur Tengah pada Energy Intelligence kepada Al Jazeera belum lama ini.
Connely memperingatkan harga minyak bisa melonjak di atas 100 dolar AS per barel jika ada gangguan signifikan di Selat Hormuz. Hingga 27 Februari, harga minyak dunia masih di kisaran 63 dolar per barel. Naiknya harga minyak artinya membuat harga bahan bakar melonjak.
China diperkirakan sebagai negara yang terdampak cukup parah, karena ekonominya sangat bergantung pada manufaktur dan ekspor. Jika harga minyak naik, maka produk ekspornya tak lagi bisa dijual dengan harga murah karena ongkos produksi yang naik.
India juga akan menjerit. Karena 60 persen pasokan gas alamnya diangkut via Selat Hormuz. Korea Selatan juga akan tercekik, 60 persen minyak mentah yang diimpor juga melewati Selat Hormuz. Sementara tiga perempat minyak Jepang juga diangkut lewat jalur yang sama.
Bagaimana dengan Indonesia?
Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan harga BBM Indonesia berpotensi naik jika harga minyak internasional melonjak akibat perang. Naiknya harga ini diperparah oleh kian melemahnya nilai tukar rupiah akibat perang dan laju inflasi domestik.
"Nah harga minyak dunia sekarang tinggi, rupiah sangat melemah, inflasi memang masih rendah. Tapi begitu dinaikkan harga maka akan terjadi kenaikan inflasi," kata Fahmy saat dihubungi Suara.com pada Senin.
Ia mengingatkan harga minyak dunia yang sempat berada di 82 dolar AS per barel telah melampaui asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) di APBN 2026 yang tercatat sebesar USD 70 per barel. Artinya, terdapat selisih USD 10. Jika harga terus naik, otomatis APBN akan terus terbebani.
Kondisi ini menempatkan pemerintah pada dilema sulit: menaikkan harga BBM subsidi atau membiarkan defisit anggaran semakin melebar. Fahmy menekankan harga minyak dunia 100 dolar AS per barel akan menjadi titik kritis bagi pemerintah untuk mulai mempertimbangkan penyesuaian harga BBM subsidi.
"Kalau harga minyak dunia masih di bawah 100 dolar per barel, ya sebaiknya jangan dinaikkan (BBM subsidi). Saya kira APBN masih tahan untuk mensubsidi itu," kata Fahmy
Sementara untuk BBM non subsidi, Fahmy memprediksi otomatis akan mengalami kenaikan. Karena, harga patokannya mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia. Namun demikian, Fahmy mengingatkan hal itu akan memicu inflasi yang semakin melemahkan daya beli masyarakat.
Pemerintah cari sumber minyak lain
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan mencari sumber minyak lain di luar Teluk. Salah satunya Amerika Serikat. Ia mengatakan Pertamina sudah meneken MoU dengan Chevron dan Exxon Mobil untuk menjamin pasokan minyak nasional.
Mengenai potensi penyesuaian harga BBM domestik, Airlangga Hartarto mengakui bahwa konflik geopolitik, seperti perang Rusia-Ukraina, selalu memicu tren kenaikan harga energi.
Namun, ia optimis tekanan harga saat ini masih bisa diredam jika Amerika Serikat meningkatkan pasokannya dan negara-negara anggota OPEC bersedia menambah kapasitas produksi mereka.
Biaya logistik naik
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman mengatakan krisis ini bukan soal sumber minyak. Tapi juga soal biaya logistik yang naik gara-gara melonjaknya premi asuransi kapal.
“Secara cepat dirasakan adalah ongkos transportasi laut yang lebih mahal membuat biaya logistik nasional naik, padahal struktur harga barang di Indonesia sangat dipengaruhi biaya distribusi antarpulau,” kata Rizal dihubungi di Jakarta, Senin.
Struktur harga barang di Indonesia yang sangat bergantung pada biaya distribusi juga menurutnya dapat membuat harga bahan pangan, bahan baku industri, hingga barang konsumsi ikut naik meskipun produksi dalam negeri tidak terganggu.
“Inflasi domestik dalam konteks ini bukan disebabkan kelangkaan barang, melainkan mahalnya biaya mengangkut barang ke Indonesia dan mendistribusikannya di dalam negeri,” ujarnya.
Tambah subsidi BBM, pangkas anggaran MBG
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyarankan pemerintah untuk meningkatkan subsidi energi guna meredam dampak konflik ini ke ekonomi rakyat kecil. Ia mengatakan bahwa sudah hukumnya bahwa Subsidi BBM akan bertambah sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun untuk setiap kenaikan 1 dolar AS per barel.
Wijayanto menyarankan pemerintah memindahkan uang dari anggaran MBG untuk menambah subsidi BBM.
“Menaikkan subsidi adalah pilihan terbaik, realokasi dana dari Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dipertimbangkan,” tutur dia.