Suara.com - Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi terus mendorong penguatan ekosistem koperasi sebagai motor pemerataan ekonomi nasional. Melalui berbagai program pembiayaan dan inkubasi koperasi, LPDB Koperasi mengajak generasi muda untuk terlibat aktif membangun ekonomi berbasis gotong royong melalui koperasi.
Dengan semangat ini ditargetkan kedepan koperasi tidak idak lagi sekadar identik dengan koperasi simpan pinjam atau tempat pensiunan, LPDB Koperasi kini membidik Generasi Z dan Milenial, khususnya di sektor industri kreatif, digital, dan produksi, untuk menjadikan koperasi sebagai pusat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.
Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi, Deva Rachman dalam siniar Ramadan Spark menyatakan bahwa koperasi adalah kunci untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu merata jika tidak diimbangi dengan pemerataan ke seluruh lapisan masyarakat termasuk generasi muda.
"Saat ini rata-rata usia anggota koperasi di Indonesia adalah 55 tahun. Padahal, kita memiliki 147 juta generasi muda yang produktif. Ini adalah senjata rahasia Indonesia. Bayangkan jika para kreator digital, penulis lagu, pekerja kreatif, hingga production house bersatu membentuk koperasi. Kekuatan ekonomi yang tercipta akan luar biasa, mirip dengan model FC Barcelona yang sukses secara global melalui sistem koperasi," ujar Deva Rachman.
Untuk mendukung regenerasi ini, LPDB Koperasi yang berstatus sebagai Badan Layanan Umum (BLU) satuan kerja Kementerian Koperasi dan didukung penuh oleh Kementerian Keuangan menyediakan fasilitas pembiayaan yang sangat ramah dan jauh lebih murah dibandingkan lembaga perbankan.
Deva mengungkapkan, terdapat beberapa poin penting dan keistimewaan dalam Program Pinjaman atau Pembiayaan dana bergulir LPDB Koperasi.
Mulai dari tarif layanan yang terjangkau jika dibandingkan dengan perbankan baik dari sisi pinjaman pola konvensional maupun pola syariah.
"Kalau di perbankan rata-rata bunganya bisa sekitar 12 persen. Di LPDB Koperasi kita memberikan skema yang jauh lebih ramah bagi koperasi agar mereka bisa berkembang,” jelasnya.
Baca Juga: Pacu Daya Saing Investasi, Perusahaan RI Butuh Panduan untuk Eksekusi Strategi ESG
Kemudian, pembiayaan diberikan murni tanpa biaya provisi maupun biaya administrasi. Selain itu, pendanaan kini secara spesifik diarahkan pada koperasi sektor produktif.
Terdapat juga program Inkubator yang dijalankan oleh LPDB Koperasi bekerja sama dengan lembaga inkubator yang sukses menginkubasi hingga 220 koperasi per tahun agar siap naik kelas, akuntabel, dan mandiri secara digital.
Lebih lanjut, LPDB Koperasi juga menyoroti keberhasilan koperasi binaan yang telah mampu melakukan ekspor komoditas berskala internasional, seperti manggis dan nanas. Ke depannya, seiring dengan revisi undang-undang perkoperasian, pemerintah juga tengah mendorong agar koperasi dapat masuk ke sektor-sektor strategis yang selama ini dibatasi, seperti industri penyedia layanan kesehatan hingga penyelenggaraan Haji dan Umrah.
Langkah strategis lainnya adalah dukungan penuh terhadap inisiatif Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih, yang dibentuk melalui konsensus bersama masyarakat desa, kepala desa, dan tokoh adat.
"Indonesia memiliki bonus demografi yang sangat besar. Jika generasi mudanya mau kembali membangun ekonomi daerah melalui koperasi, maka desa bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru,” katanya.
LPDB Koperasi berharap program ini dapat menarik kembali anak muda yang selama ini merantau ke wilayah urban untuk pulang ke desa dan membangun ekosistem ekonomi yang kuat di daerah asalnya masing-masing.