- Kepadatan kendaraan terjadi di Pelabuhan Gilimanuk menuju Jawa, mendorong Kemenhub segera berkoordinasi mengatasi lonjakan volume.
- Kemenhub menambah armada kapal menjadi 35 unit dan menerapkan pola Tiba–Bongkar–Berangkat untuk percepatan layanan.
- Pengendalian lalu lintas diperkuat melalui penggunaan buffer zone terminal kargo dan optimalisasi UPPKB Cekik.
Suara.com - Kepadatan kendaraan menuju Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan volume kendaraan, terutama roda dua dan roda empat yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa, membuat antrean mengular di jalur menuju pelabuhan.
Merespons kondisi tersebut, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) langsung bergerak cepat dengan mengoptimalkan berbagai langkah untuk mengurai kepadatan di lapangan. Koordinasi intensif dilakukan bersama sejumlah pihak, mulai dari kepolisian, operator kapal, otoritas pelabuhan, hingga pemerintah daerah.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan, pemerintah berupaya memastikan layanan transportasi tetap berjalan lancar di tengah peningkatan arus kendaraan.
"Kementerian Perhubungan terus berupaya memastikan seluruh layanan transportasi dapat berjalan dengan aman, lancar, dan terkendali. Kami juga mendorong percepatan berbagai langkah operasional di lapangan untuk mempercepat penguraian kepadatan kendaraan dan penumpang di kawasan Gilimanuk, sehingga mobilitas masyarakat tetap terlayani dengan baik. Untuk meningkatkan efektifitas koordinasi saya telah memerintahkan Wakil Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Darat turun langsung ke Gilimanuk," ujar Menhub Dudy di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Sejumlah langkah strategis pun diterapkan untuk mempercepat arus penyeberangan. Salah satunya dengan menambah jumlah armada kapal yang beroperasi menjadi 35 unit, terdiri dari 28 kapal eksisting dan tambahan 7 kapal, dengan pola pelayanan delapan trip.
Rinciannya, sebanyak 19 kapal beroperasi di dermaga moveable bridge (MB), 11 kapal di dermaga landing craft machine (LCM), serta 4 kapal tambahan yang diperbantukan untuk meningkatkan kapasitas angkut.
Tak hanya menambah armada, Kemenhub juga menerapkan skema operasional Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB) guna mempercepat rotasi kapal, serta mempercepat proses bongkar muat kendaraan agar antrean bisa segera terurai.
"Pengaturan lalu lintas kendaraan juga diperkuat melalui pengoperasian buffer zone di terminal kargo Pelabuhan Gilimanuk serta optimalisasi fungsi UPPKB Cekik sebagai titik pengendalian kendaraan sebelum memasuki kawasan Pelabuhan," tambah Menhub.
Selain itu, pengendalian arus kendaraan juga diperkuat melalui buffer zone di terminal kargo Pelabuhan Gilimanuk serta optimalisasi fungsi UPPKB Cekik sebagai titik penyaringan sebelum kendaraan masuk ke kawasan pelabuhan.
Di sisi lain, kondisi cuaca di perairan Selat Bali terpantau mendukung aktivitas penyeberangan. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca berada dalam kondisi berawan dengan tinggi gelombang sekitar 1 meter, jarak pandang mencapai 10 kilometer, serta arus laut mengarah ke utara dengan kecepatan 2,5 knot.
Dengan kondisi cuaca yang relatif kondusif, pemerintah berharap upaya penguraian kepadatan di Pelabuhan Gilimanuk dapat berjalan lebih optimal dan mobilitas masyarakat tetap terjaga, terutama menjelang periode peningkatan pergerakan.