- Joko Widodo dijadwalkan mengunjungi Nusa Tenggara Timur pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026.
- Junaidin Mahasan menyatakan era kepemimpinan Jokowi berhasil mengubah paradigma pembangunan dari Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris.
- Pembangunan jalan, pelabuhan, dan program Tol Laut di NTT terbukti sukses memangkas hambatan geografis wilayah terluar.
Suara.com - Menjelang agenda kunjungan Presiden Ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026, rekam jejak pembangunan infrastruktur dan penguatan konektivitas di wilayah kepulauan tersebut kembali menjadi sorotan publik.
Sekretaris DPW PSI Nusa Tenggara Timur, Junaidin Mahasan, menyoroti bagaimana perubahan paradigma pembangunan kawasan timur Indonesia memberikan dampak nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
"Setiap kali nama beliau (Jokowi) kembali disebut, ingatan masyarakat NTT tentang legacy dan jejak pembangunan di NTT pun ikut muncul ke permukaan. Di era Bapak Jokowi, paradigma pembangunan bergeser dari Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris," kata Junaidin dalam keterangannya, Kamis (30/7/2026).
Transformasi pembangunan tersebut diwujudkan melalui sederet proyek strategis, mulai dari pembukaan akses jalan, pelabuhan, pengembangan destinasi pariwisata, hingga pengoperasian program Tol Laut.
"Bagi sebagian besar masyarakat NTT, perubahan paradigma itu bukan sekadar slogan. Masyarakat melihatnya melalui pembangunan infrastruktur, penguatan konektivitas, pembangunan jalan dan pelabuhan, pengembangan kawasan pariwisata, serta program Tol Laut. Tol Laut bukan sekadar kapal yang berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Tol Laut adalah simbol perubahan cara negara melihat NTT," ujarnya.
Kehadiran moda transportasi laut terpadu dinilai berhasil memangkas hambatan geografis yang selama ini mengisolasi wilayah perbatasan dan kepulauan di NTT.
"Laut yang dulu menjadi pemisah, perlahan diubah menjadi jalan. Jarak yang dulu menjadi hambatan, mulai diubah menjadi konektivitas. Dan pulau-pulau yang dulu terasa jauh, mulai dihubungkan dengan denyut pembangunan nasional,” jelasnya.
Progres pembangunan fisik di berbagai kawasan terluar merupakan bukti konkret dari kehadiran pemerintah pusat dalam meretas keterisolasian daerah.
"Karena itu, kalau ada yang hari ini mencoba mengecilkan arti pembangunan di NTT hanya karena alasan politik, saya ingin mengatakan, Silakan berbeda pilihan politik. Tetapi jangan menghapus fakta sejarah. Di era Bapak Jokowi, paradigma pembangunan bergeser dari Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris,” tegas Junaidin.
Konsep pembangunan yang merata hingga ke titik terluar Indonesia dinilai membentuk ikatan sosial yang kuat antara warga daerah dengan pimpinan nasional.
"Inilah makna Indonesia-sentris: negara hadir bukan hanya di pusat-pusat pertumbuhan, tetapi juga di wilayah perbatasan, kepulauan, dan pelosok yang selama ini menghadapi keterisolasian. Sehingga bagi sebagian masyarakat NTT, Bapak Jokowi bukan sekadar mantan Presiden. Beliau adalah sosok yang meninggalkan cerita, kebijakan, dan pembangunan yang masih dirasakan hingga hari ini,” jelasnya.
Kunjungan Jokowi ke NTT kali ini juga dinilai menjadi momentum untuk meninjau kembali arah kebijakan pembangunan kawasan timur yang telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir.
"Karena itu, ketika Bapak Jokowi datang kembali ke NTT, yang muncul bukan hanya nostalgia, tetapi juga memori kolektif masyarakat NTT tentang apa yang pernah dikerjakan dan apa yang masih menjadi legacy beliau,” ungkapnya.
Perhatian berkelanjutan terhadap infrastruktur dasar di wilayah timur Indonesia pada akhirnya membentuk hubungan emosional yang erat dengan masyarakat setempat.
"Bagi banyak masyarakat NTT, Pak Jokowi telah meninggalkan jejak. Dan jejak itu masih bisa dilihat, masih bisa dirasakan, dan masih menjadi bagian dari cerita pembangunan NTT. Maka ketika Pak Jokowi kembali datang ke NTT, jangan heran kalau masyarakat menyambut dengan hangat. Karena hubungan emosional antara Pak Jokowi dan masyarakat NTT tidak lahir kemarin sore. Hubungan itu dibangun melalui proses cukup lama, melalui perhatian, dan melalui kebijakan yang dirasakan masyarakat,” tutupnya.