- Eni Italia mengambil keputusan investasi akhir (FID) untuk proyek gas lepas pantai Gendalo-Gandang dan Geng North-Gehem di Kalimantan Timur.
- Investasi bernilai USD 15 miliar ini bertujuan tingkatkan produksi gas nasional, ditargetkan mulai berproduksi pada tahun 2028.
- Proyek ini mengoptimalkan infrastruktur eksisting, dengan total potensi 10 TCF gas serta kondensat untuk domestik dan ekspor.
Suara.com - Perusahaan minyak dan gas (migas) asal Italia, Eni mengambil keputusan Final Investment Decision (FID) atau investasi akhir untuk proyek gas lepas pantai Gendalo-Gandang (South Hub) dan Geng North-Gehem (North Hub) di Kalimantan Timur.
Keputusan ini tercapai dalam 18 bulan setelah persetujuan rencana pengembangan atau Plan of Development (POD) ) pada 2024, yang menandakan percepatan proyek gas laut dalam nasional.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menilai investasi ini sebagai bukti kepercayaan investor global terhadap iklim hulu migas Indonesia.
Dia menjelaskan, investasi ini juga penting untuk meningkatkan produksi gas nasional serta memperkuat ketahanan energi.
Djoko menambahkan bahwa SKK Migas dan pemerintah berkomitmen mempercepat proyek strategis serupa demi memberikan kontribusi maksimal bagi ekonomi dan masyarakat.

"Dengan investasi senilai USD 15 miliar, secara paralel Eni sedang menjalankan proses tender pengadaan barang dan jasa, serta telah membeli barang yang merupakan LLI (Long Lead Item). Kemarin Managing Director Eni Indonesia telah melaporkan kepada Bapak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang pengumuman FID ini," kata Djoko lewat keteranganya yang dikutip pada Rabu (18/3/2026).
Adapun proyek ini mengoptimalkan infrastruktur yang ada, termasuk Jangkrik FPU dan reaktivasi Train F kilang LNG Bontang, guna menekan biaya dan mempercepat komersialisasi.
Pengembangan Gendalo dan Gandang akan memiliki 7 sumur di kedalaman 1.000–1.800 meter, sementara North Hub mencakup 16 sumur di kedalaman 1.700–2.000 meter yang terhubung ke FPSO baru.
Dengan total potensi 10 TCF gas dan 550 juta barel kondensat, produksi ditargetkan mulai 2028 dan mencapai puncak pada 2029 dengan kapasitas 2 miliar kaki kubik gas per hari.
Gas akan dialirkan untuk kebutuhan domestik dan ekspor via LNG Bontang, sedangkan kondensat dikirim melalui kapal tanker dari fasilitas FPSO.