- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan penemuan sumber impor minyak mentah baru di luar Timur Tengah.
- Langkah ini diambil sebagai antisipasi gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik global dan konflik regional.
- Pemerintah memastikan stok BBM nasional berada dalam kondisi aman meskipun 20 persen impor masih dari Timur Tengah.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan pemerintah sudah menemukan pos impo minyak mentah baru di luar kawasan Timur Tengah sebagai langkah antisipasi ketidakpastian global.
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi dunia.
Bahlil menyebut, selama ini sekitar 20 persen impor minyak mentah Indonesia masih berasal dari kawasan Timur Tengah. Namun kini pemerintah mulai mencari pasokan lain.
"Bahwa impor crude (minyak mentah) kita dari Middle East itu 20 persen. Dan sekarang kami sudah menemukan sumber crude baru selain daripada Middle East. Tolong jangan tanyakan lagi dari mana. Yang jelas insyaallah semuanya ada ya," ujar Bahlil usai Rakor di Kantor Kementerian Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Ia menyebut, upaya mencari sumber baru tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu.
![Ilustrasi fasilitas minyak mentah. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/27/40584-harga-minyak-dunia-fasilitas-minyak-mentah.jpg)
Konflik geopolitik yang memanas, termasuk perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, dinilai meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dunia, terutama melalui jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz.
Dalam kondisi tersebut, Bahlil memastikan pemerintah terus berupaya menjaga ketersediaan energi nasional, termasuk melalui pengamanan pasokan dari berbagai sumber.
"Jadi stok-stok BBM kita, insyaallah dalam kondisi yang aman. Standar minimal memenuhi syarat," jelasnya.
Selain diversifikasi pasokan, pemerintah juga terus melakukan evaluasi terhadap kondisi energi nasional secara berkala untuk merespons perkembangan global yang sangat dinamis.
Lebih lanjut, Bahlil mengatakan, langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu kawasan dalam memenuhi kebutuhan energi, sekaligus memperkuat ketahanan energi di tengah tekanan global.
"Makanya dinamika ini kan kita akan ikuti. Jangankan ini, cepat sekali dinamikanya, bisa per minggu, bisa per bulan," pungkasnya.