- Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiasi perdamaian dengan Iran gagal, memicu lonjakan harga minyak global pada 11 Mei 2026.
- Ketegangan di Selat Hormuz menyebabkan gangguan distribusi serta hilangnya pasokan minyak sebesar satu miliar barel dalam dua bulan.
- Lonjakan harga energi memicu inflasi kebutuhan pokok dan menciptakan sentimen politik negatif bagi Donald Trump di Amerika Serikat.
Suara.com - Laju penguatan harga minyak mentah global kembali tidak terbendung pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026). Sentimen pasar mendadak berubah menjadi sangat agresif setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melontarkan pernyataan pesimistis mengenai kelanjutan negosiasi perdamaian dengan Iran.
Trump menggambarkan status gencatan senjata yang tengah berjalan saat ini sedang berada dalam kondisi "on life support" atau di ambang kematian.
Berdasarkan data pasar yang dihimpun dari Reuters, harga minyak mentah Brent melonjak sebesar US$ 2,92 atau sekitar 2,88% ke posisi US$ 104,21 per barel.
Tidak ketinggalan, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga menunjukkan tren serupa dengan penguatan US$ 2,65 atau 2,78% ke level US$ 98,07 per barel. Fluktuasi di tengah sesi bahkan sempat membawa Brent menyentuh angka psikologis US$ 105,99 per barel.
Tren kenaikan ini tampaknya masih memiliki napas panjang. Hingga Selasa (12/5/2026) pagi waktu Indonesia, Redaksi Suara.com memantau, harga minyak WTI terpantau masih merangkak naik 0,52% di posisi US$ 98,58, sementara minyak Brent terus melaju di angka US$ 104,84 per barel.
Lonjakan harga ini terjadi hanya sepekan setelah pasar sempat bernapas lega. Sebelumnya, kedua tolok ukur minyak tersebut sempat mengalami koreksi hingga 6% karena adanya secercah harapan dari konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan.
Namun, optimisme akan normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz seketika sirna setelah Trump menolak jawaban terbaru Iran atas proposal damai yang diajukan AS.
Trump secara tegas menyebut respons Iran sebagai sesuatu yang "tidak dapat diterima". Akibatnya, risiko penutupan total Selat Hormuz—yang merupakan urat nadi distribusi minyak dunia—kembali menjadi momok bagi para pelaku pasar.
Pergerakan ini mencerminkan betapa sensitifnya komoditas energi terhadap retorika politik di kawasan Timur Tengah.
Kelangkaan Pasokan dan "Dark Sailing" di Selat Hormuz
Di sisi fundamental, kondisi pasokan minyak dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Saudi Aramco melaporkan sebuah fakta yang mencengangkan: sekitar 1 miliar barel minyak telah hilang dari pasar global dalam dua bulan terakhir akibat konflik yang berkepanjangan.
Hilangnya volume sebesar itu membuat pemulihan pasokan diprediksi akan memakan waktu yang sangat lama, bahkan jika jalur pelayaran kembali dibuka secara normal dalam waktu dekat.
Kondisi keamanan di Selat Hormuz sendiri kian mencekam. Dilaporkan bahwa setidaknya tiga kapal tanker raksasa harus melintas di wilayah tersebut pada malam tadi dengan strategi "dark sailing"—mematikan radar, transponder, serta seluruh lampu navigasi—demi menghindari serangan.
Aktivitas ini semakin mempertebal ketidakpastian jalur distribusi energi di level internasional.
Sejalan dengan itu, data industri mencatat bahwa aliansi OPEC+ telah memangkas produksi ke level terendah dalam dua dekade terakhir pada April lalu.