- Analis Ibrahim memproyeksikan dolar AS menguat antara 99,30 hingga 101,60 akibat ketidakpastian dan tensi geopolitik global.
- Harga minyak mentah dunia, termasuk Brent Crude Oil, diprediksi naik karena gangguan pasokan global akibat konflik Timur Tengah dan Eropa.
- Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS, berpotensi mencapai level 17.100 karena eskalasi konflik dan risiko gangguan energi.
Suara.com - Analis Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan penguatan signifikan pada dolar Amerika Serikat dan harga minyak dunia dalam sepekan ke depan, di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.
Menurut Ibrahim, indeks dolar AS berpotensi bergerak dalam kisaran 99,30 hingga 101,60. Ia melihat adanya kecenderungan penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut seiring meningkatnya ketidakpastian global.
"Indeks dolar kemungkinan besar akan menguat dalam minggu ke depan, didorong oleh sentimen geopolitik dan kondisi ekonomi global," ujar Ibrahim dalam risetnya yang dikutip, Minggu (29/3/2026).
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia juga diproyeksikan mengalami kenaikan. Untuk crude oil yang diperdagangkan secara domestik, harga diperkirakan berada pada level support di 92,300 dolar AS per barel dan resistance di 112,200 dolar AS per barel.
![Investasi portofolio asing masuk (net inflows) sebesar 1,6 miliar dolar AS sejak awal tahun hingga 13 Februari 2026. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/19/18482-dolar-as.jpg)
Sementara itu, untuk Brent Crude Oil, yang sebelumnya ditutup di kisaran 112,000 dolar AS per barel, diproyeksikan bergerak di rentang 110,000 hingga 116,000 dolar AS per barel dalam sepekan mendatang.
"Pergerakan Brent menunjukkan potensi kenaikan yang cukup tajam, bahkan pada pekan berikutnya berpeluang menembus 125,000 dolar AS per barel," kata Ibrahim.
Ia menilai, penguatan harga minyak ini dipicu oleh terganggunya pasokan global akibat konflik di sejumlah wilayah, terutama di Timur Tengah dan Eropa Timur.
Dari sisi nilai tukar, Ibrahim memperkirakan rupiah akan mengalami tekanan dan berpotensi melemah hingga menyentuh level 17.100 per dolar AS dalam waktu dekat.
"Tekanan terhadap rupiah, lanjutnya, tidak lepas dari eskalasi konflik geopolitik, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel, serta meningkatnya risiko gangguan distribusi energi di jalur strategis seperti Selat Hormuz," katanya.
Selain itu, serangan terhadap instalasi minyak dan gas di Rusia oleh Ukraina juga berpotensi menekan produksi energi global.
"Gangguan pasokan ini berisiko menurunkan produksi minyak dan gas secara signifikan, termasuk dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi penopang utama pasokan energi dunia," jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Ibrahim menilai pasar keuangan global masih akan dibayangi volatilitas tinggi dalam jangka pendek, seiring ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.