Suara.com - Nama Lo Kheng Hong (LKH) telah lama menjadi ikon di dunia pasar modal Indonesia.
Dikenal secara luas sebagai "Warren Buffett Indonesia", reputasi LKH sebagai investor individu paling berpengaruh dibangun bukan dari kekayaan warisan, melainkan dari perjuangan panjang yang dimulai dari titik nol.
Dalam sesi berbagi di UNAS Festival 2025 yang digelar di Gedung Auditorium Universitas Nasional (UNAS) beberapa waktu lalu, investor berusia 66 tahun ini membagikan catatan perjalanan hidupnya.
Lo Kheng Hong mengisahkan bahwa selepas lulus SMA, keterbatasan ekonomi keluarga sempat menghambat langkahnya untuk langsung mengenyam pendidikan tinggi.
Karier profesional LKH dimulai pada tahun 1979 sebagai pegawai tata usaha di sebuah bank. Saat itu, ia hanya menerima upah bulanan sebesar Rp50.000.
Meski dengan penghasilan yang terbatas, semangat untuk maju tetap menyala. Ia memutuskan untuk kuliah di kelas malam Universitas Nasional demi meningkatkan kapasitas diri sembari tetap bekerja.
Selama 11 tahun bekerja di sektor perbankan, LKH mengaku tidak pernah mendapatkan kenaikan jabatan yang signifikan.
Hingga masa akhir kariernya di bank tersebut, gajinya hanya tumbuh secara perlahan dari Rp50.000 menjadi Rp350.000 per bulan.
Pengalaman hidup yang sederhana inilah yang kemudian membentuk mentalitas disiplin dan kesabaran dalam mengelola keuangan.
Lo Kheng Hong merupakan penganut teguh prinsip value investing. Strategi ini menitikberatkan pada pembelian saham perusahaan yang memiliki fundamental kuat namun harganya masih di bawah nilai wajar (undervalued).
Keberhasilannya mengumpulkan kekayaan dari pasar modal berakar pada kesabaran luar biasa untuk menyimpan saham dalam jangka panjang hingga pasar memberikan apresiasi yang setimpal.
Kini, portofolio investasi LKH mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari energi, manufaktur, media, hingga properti dan perbankan.
Ketajaman analisisnya menempatkan nama LKH sebagai salah satu pemegang saham besar di sejumlah emiten terkemuka di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Apakah Lo Kheng Hong Punya Saham BUMI?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul di kalangan pelaku pasar adalah mengenai keterlibatan LKH di PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Sebagai holding investasi batu bara raksasa yang dikendalikan oleh Grup Bakrie dan Grup Salim, BUMI selalu menjadi magnet perhatian pasar.
LKH mengonfirmasi bahwa ia memiliki sejarah panjang dengan saham BUMI. Ia pernah memiliki sekitar 1 miliar lembar saham BUMI dan sempat mengalami fase sulit saat harga saham BUMI anjlok ke level terendah atau "gocap" (Rp50) pada periode 2012-2016.
Namun, melalui strategi average down (menambah posisi saat harga turun), ia berhasil keluar dengan keuntungan besar saat harga saham BUMI kembali menyentuh level Rp500.

Berdasarkan data terkini, nama Lo Kheng Hong tidak lagi tercatat sebagai pemegang saham utama di BUMI. Fokus investasinya di sektor pertambangan kini lebih banyak dialihkan ke emiten lain, salah satunya PT ABM Investama Tbk (ABMM).
Portofolio Terkini Lo Kheng Hong
Saat ini, aset investasi LKH tersebar di berbagai perusahaan publik dengan profil bisnis yang beragam. Berikut adalah beberapa saham utama yang mengisi portofolio "Sang Maestro" tersebut:
- PT ABM Investama Tbk (ABMM): Fokus pada sektor energi dan jasa pertambangan terintegrasi.
- PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL): Produsen ban terbesar di Asia Tenggara yang menyasar pasar manufaktur global.
- PT Global Mediacom Tbk (BMTR): Holding media yang menaungi berbagai platform penyiaran dan konten digital.
- PT Intiland Development Tbk (DILD): Pengembang properti terkemuka dengan portofolio residensial dan komersial.
- PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP): Perusahaan perkebunan dan produsen minyak goreng terintegrasi.
Selain deretan saham di atas, LKH juga diketahui memiliki kepemilikan di sektor perbankan dan pembiayaan melalui emiten seperti PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN), serta PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP).
Keberagaman portofolio ini menunjukkan bahwa LKH tidak hanya terpaku pada satu industri, melainkan terus mencari peluang di mana pun nilai intrinsik perusahaan berada di atas harga pasarnya.
Desclaimer: Seluruh data mengenai portofolio dan riwayat investasi Lo Kheng Hong dalam artikel ini bersifat informatif berdasarkan update Januari 2026. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor masing-masing. Pembaca disarankan melakukan analisis fundamental dan teknikal secara mandiri serta berkonsultasi dengan ahli keuangan sebelum mengambil keputusan transaksi di bursa saham.
Kontributor : Rizqi Amalia