- Pemanasan global meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem; laju kenaikan suhu Bumi dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir.
- Kenaikan suhu memicu pencairan es kutub, menyebabkan permukaan laut naik dan meningkatkan frekuensi siklon serta banjir.
- Peningkatan suhu memperparah kondisi musim kemarau, berpotensi menyebabkan kekeringan yang menyulitkan sektor pertanian pangan.
Suara.com - Intensitas cuaca ekstrem kian sering melanda Indonesia maupun berbagai negara di dunia. Fenomena ini tidak terlepas dari laju pemanasan global yang meningkat hampir dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir.
Jika pada periode 1970–2015 suhu Bumi meningkat sekitar 0,2 derajat Celsius per dekade, dalam satu dekade terakhir angkanya melonjak menjadi 0,35 derajat Celsius per dekade—naik sekitar 75 persen.
Pakar klimatologi dari Fakultas Geografi UGM, Emilya Nurjani, menjelaskan peningkatan suhu Bumi akan berdampak pada mencairnya es di Kutub Utara. Kondisi ini memicu kenaikan volume air laut dan berpotensi mengurangi ketinggian wilayah dataran rendah.
“Jika suhu udara makin tinggi menyebabkan suhu muka laut meningkat, maka dampak lainnya adalah siklon yang akan lebih sering terjadi. Jika siklon meningkat, maka risiko banjir, angin kencang, dan perubahan kondisi cuaca ekstrem juga ikut meningkat,” ujar Emilya, Jumat (27/3/2026).
Ia menambahkan, faktor utama peningkatan suhu Bumi adalah pemanasan global yang dipicu penggunaan bahan bakar fosil. Emisi tersebut meningkatkan gas rumah kaca, sehingga radiasi matahari lebih banyak diserap daripada dipantulkan kembali ke atmosfer.
Kondisi ini membuat suhu permukaan Bumi semakin panas dan memicu peningkatan proses evaporasi dan transpirasi. Akibatnya, jumlah uap air di troposfer bertambah dan memperbesar potensi pembentukan awan.
Ketika pembentukan awan meningkat, intensitas hujan juga ikut naik. Curah hujan tinggi ini berisiko menimbulkan genangan hingga banjir di berbagai wilayah.
Namun di sisi lain, peningkatan suhu juga dapat memperpanjang musim kemarau. Hal ini berkaitan dengan pengaruh monsun Australia, yang membawa uap air dari selatan namun tidak banyak melewati wilayah Indonesia.
“Proses pembentukan awan pada saat musim kemarau menjadi berkurang sehingga kita mengalami musim kemarau yang lebih kering,” jelasnya.
Kondisi ini berdampak langsung pada sektor pangan. Suhu yang semakin tinggi berpotensi memicu kekeringan, yang menyulitkan petani, terutama dalam menentukan pola tanam.
“Petani akan sulit untuk menanam padi, terutama pada masa tanam ketiga,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Emilya mendorong penerapan regulatory harvesting, yakni upaya menangkap dan menyimpan air hujan, misalnya dari atap bangunan. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk lebih bijak dalam menggunakan air sesuai kebutuhan.
“Air digunakan sesuai fungsinya. Untuk kebutuhan domestik bisa menggunakan air tanah, sementara untuk kebutuhan lain bisa memanfaatkan air permukaan. Karena pada dasarnya air tanah juga berasal dari air hujan,” pungkasnya.