- Harga plastik naik akibat gangguan pasokan global, menekan biaya produksi industri.
- Dampak berpotensi menjalar ke konsumen melalui kenaikan harga barang dan penurunan daya beli.
- Industri mulai beralih ke model reuse dan refill untuk mengurangi ketergantungan pada plastik baru.
Suara.com - Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir menjadi sinyal baru tekanan ekonomi yang tak bisa diabaikan. Bukan hanya industri, dampaknya kini mulai mengarah langsung ke konsumen.
Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan bahan baku global yang berdampak pada ketersediaan dan distribusi plastik di pasar. Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat dan berpotensi menggerus margin pelaku usaha.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan kenaikan harga plastik terjadi akibat terganggunya pasokan bahan baku di tingkat global.
"Plastik itu luar biasa naiknya. Tadi ada yang mengadu kepada saya dari Kalimantan Barat mau beli gabah, karungnya enggak ada. Karena karungnya dari plastik," ujarnya di Jakarta, Seperti dikutip, Rabu (8/7/2026).

Tekanan ini dirasakan luas karena plastik merupakan komoditas antara yang menopang berbagai sektor industri, mulai dari makanan dan minuman hingga manufaktur.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai dampaknya tidak berhenti di level produsen.
Menurutnya, kenaikan biaya produksi sangat mungkin diteruskan ke harga jual produk, yang pada akhirnya membebani konsumen.
Di sisi lain, pelaku usaha, termasuk sektor usaha kecil dan menengah (UMKM), mulai merasakan tekanan serius. Kenaikan harga bahan baku kemasan berpotensi memangkas keuntungan jika tidak diimbangi dengan penyesuaian harga.
Situasi ini mendorong pelaku industri untuk mulai mengevaluasi ketergantungan terhadap plastik baru. Model bisnis berbasis produksi sekali pakai (single-use) dinilai semakin rentan terhadap gejolak global.
Sebagai respons, sejumlah pelaku usaha mulai beralih ke pendekatan yang lebih efisien seperti penggunaan ulang (reuse) dan isi ulang (refill).
Salah satu contohnya datang dari PT Biru Semesta Abadi melalui layanan Air Minum Biru yang mengandalkan sistem isi ulang.
"Dalam kondisi seperti sekarang, ketahanan sistem menjadi semakin penting. Kami sejak awal membangun model bisnis yang meminimalkan ketergantungan pada plastik baru, sehingga lebih adaptif terhadap perubahan di rantai pasok," ujar Direktur PT Biru Semesta Abadi, Yantje Wongso.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memperkuat stabilitas operasional bisnis di tengah fluktuasi harga bahan baku.
"Ketika pasokan dan harga menjadi tidak pasti, sistem yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya akan menjadi keunggulan. Reuse dan refill bukan hanya alternatif, tapi bagian dari solusi jangka panjang," tambahnya.