- Menteri Perdagangan menyatakan kenaikan harga Minyakita disebabkan oleh keterbatasan stok akibat skema DMO yang memang berbeda dari komersial.
- Masyarakat keliru menganggap Minyakita sebagai indikator tunggal kelangkaan minyak goreng, padahal stok jenis lain masih tersedia melimpah.
- Pedagang di pasar tradisional Jakarta kesulitan mendapatkan pasokan Minyakita sehingga menjual produk tersebut jauh melampaui harga eceran tertinggi.
Sementara di kios lainnya, tersedia Minyakita ukuran 1 liter. Pedagang bernama Rahman menjualnya dengan harga Rp20 ribu, masih lebih tinggi dari HET.
"Rp 20.000 Minyakita. Tinggal ini doang stoknya," jelasnya.
Menurutnya, stok Minyakita sudah sulit didapatkan dalam satu bulan terakhir. Karena itu, ia lebih memilih fokus menjual produk minyak lain lantaran perbedaan harganya tak terlalu jauh.
"Dari abis lebaran (sulit dapat Minyakita)," ungkapnya.
Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan mengatakan pedagang di pasar memang sudah lama tidak bisa menjual Minyakita sesuai atau di bawah HET.
"Sesuai janji Menteri Perdagangan ternyata gagal di buktikan. Sementara penyaluran distribusi minyakita melalui SP2KP tidak berjalan dengan optimal. Coba buktikan wilayah mana yang minyakita sudah menyentuh Rp15,700 semuanya melambung tinggi. Kalaupun ada semuanya di atas HET," pungkasnya.