Hitung-hitungan Harga Wajar Pertamax, Benarkah Bisa Tembus Rp17.000 per Liter?

Achmad Fauzi

Rabu, 22 April 2026 | 15:46 WIB
Hitung-hitungan Harga Wajar Pertamax, Benarkah Bisa Tembus Rp17.000 per Liter?
Harga BBM Pertamax belum mengalami kenaikan setelah harga BBM Turbo melonjal. [Gemini AI].
baca 10 detik
  • SPBU Pertamina dan swasta resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo dan Dexlite secara nasional.
  • Harga BBM nonsubsidi dihitung berdasarkan Kepmen ESDM Nomor 62 Tahun 2022 yang mencakup harga minyak dunia.
  • Pengamat energi menyatakan kenaikan harga Pertamax berpotensi memicu migrasi konsumen kelas menengah ke BBM jenis Pertalite.

Suara.com - Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai merangkak naik setelah sempat ditahan selama dua pekan. Baik SPBU milik Pertamina maupun swasta kompak menyesuaikan harga, meski belum berlaku untuk semua jenis BBM.

Kenaikan Harga BBM saat ini baru terjadi pada produk tertentu seperti Pertamax Turbo dan Dexlite. Harga Pertamax Turbo kini berada di level Rp19.400 per liter, sementara Dexlite mencapai Rp22.450 per liter.

Namun, harga Pertamax yang menjadi BBM favorit masyarakat kelas menengah masih belum berubah. Hal ini memunculkan pertanyaan di publik: kapan harga Pertamax naik dan berapa sebenarnya harga wajarnya?

Bagaimana Formula Harga BBM Dihitung?

Harga Pertamax turun menjadi Rp11.800 per liter dari sebelumnya Rp12.350 per liter. Mulai berlaku hari ini 1 Februari 2026. [Antara]
Harga Pertamax masih belum alami kenaikan [Antara]

Pemerintah sebenarnya telah menetapkan formula harga BBM nonsubsidi melalui regulasi resmi. Mengacu pada Kepmen ESDM Nomor 62 Tahun 2022, harga BBM ditentukan dari beberapa komponen utama.

Empat faktor utama pembentuk harga BBM meliputi:

  • Harga minyak mentah (ICP)
  • Margin badan usaha
  • Pajak (PPN dan PBBKB)
  • Biaya distribusi
  • Kurs dolar AS

Karena mengikuti harga minyak dunia, harga BBM nonsubsidi sangat sensitif terhadap gejolak global. Perhitungannya pun tidak dilakukan harian, melainkan dievaluasi setiap bulan.

Simulasi Harga Pertamax

Berdasarkan data perhitungan yang sempat beredar, harga BBM nonsubsidi berpotensi mengalami lonjakan signifikan.

baca juga

Secara gambaran saja, dalam perhitungan dari data itu, terdapat acuan yang digunakan Pertamina mulai dari 25 Februari 2025-24 Maret 2026.

Beberapa indikator yang digunakan antara lain:

  • Nilai tukar rupiah melemah dari Rp16.819 menjadi Rp16.877 per dolar AS
  • Harga bensin (gasoline) melonjak 62,44 persen menjadi 120,06 dolar AS per barel
  • Harga solar (gasoil) naik 90,65 persen menjadi 166,31 dolar AS per barel

Dari acuan indikator tersebut, harga keekonomian Pertamax diperkirakan bisa mencapai Rp 17.850 per liter atau naik sekitar Rp 5.550 per liter dari harga saat ini.

Harga itu sudah bersih setelah ditambahkan, harga dasar + PPN 11 persen + PBBKB.

Meski begitu, pihak Pertamina telah memastikan bahwa data tersebut tidak benar alias hoaks, sehingga belum tentu mencerminkan kebijakan resmi.

Dampak Jika Harga Pertamax Naik

Ilustrasi petugas SPBU tengah melayani pelanggan yang membeli Pertamax Series. [Dok Pertamina]
Ilustrasi petugas SPBU tengah melayani pelanggan yang membeli Pertamax Series. [Dok Pertamina]

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai kenaikan harga Pertamax akan berdampak luas terhadap perilaku konsumen. Salah satunya, banyak orang yang tadinya memang pelanggan Pertamax akan beralih.

Menurutnya, kenaikan harga Pertamax memang lebih berbahaya dibanding kenaikan harga BBM Pertamax Turbo. Karena rata-rata konsumen harga BBM Pertamax Turbo merupakan orang-orang berduit.

"Kalau misalnya Pertamax ini dinaikkan Pertalite tetap Rp 10.000, disparitas harganya kan semakin tinggi. Nah, dengan disparitas harganya semakin tinggi, untuk konsumen pertama yang kelas menengah itu ya, atau bahkan sepeda motor itu ya, ini akan bisa pindah ke Pertalite,"katanya saat dihubungi Suara.com.

Ia juga menilai, harga keekonomian di kisaran Rp17.000 per liter masih mungkin terjadi jika harga minyak dunia tetap tinggi.

"Karena variable yang diperhitungkan itu harga minyak dunia, modal inflasi, dan kos rupiah. Nah dengan variable tadi ya mungkin saja Rp17.000 itu harga ekonominya. Kalau sekarang dijual Rp 12.300," ucapnya.

Namun demikian, Fahmy menyarankan agar harga Pertamax tidak dinaikkan demi menjaga stabilitas konsumsi masyarakat.

"Kalau menurut saya lebih baik jangan dinaikkan itu ya, karena tadi ada tujuan untuk mencegah migrasi tadi," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perkuat Ketahanan Ekonomi Keluarga, Pertamina Sebar 118 Ribu Paket Sembako

Perkuat Ketahanan Ekonomi Keluarga, Pertamina Sebar 118 Ribu Paket Sembako

Bisnis | Rabu, 22 April 2026 | 14:23 WIB

Tanpa Subsidi Harga Pertalite Capai Rp16.000 per Liter

Tanpa Subsidi Harga Pertalite Capai Rp16.000 per Liter

Bisnis | Selasa, 21 April 2026 | 17:29 WIB

PPN Jalan Tol dan Harga BBM Naik: Mengapa Napas Kelas Menengah RI Semakin Sesak?

PPN Jalan Tol dan Harga BBM Naik: Mengapa Napas Kelas Menengah RI Semakin Sesak?

Bisnis | Selasa, 21 April 2026 | 12:07 WIB

Terkini

Temui Menkeu Suahasil, Pramono Tentukan Nasib Obligasi Jakarta

Temui Menkeu Suahasil, Pramono Tentukan Nasib Obligasi Jakarta

News | Senin, 26 Oktober 2026 | 11:32 WIB

Bebas Kering! Ini 5 Body Lotion Alpukat untuk Kulit Halus dan Terhidrasi

Bebas Kering! Ini 5 Body Lotion Alpukat untuk Kulit Halus dan Terhidrasi

Your Say | Senin, 26 Oktober 2026 | 11:30 WIB

Anak Sulit Fokus Belajar Jangan Langsung Dicap Malas, Studi Terbaru Sarankan Periksa Mata dan Jiwa

Anak Sulit Fokus Belajar Jangan Langsung Dicap Malas, Studi Terbaru Sarankan Periksa Mata dan Jiwa

Health | Senin, 26 Oktober 2026 | 11:28 WIB

Amerika Evakuasi Diplomat dari Arab Saudi Usai Bandara Riyadh Dihantam Rudal Houthi

Amerika Evakuasi Diplomat dari Arab Saudi Usai Bandara Riyadh Dihantam Rudal Houthi

News | Senin, 26 Oktober 2026 | 11:22 WIB

4 Rekomendasi Serial Baru di Netflix Minggu Ini: Ada Lupin Season 4

4 Rekomendasi Serial Baru di Netflix Minggu Ini: Ada Lupin Season 4

Your Say | Senin, 26 Oktober 2026 | 11:20 WIB

Piala Dunia U-15 2026: Indonesia Imbang Lawan Bangladesh, Portugal dan Wales di Atas Garuda Muda

Piala Dunia U-15 2026: Indonesia Imbang Lawan Bangladesh, Portugal dan Wales di Atas Garuda Muda

Bola | Senin, 26 Oktober 2026 | 11:19 WIB

Saat Pengobatan Anak Mengharuskan Keluarga Jauh dari Rumah, Dukungan Jadi Kekuatan

Saat Pengobatan Anak Mengharuskan Keluarga Jauh dari Rumah, Dukungan Jadi Kekuatan

Health | Senin, 26 Oktober 2026 | 11:18 WIB

Kolaborasi Ortuseight dan Pokmon Hadirkan Sepatu dengan Desain Anti-Mainstream

Kolaborasi Ortuseight dan Pokmon Hadirkan Sepatu dengan Desain Anti-Mainstream

Lifestyle | Senin, 26 Oktober 2026 | 11:18 WIB

Ubah Area Parkir Jadi Ruang Publik, Sanur Dorong Jalan Ramah Anak

Ubah Area Parkir Jadi Ruang Publik, Sanur Dorong Jalan Ramah Anak

Lifestyle | Senin, 26 Oktober 2026 | 11:15 WIB

Bahasa Indonesia untuk Gen Z: Bertahan di Tengah Gempuran Istilah Nyeleneh

Bahasa Indonesia untuk Gen Z: Bertahan di Tengah Gempuran Istilah Nyeleneh

Your Say | Senin, 26 Oktober 2026 | 11:15 WIB

×